Mamah

APA SALAHKU?
Perenungan gue shubuh ini. Gue merasa gak punya sahabat lagi. Gak punya saudara lagi. Sebatang kara. Gue nangis didalam kamar yang masih gelap. Cuma ada suara adzan shubuh yang berkumandang tanpa ada sahabat ataupun saudara yang menyuruh gue shalat. Gue hanya tiduran sementara air mata masih bercucuran. Gue gak tahan disini. Mah, maafin Haris yang udah ngecewain mamah. Mah, Haris pengen pulang. Mah, Haris lagi sakit. Haris pengen dipangkuan mamah aja.

Teringat saat mamah selalu nyuruh gue shalat. Teringat saat mamah nyuruh gue cepat makan. Teringat saat mamah nyuruh gue mandi. Teringat saat pagi hari gue nyium tangan mamah ketika mau berangkat sekolah. Teringat saat mamah membolehkan gue pacaran. Teringat saat mamah panas-panasan ke pasar, sementara gue gak mau nganterin mamah ke pasar. Teringat saat mamah bercucuran keringat motongin rumput-rumput sekitar rumah. Teringat saat terakhir pulang, lalu mamah bertanya,
“Haris udah makan belum?”
“Belum mah,”
“Mamah masakin dulu yah”
Perhatian-perhatian itu gak gue rasakan lagi saat gue di Banjarmasin.

Maaf teman. Bukannya gue pelit, tapi gue lagi nabung. Gue berusaha meminimalkan pengeluaran gue sebisa mungkin. Tapi kalian jangan kayak gitu donk ma gue. Masak nasi. Lalu makan berdua. Nasi dihabiskan. Gak ada rasa kasihan pada temanmu yang belum makan ini ya? Atau sisakan sedikit sebagai rasa terima kasih kalian kepada pemilik rice cooker ini. Gue mau bawa tu rice cooker ke kamar, lalu gue bawa beras sendiri, tapi gue gak tega kalo kalian cuma makan beras. Saat gue yang masak nasi, pasti kalian ikutan makan. Ayolah, salah seorang dari kalian beli rice cooker. Gue udah berusaha untuk berhemat, makan cuma pake telur. Tapi sekarang? Masa cuma makan telur tanpa nasi?

Semua kayaknya pengen membunuhku secara perlahan. Seandainya waktu bisa diputar, gue pengen ada dimasa kecil. Dimana saat mamah dan papah selalu ada disamping gue. Dimana saat mamah dan papah selalu perhati’in gue. Tapi itu gak mungkin terjadi. Gue hanya berharap cobaan ini berakhir. Gue nantikan saat seorang perempuan muncul dengan cahaya terang. Dia adalah pengganti mamah papah gue. Pengganti adik gue. Pengganti sahabat gue. Pengganti teman gue. Perhatian ma gue. Bisa nemenin gue. Saat gue sedih, dia bisa membuat gue gembira. Saat gue gembira, dia bisa membuat gue sangat gembira. Kepercayaanmu takkan ku sia-sia kan. Kalian udah banyak mengeluarkan uang cuma untuk anakmu yang pengen kuliah ini. Berjuta-juta. Padahal kita cuma orang yang pas-pasan.

Saat pulang nanti, gue mau melihat mamah tersenyum melihat gue. Mamah bangga dengan gue. Kata-kata yang keluar dari mulut mamah,
“kok anak mamah yang bodoh itu bisa jadi guru yah?”
Okay mah. Gue gak bakal nyerah. Setidaknya saat kembali ke pangkuanmu udah membawa gelar Sarjana Pendidikan. Gue gak mau ngecewain mamah. Haris bakal berusaha semampunya. Terima kasih atas bantuan mamah selama ini.

One thought on “Mamah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s