Kebohongan Terhadap Diri Sendiri

Assalamualaikum wr.wb

Saat sedang asyik main ps, suara mama menggema,
“Haris! Shalat dulu!”
“Iya, ma”
Tapi tetap main ps. Tiba-tiba layar monitor tv mati. Ternyata mama nyabut colokannya secara paksa. Aku langsung ngibrit ke belakang buat wudhu. Setelah itu ke kamar dan shalat. Shalat ashar yang ku kerjakan cuma dua raka’at. Lalu kembali ke depan layar tv dan main ps lagi.

Ya, itulah salah kebohongan terhadap diriku sendiri. Ashar yang empat raka’at jadi dua raka’at. Aku berpikir, kenapa gak usah shalat aja sekalian? Mungkin aku masih takut sama neraka. Seringkali aku menangis sendirian di kamar dan dalam pikiranku mengaum, “Aku banyak dosa. Aku masuk neraka! Aku masuk neraka!”

Kembali ke kebohongan. Aku memang pembohong. Seringkali aku membohongi teman. Tapi beberapa menit kemudian aku nyengir dan berkata, “Maaf, aku bohong😛 ” . Tapi aku sama sekali tak mau lagi membohongi diri sendiri. Kalau aku memang bisa, aku akan berkata bisa. Kalau aku setengah bisa, aku akan berkata tidak bisa. Apalagi kalau aku benar-benar tidak bisa, sudah pasti aku akan berkata tidak bisa.

Kadang kebohongan juga terdapat dalam kisah cintaku. Mulanya cinta adalah hal yang tabu buatku. Tapi semenjak aku melihat suatu ketulusan cinta dan sebaliknya, aku mulai memahaminya. Kebalikan dari ketulusan cinta itu bisa juga aku sebut sebagai kebohongan cinta. Katanya dia cinta, tapi tidak dalam kenyataannya, cuma katanya. Apakah layak disebut kebohongan? Aku pikir iya.

Aku juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau aku masih mengharapkannya. Yup, my Ex. Mereka tau, sahabat ku tau, teman-temanku tau. Walaupun beberapa dari mereka tidak mengenal dia, contohnya teman sekelasku, tapi mereka tau dia my Ex. Bahkan tau namanya. Lupakan. Tidak penting.

Oke, cinta. Kata teman aku, menyatakan perasaan dan nembak itu beda. Benar! Aku sudah mempraktikkannya. Aku berusaha tidak membohongi diri sendiri dan aku jujur mengatakannya *ehm*. Forget it!

Itu adalah sedikit contoh dari usahaku untuk tidak membohongi diri sendiri. So, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih mau bersifat sok bisa? dan ketika kamu disuruh mempraktikkannya, kamu akan malu besar. Kenapa tidak jujur dari awal? Toh, kamu tidak akan merasa malu ketika kamu disuruh mempraktikkannya dan tidak bisa.

Kebohongan. Kebohongan terhadap diri sendiri. Aku akan berusaha tidak membohongi diri sendiri lagi. DIRI SENDIRI. BERUSAHA!

Sedikit tambahan, aku tidak bisa bohong. Sekarang aku sedang sendirian dan aku sedang merenung. Sedang mengingat masa jaya ku. Saat dia memegang tanganku erat. Sebenarnya dia bisa melepaskannya tapi dia tidak melepasnya. Saat dia merelakan hidungnya untuk ku cubit. Sebenarnya dia bisa saja menghindarinya tapi dia tidak mau.

Awalnya kami memang tidak dekat. Tidak mengenal satu sama lain. Tak terkira dia mengenal aku mulai dia duduk di kelas 5 sd. Saat itu aku masih kelas 1 smp, masih sangat cupu, serius! Sampai akhirnya dekat di sma dan berpacaran. Semakin dekat, dekat, dekat, dan sangat dekat. Tapi kami makhluk beragama, kami punya tuhan. Bersyukur aku bukan orang biadab.

Satu kejadian yang selalu terkenang. Aku cium dia. Aku jelaskan lagi, aku bukan orang BIADAB. Saat itu aku akan pergi ke ibukota provinsi untuk mengejar masa depanku. Test masuk perguruan tinggi. Sebelum keberangkatan, sempat-sempatnya nge-date. Sore itu, aku cium kerudung hitamnya. Eh, dia respon cium tangan aku. Kayak suami isteri aja, serius!

“Qi, antar aku ke rumah sampai Rafiq lah?”
“Kada handak, kena tetamu Ibu.”
“Ayoo Qi, antarkan. Mun sudah sampai di muka rumahnya, bulik ja.”
“Ayja”
Rafiq adalah teman yang nebeng aku ke ibukota provinsi untuk mengikuti test juga. Sedangkan mama Rafiq adalah guru SD dimana Qiqi dulu bersekolah. Sesampainya dirumah Rafiq, dia pulang tanpa penghormatan.

Langsung terjadi perbincangan dengan Rafiq dan mama Rafiq yang udah nongkrong teras rumah.
“Kayaknya ibu kenal sama cewek tadi, itu Rizqi yaa?”
“Iya bu”
“Haris pacaran sama Rizqi yaa?”
“Iya bu”, sambil nyengir
“Wah, kelas berat Haris eh. Itu kan sulit didapatkan, paling pintar di SD, rajin shalat, berkelakuan sangat baik. Bla bla bla”
Oke, yang terakhir sangat lebay.

Memang aneh. Sesulit itukah orang pintar dipacari? Aku pikir memang dia yang tidak mau pacaran sampai akhirnya menemukanku, si orang polos yang bisa digaet lalu dijadikan pajangan kamar.

Aku trauma nembak cewek, serius! Terakhir pacaran, nembak cewek dan akhirnya apa yang terjadi? Tak perlu dibahas. Pacaran yang dulu, dulu selalu ditembak *sombong*. Tapi malah aku yang menyalahgunakannya, seperti pulsa gratis, makan gratis. Maafkan aku😦 . Mungkin karma berlaku.

Sekarang bukan waktunya melihat berapa banyak pacar yang sudah didapat? Sekarang seberapa hebat fungsinya dia sebagai seorang pacar. Aseeek😀

Kok jadi curhat?

Wassalamualaikum wr.wb

One thought on “Kebohongan Terhadap Diri Sendiri

  1. Bagi yang mengaku sebagai pemBISNIS ONLINE

    Kecilkan angka kegagalan Anda, dengan membuka mata tentang kompetisi sesungguhnya dalam dunia bisnis di internet.
    Dan bagaimana System yang benar-benar menguntungkan dengan menerapkan Revolusioner Reseller Strategi untuk meningkatkan Produktivitas dan melipatgandakan Penghasilan Bisnis Anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s