Motivator

Gue capek. Apa yang terjadi? Nobody know.

Udah lama gue gak update. Hampir setengah bulan gak ada kabar burung. Kemanakah burung yang membawa kabar itu pergi? Padahal banyak sekali kabar-kabar terbaru. Mungkin yang punya burung lagi sibuk pacaran belajar.

Belajar?? Loe aja kali, gue enggak!! Emank dari dulu gue gak suka ma yang namanya belajar. Talk less, Lazy more. Seakan hidup gue dipenuhi kemalasan berupa game, jalan-jalan gak karuan, ngomongin makhluk Tuhan yang tidak berdosa, dan juga membunuh para manusia yang lewat didepan rumah. Kemalasan gue berawal dari didikan orang tua gue yang gak mengharuskan gue belajar, tapi gue harus pintar (narsis). Yah, awalnya sih emank berhasil. Di taman kanak-kanak jadi murid terbaik. Waktu masih di bangku sekolah dasar, gue bisa selalu ranking tanpa belajar. Selanjutnya di sekolah menengah pertama kalau harus pintar tanpa belajar emank sulit. Masuk 10 besar aja udah untung. Di akhir tahun, sempat dinobatkan sebagai satu dari 10 murid terbaik matematika. Murid yang dilatih khusus agar bisa mendapatkan nilai sempurna di ujian akhir nanti. Kayaknya cuma sekolah gue yang punya program seperti itu. Alhasil gue gak bisa mendapatkan nilai sempurna. Beranjak kelulusan dari sekolah menengah pertama itu, gue lanjut ke sekolah menengah atas. Kayaknya makin sulit aja buat jadi pintar. Kepintaran gue gak diakui lagi. Semakin sulit pelajaran tanpi dipelajari ulang. Nilai-nilai pun makin anjlok. Gue tetap berusaha tegar. Gue melanjutkan ke universitas negeri yang ada di Kalimantan Selatan. Terima kasih kepada yang udah memotivasi gue. Ibu Isnawati selaku guru matematika gue waktu kelas 7 dan 8 sekolah menengah pertama yang selalu membanggakan gue seakan-akan gue adalah anak emas. Bapa Widy selaku guru matematika gue waktu kelas 9 sekolah menengah pertama yang mulai ragu akan kehebatan matematika gue dan selalu ngetest gue dikelas. Tapi gue berhasil masuk 10 besar dengan test yang tidaklah sulit, kalo gak salah masih ada buku les pagi itu dirumah. Gue kangen masa kejayaan gue. Bapa Saryono selaku guru komputer gue waktu duduk di sekolah menengah pertama yang selalu memotivasi gue agar gue mengikuti jejak beliau sebagai ahli komputer. Tapi gue gak bisa masuk Ilmu Komputer jalur SMUT. Dan di jalur SNMPTN pun gue gak masuk, gue terdampar di Pendidikan Matematika. Ibu Novia selaku guru matematika gue waktu kelas X sekolah menengah atas yang memunculkan kepercayaan baru setelah kepercayaan itu mulai turun oleh bapa Widy. Ibu Hartati selaku guru matematika gue waktu kelas XI dan XII sekolah menengah atas yang memudarkan kepercayaan gue untuk kedua kalinya. Beliau selalu membanggakan murid lain yang lebih hebat matematika daripada gue. Gue tetap yakin gue bisa. Gue terus berjuang tanpa belajar. Alhasil, cuma gue yang berhasil masuk Pendidikan Matematika dari SMA Negeri 1 Pelaihari jalur SNMPTN 2010. Sedangkan murid kebanggakan beliau masuk Pendidikan Fisika. Dan yang satunya lagi, si jenius yang gue ragukan lagi, AMG. Oh ya, satu lagi. Bapa Tiyo selaku guru biologi kelas X dan XII sekolah menengah atas yang selalu memotivasi anak murid beliau. Guru yang takkan terlupakan sepanjang hidup. Beliau telah meletakkan angka 13 sebagai ranking gue di akhir semester. Angka sial yang beliau sulap menjadi angka keberuntungan untuk gue. Kata terakhir beliau,
“Haris mau melanjutkan kemana?”
“Gak tau pak.”
“Haris mau jadi apa??”
“Masih gak tau pak, belum jelas, hee”
“Ya udah, asal Haris gak nikah aja.” sambil tersenyum.
Terima kasih buat semua guru yang telah memotivasi gue. Sekarang teman-teman gue. Fikri dari AMG yang selalu bisa membuat gue gila bareng. Teman yang duduk di samping gue ini benar-benar jenius. Memberikan gue inspirasi yang tinggi. Halisa dari Ilmu Keperawatan STIKES M Banjarmasin yang selalu ada jika membutuhkan dan tidak ada jika dibutuhkan. Dini dari Ilmu Kebidanan POLTEKES Banjarbaru yang selalu bersama Halisa. Kami bertiga selalu bersama di akhir-akhir kisah persahabatan Pelaihari. Selama yang lain sibuk dengan universitas yang pengen digapai, kita bertiga masih bisa tertawa lebar tanpa mempermasalahkannya. Ricka dari Ilmu Psikologi UNLAM Banjarbaru yang selalu bersama gue di malam ujian nasional. Gila bareng bersama buku Detik-Detik UN. Rizqi dari XI IPA3 SMA Negeri 1 Pelaihari yang selalu memotivasi agar jadi guru pada masa-masa itu. Dan buat teman-teman lain yang gak bisa gue sebutkan satu-persatu. Sebenarnya bukan ini yang pengen gue ceritakan. Okay. Next post gue cerita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s