10 10 10

Sial. Sial. Sial. Pengen nya tanggal 10 bulan 10 tahun 10 kemarin ada sesuatu yang membuat gue gembira. Ternyata malah dapat sial sampai sekarang. Aku gak tau kesialan apa yang akan terjadi setelah gue keluar dari mesjid kampus ini. Apakah gue akan tertabrak truck? Apakah gue dipukuli orang sekampung karena gue udah ngambil ayam tetangga? Atau gue bakal dapat keberuntungan yang tertunda. Apakah gue dapat uang 10 juta? Apakah mamah tiba-tiba ada di Banjarmasin?? Hanya Allah yang tahu.

Kemarin gue ikut jalan santai. Capek. Beneran. Capek saat gue nunggu undian. Gue gak suka. Gue benar-benar sial. Panas-panasan beberapa jam gak dapat apa-apa. Kalo tau gak dapat undian, gue bakal pulang, lalu ikut seminar yang udah mulai jam setengah 9 pagi. Tapi semua telah terjadi. Gue harus nunggu teman gue yang kepengen sekali dapetin laptop. Yah. Semua berujung sia-sia. Kita pulang dengan tangan kosong. Sekali lagi, kita pulang dengan TANGAN KOSONG. Pulang sekitar jam 12. Nganter teman gue dulu ke kostnya. Terus, kita mesti buru-buru siap untuk ikutan seminar di aula seberang pantai jodoh (lupa nama aulanya). Gue buru-buru pulang kerumah. Mandi, kan bau habis jalan santai. Terus siap-siap. Tidak lupa juga timpukin ni muka pake baby powder. Gue berangkat lagi. Gue pengen menjalaninya dengan santai kayak biasanya. Tapi gue udah terlanjur capek. Gue gak semangat lagi. Gue harus ikut, demi materi, sertifikat, dan makan siangnya. Pagi tadi gue cuma makan mie. Gue lapar. Gue langsung berangkat. Gue jemput teman gue dulu. Eh, sesampainya dikost nya. Orang adzan dzuhur. Ah, shalat dulu ah. Gue shalat di langgar sana. Setelah shalat, kita bergegas menuju aula. Di jalan macet. Aduuh. Tapi berujung dengan selamat. Tepat sekali. Kami datang, acara makan-makan. Wah. Tepat neh. Gue ikutin acara nya dengan hikmat. Setelah acara selesai. Gue dapat sertifikat (horay. cuman datang, duduk sebentar, makan, pulang dapat sertifikat). Tapi sayang, kali ini gak bersama Hifnie. Salah satu sahabat gue. Tapi pulang dari acara itu, kami ke rumah Hifni. Ada yang rencana yang mau dilaksanakan. Tapi rencana itu gagal. Kita pulang dengan tangan kosong lagi. Nganter dia lagi ke kostnya. Sesampainya dikostnya. Gue dapet sms dari sahabat gue.
“Har, ambili aku pang. Aku di pal 6 nah me’antar kakaku ke BTL. Tumat lagi berangkat. Ku kada wani sorangan”
Gue bingung. Gue capek. Ah, demi sahabat, gue rela jemput dia. Gue bergegas shalat di langgar dekat kost Wita. Kebetulan gue ma Wita ada yang dicari. Gue ajak ajjah. Dia mau. Kita berangkat. Hampir maghrib. Gue meningkatkan kecepatan seperti gue sedang gila. Gue harus bisa menjalani hari ini dengan semangat. Gue jemput sahabat gue di terminal pal 6. Kita ketemu. Kita balik. Gue ngajak sahabat gue ke DM dulu. Ada yang mau dicari. Dia gak mau. Pengen pulang dulu katanya. Ya udah. Gue sekalian pengen tau rumahnya. Kita pun menuju rumahnya dibelakang STIKES M Banjarmasin. Kita numpang shalat maghrib. Selesai. Kita pengen ke DM dulu. Eh, sahabat gue titip sesuatu. Kita belikan aja. Ah. Gue capek. Seharian full. Ini sebenarnya hari apa sih? Minggu atau Selasa sih? Hari libur kok gini. Ya udah. Pulang. Sebenarnya gue males nulis, gue capek. Apalagi ketimpa sial hari ini. Kemarin seharian dan hampir semalaman bersama sahabat, Wita. Sayang Hifnie gak ikut. Di ajak ikut seminar gak mau. Ya udah. Kita ketemu cuma saat jalan santai dan pulang dari seminar.

Gue ceritain kesialan hari ini. Bangun pagi mata gue masih merah. Gue masih capek. Serasa pengen bolos kuliah. Tapi niat pengen kuliah sangat besar. Jam 5 bangun. Masih santai. Jam 6 bergegas shalat. Lalu siap-siap. Kuliah seperti biasa. Eh, ternyata Wita pengen ke kampus jam setengah 10, sekalian nagih hutang. Wah, gak beruang lagi deh gue, jadi kanker. Dompet basah, kantong kering. Sekalian minta temenin ke perpustakaan buat balikin buku yang udah kelewat tanggal peminjaman. Denda deh. Ternyata Wita dkk ngerjakan tugas kelompok juga di perpustakaan. Dan ada kejadian menarik waktu itu. Gak bisa gue ceritain. Tapi gue akan selalu ingat saat melihat tiga orang itu. Satu yang pengen gue ceritain. Gue dapat musuh perdana. Gue gak pernah berkelahi. Gue gak mau ngotorin tangan gue yang bersih ini untuk memukul menonjok orang. Setidaknya suatu pertikaian diselesaikan dengan damai. Baru kali ini ada orang yang masih gak paham dengan apa yang gue katakan. Mencari masalah yang gak jelas asal-usulnya. Cuma masalah cinta, gue jadi masuk ke dalamnya. Satu hal lagi. Gue gak nyangka Wita bakal nangis. Nangis gak jelas. Bukan kayak Naruto dan Sasuke bertengkar di atas gedung rumah sakit, terus Sakura menangis. Dia menghalang-halangi mereka yang mau berbuat tidak baik ke gue sambil menangis. Belum pernah ada orang kayak dia. Yang pernah menangis untuk gue cuma si anu yang pengen meminta maaf ke gue. Dan yang kedua dia. Oh ya. Mungkin karena tangisan itu gue aman. Satu kemungkinan terburuk yang gue bayangkan. Gue dikeroyok, lalu gue lapor ke pihak berwajib dan berkata
“Apa Salahku??”
Aduuh. Sial ini membunuhku. Ada bahan buat ngatain Wita, haa. Nangis adalah kata terbaik, haa.

APA SALAHKU?? MUNGKIN BEBERAPA KESIALAN INI AKAN DISUSUL OLEH BEBERAPA KEBERUNTUNG ESOK NANTI.

One thought on “10 10 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s