Sangat Sakit, Bahkan untuk Hatiku

Assalamualaikum wr.wb

Argh! Ini sakit. Sakit. Cuma sakit kepala. Tapi sangat sakit. Nasib sebagai seseorang tanpa kekasih, tidak mendapatkan perhatian khusus. Nasib. Berusaha tetap tegar.

Oke. Kemarin teman aku datang. Teman satu kelas di SMA dulu yang sekarang kuliah di Jawa entah dimana, Fikri. Katanya mau nginap dirumah untuk beberapa minggu. Entah apa tujuannya aku juga tidak tau. Dia memang begitu, tidak pernah beres kalau bicara sama dia. Sehingga profile tentang dirinya seolah-olah tidak diketahui walau oleh teman dekatnya.

Fikri. Anak Tanjung yang lama menetap di Pelaihari. Walau lama menetap di Pelaihari, dia tetap menggunakan logat Tanjung nya yang khas itu. Mulai berteman denganku di kelas XI. Dan sangat akrab di kelas XII, karena sering duduk bersebelahan. Dia, dia sama seperti aku, pemalas. Dia, dia sama seperti aku, suka matematika. Kalau ibu memberi soal, seringkali kami bertarung untuk menjawab soal tersebut, siapa cepat dia menang. Aku akui, dia seringkali menang, tanpa celah. Dia juga suka pelajaran berbau hapalan seperti sejarah, sementara aku membenci pelajaran seperti itu. Dia jenius. Hampir hebat dalam segala pelajaran. Oya, ada satu persamaan lagi, kami suka main mig33 waktu belajar di sekolah. Walau sambil chatting, kami tetap paham apa yang dijelaskan guru. Setidaknya kami masih bisa menjawab beberapa soal ataupun pertanyaan yang dilontarkan oleh guru. Enjoy it guy.

Dia datang. Semenjak beberapa bulan menghilang dari pandangan. Aku jemput dia di depan kampusku pada rabu sore. Dia langsung ngajak makan dan ditraktir. Malamnya, beli stick karena stick usb nya tidak bisa di install di laptopku. Sekalian minjam helm dan beli makan, ditraktir lagi. Dan akhirnya, lupakan. Oya, waktu jalan malam itu, belum jauh dari rumah, eh ban bocor. Gak bisa ditambal dan harus diganti. Dia lagi yang bayarin, padahal cukup mahal kan? Terus teman aku yang nitip makanan waktu aku jalan sama dia juga dibayarin. Terus hari ini, dibayarin.

Tulisan kali ini tidak beraturan. Sebenarnya kepala ini sudah tidak sanggup menanggung sakitnya. Lanjutkan.

Beli stick, main PES. Sampai larut malam. Selesai main, aku nonton “Detective Conan the Movie” dan “The Turnament” yang baru saja aku copy darinya. Puas. Aku tidur dan harus bangun besok pagi untuk kuliah. Besok test. Akhirnya terbangun agak kesiangan, jam 7. Itu pun mata masih sakit. Sangat sakit. Tapi aku harus tetap kuliah. Sampai dirumah, baru terasa kepalaku nyut-nyutan. Aku memang tidak bisa kalau berlama-lama di depan komputer. Menghasilakan efek samping yang cukup berat.

Tidak tahan dan keinginan untuk menulis sudah hilang.

Pesan untuk hari ini, terimakasih karena telah membuatku berhenti berharap. Tidak jodoh. Selamat untukmu. Menghapakanmu, hanya membuatku semakin sakit. Terima kasih. Semoga akan cepat berlalu.

Bukan itu pesannya woy. Sekali lagi, ambil sisi positifnya. Aku akan berusaha kelihatan sehat walau sakit. Aku akan berusaha kelihatan riang gembira walau sebenarnya aku kesepian. Aku akan tetap berdiri.

Eh, satu kamar berdua itu pengap. Tidak bebas. Berantakan. Padahal aku sering cemburu ketika mendengar mereka bercanda tawa di kamar sebelah. Nyatanya salah. Tetap lebih nyaman sendiri. Mandiri.

Wassalamualaikum wr.wb

One thought on “Sangat Sakit, Bahkan untuk Hatiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s