Semuanya Akan Indah pada Waktunya

Assalamualaikum wr wb. Langsung cerita

“Har, mau ikut ke Banjarbaru?”
“Kalo nebeng, aku mau.”
“Oh. Ntar aku tanyain ma Faisal. Kalo dia bisa bawa kendaraan sendiri, ntar kamu nebeng aku deh”
“Oke!”

Ya. Itulah sedikit perbincangan ku dengan Madan sepulang kuliah. Setelah di kampus habis di babat sama Middle Test Kalkulus II. Kemarin malam gak belajar, SERIUS! Cuma main game. Untung waktu test dilaksanakan ada sedikit keajaiban.

Sepulang kuliah kan biasanya aku sama teman makan siang di cafe campus tuh. Nama nya SBC Unlam. Seperti biasa, makan siang, ngerumpi. Saat itu kami merencanakan pengen pergi ke mall, Duta Mall, sebuah Mall terkenal di Banjarmasin. Udah lama kami gak ke Duta Mall bareng. Terakhir kapan ya? Mungkin saat nemenin Tiya. Yang acara apa tuh, Tiya si SheilaGank di undang dalam acara tersebut. Jadi aku dan Radith nemenin Tiya sama pacarnya ke Duta Mall.

Kembali ke cerita. Deal. Kami akan berangkat saat Radith telah berhasil mendapatkan siput *jangan tanya*. Pulang. Sesampainya di rumah, Madan ngajak ke Banjarbaru. Kalo jadi, aku batalkan acara ke Duta Mall. Sore hari, setelah aku bangun dari tidur siangku. Eh, Faisal dan Madan telah tiada. Mereka telah berangkat saat aku tertidur lelap. So, acara malam ini HARUS jadi !

Hampir senja, masih bingung jadi atau batal ke Duta Mall nya. Kata Giegie harus on time setelah shalat Maghrib. Si Radith belum dapat siput. Si Nurul minta jemput. Rumah aku jauh, bensin sekarat, jadi gak bisa jemput. Aku sudah siap. Tapi acara masih antara jadi dan batal. PENDING. Acara malam ini di PENDING dulu, soalnya si Nurul gak mau dijemput *mungkin merajuk*, si Radith gak dapat siput. Giegie gak mau berdua aja. Tapi aku tetap keras kepala agar acara itu tetap berjalan *kesepian*. Skip. Akhirnya mengadakan acara lain. Makan mie ayam sama bakso, ditraktir *makasiiih ya Radith*. Acara jam 9 tepat ditutup *jam kos*. Semua bubar. Aku tetap berkeliaran di jalanan. Kalo aku pulang, aku akan sendirian, kesepian, dan GALAU. Tak ada tempat yang bisa disinggahi. Soalnya gak ada pacar. Gak bisa numpang makan. Cukup bosan dengan jalanan yang tak ada habisnya orang lalu-lalang, akhirnya pulang juga.

Bangun agak telat. Jam setengah 8 udah siap. Aku kira bakal telat. Eh ternyata kata Tiya masuk jam 9. Hari ini dapat sedikit pengetahuan tentang angka nol. 0! = 1. Pulang kuliah gak makan siang. Hari ini gak ngumpul. Giegie gak ngambil mata kuliah Sejarah Matematika. Radith masuk siang. Nurul terpisah saat keluar kelas. Tiya gak bisa, katanya ada yang mau diselesaikan, PENTING!
Aku pulang. Sesampainya di rumah.
“Loh, ada apa Dan?” *Madan memperbaiki kabel listrik*
“Ini Har, tadi meletup. Udah 2 kali. Aku coba ganti kepalanya.”
“Ohh”

*Madan selesai*
“Ini Har, kamu coba colokin ke sana”
“Oke”
*tak trak tack tuck truck*
Langsung keluar percikan api. Meletup. Dan akhirnya mati. Ini masalah sekring. Di rumah juga pernah. Rumah di Pelaihari, kampung halaman.

“Siaal,” kata Madan.
“Sok bisa kamu Dan, yang dibelakang aja belum baik.” ujar Faisal.
“Gara-gara kita nonton video porno Sal”
“Kamu juga sih gak pernah shalat, maka nya tambah sial” sambung ku.

Shit. Listrik mati. Faisal sama sekali cuek.
“Aku kan sore ini pulang ke Pelaihari” kata Faisal.

Madan sangat khawatir, tapi hanya bisa khawatir dengan kata-kata. Tidak ada usaha. Cuma main gitar.

Menyangkut masa depan. Masa tinggal di rumah tanpa listrik? Sudah sekitar sebulan mandi dan masak tanpa lampu. Masa sekarang ditambah tanpa listrik?

Aku langsung stress. Gimana? Aduuh. Aku langsung sms papa, karena aku tau papa bisa di andalkan pada saat seperti ini. Beberapa alat elektronik bisa diperbaiki papa, beberapa lainnya malah tambah rusak parah, Contohnya mobil remote control aku😦 .

Baterai sekarat. Aku sms teman. Mau numpang charge. Rencananya mau kabur. Mau menghilangkan stress. Ahh, aku lagi stress. Gak bisa santai di rumah teman. Kalo aku gak bertindak, hanya akan memperburuk suasana. Faisal hanya cuek bebek akan kejadian seperti ini, sedangkan Madan selalu berencana tapi tak terlaksanakan karena kemalasannya.

Shit. Listrik mati. Aku membayangkan hari-hari ku tanpa listrik. Lebih menyakitkan daripada menjomblo. Sms aku gak dibalas papa. Akhirnya nelpon papa dalam keadaan beterai sekarat. Berharap tidak mati. Aku nyuruh papa datang ke Banjarmasin, tapi kata papa lebih baik minta tolong sama PLN aja langsung. Ya udah. Aku langsung bicara sama Madan.
“Dan, kita ke kantor PLN, minta tolong perbaiki listrik”
“Ntar aja” *soalnya Madan janji mau nanggung biaya kerusakan ini*
“Sekarang aja Dan”
“Gak punya uang”
“Gampang!”
Aku paksa Madan, akhirnya mau. Berangkat ke kantor PLN. Aku bicara sama petugas PLN nya. Oke sip. Akhirnya kami pulang. Beberapa saat petugas itu datang ke rumah. Diperbaiki. Eh, ternyata gak bayar. Cuma dicatat no rekening listrik. Kayak nya tegihan bulan depan akan besar. Dan akhirnya Madan gak jadi menanggung semua kerusakan.

Listrik sudah nyala, tapi hati aku masih belum nyala😦

Aku sudah tidak betah dengan kelakuan teman satu rumah. Sepengetahuan ku, Faisal gak pernah cuci piring. Dia egois, dia malas.

“Dan, shalat Dan!”
“Ntar aja kalo ke mesjid”
Atau
“Dan, shalat Dan!”
“Sia-sia aja kalo shalat gak khusyuk”
“Yang penting kan kita wajib menjalankan perintah-Nya, masalah diterima atau tidak itu urusannya”

Seringkali Madan dan Faisal berbicara masalah bibir. Sampai pernah bicara seperti ini,
“Ntar aku bawa cewek ke rumah waktu hujan. Pake jas hujan. Jadi gak keliatan. Gak mungkin di grebek tetangga”
Aku langsung angkat bicara
“Khayalan tingkat tinggi. SUDAH SIAP MASUK NERAKA KAH?”

Januari lalu kontrak rumah berakhir. Sebelum memperpanjang kontrak rumah rumah, aku bicara sama papa dan mama.
“Aku mau pindah aja. Gak betah di rumah. Nginap sama tante aja deh. Kan jauhnya hampir sama aja.”
“Jangan! Ntar malah ngerepotin. Papa juga gak enak sama mereka. Perpanjang kontrak aja dulu”

Sangat stress. Tapi tetap terlihat tegar. Sering curhat sama Lisa tentang kelakuan teman satu rumah ku. Eh, dia yang malah cerai sama teman satu rumah nya. Lisa semangatin aku. Lisa menyuruh aku agar tetap sabar, tabah. Sering juga curhat sama mantan aku, Wita *waktu itu pacar*. Sedikit membuat hati ini lega. Beberapa teman sudah banyak yang tidak betah dengan tempat tinggal pertamanya. Lisa. Terus Ibnu, dulunya di Kayutangi 2 dan sekarang di Simpang Gusti. Ada 3 teman dari Banjarbaru yang telah bercerai.

Tunggu sampai habis kontrak Agustus nanti. Tempat yang bisa aku tempati.
1. Satu kamar sendiri
2. Tidak ada syarat tertentu *seperti kos*

Sudah ada bayang-bayang saat aku tidak bersama mereka lagi. Gak ada kata, “Har, tolong anukan ini” *nunjuk monitor laptop* “Har, ini gimana??” Aku juga gak perlu capek ngurusin rumah. Buka jendela tiap pagi. Tutup jendela tiap sore. Nyapu lantai tiap hari. Kayak nya rumah ini akan sangat kotor dengan debu dan tanah bekas jejak sepatu yang masuk rumah, masuk kamar juga. Tapi kayak nya gak mungkin. Mereka juga manusia. Mereka punya hati. Mereka juga pasti ingin bersih. Lupakan tentang pindah tempat tinggal. Ini hanya masalah waktu. Semuanya akan indah pada waktunya.

Wassalamualaikum wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s