Abaikan

Assalamualaikum wr.wb

Sebelumnya mohon maaf. Disini aku sebagai Haris, bukan sebagai pengacara. Jadi aku akan berusaha adil-adilnya, tidak memihak siapapun. Apaan ini? Bego!

Seperti biasa aja. Mau curhat masalah cinta neh. Jangan, jangan. Lain kali aja. Lagi malas ah.

Oya, aku ada cerita. Tentang hari ini ya. Malam tai ke Duta Mall bareng Giegie, Rina, dan Radith. Gak penting, abaikan. Pagi-pagi, aku sms si Arief, “Kapan belajar bareng?” Sekitar jam 9 kurang 15. Kan besok masih ada UAS. The Last Final Test! Owaw. Arief balas, “Agak siangan”. Yasudah, aku sms ke teman yang lain kalau belajar bareng agak siangan. Akhirnya aku tetap tiduran di tempat tidur nonton Detective Conan di lappy. Sekitar jam 9 lewat 20, Arief sms, “Kalau mau belajar bareng, bisa datang sekarang!” Argh, nanggung. Masih nonton. Belum mandi. Ehh, kalau menurut Arief jam 9.20 itu siang ya? Abaikan.

Masih nonton. Jam 9.45, Giegie sms, “Ris, temani ke kampus mau ketemu sama bu Fajriah”. Langsung aku bikin sarapan, lalu mandi. Oya, sebelumnya aku sms si Uya, ngajakin dia ikut belajar bareng di rumah Arief. Kan rencananya aku yang jemput dia. Oke, oke. Lanjut ke cerita, jam 9.40 jemput Giegie, ke kampus. Semantara si Hifnie aku suruh jemput Uya. Di kampus, ketemu sama Edwin, si Koordinator Tingkat. Kebetulan ada yang mau dibicarakan. Masalah foto bareng sekelasan sebelum beberapa orang akan minggat dari Matematika. Oya, satu lagi, masalah liburan semester ini. Katanya mau ke Bajuin.

Next. Ke ruang dosen. Si Giegie yang ada urusan, aku yang disuruh ke ruang dosen nyari bu Fajriah. Pakai celana jeans, pakai sandal pula. Ini toh calon guru? Jangan ditiru ya. Aku masuk ke ruang dosen, dan dia nunggu di tangga, yuy. Ebuset, banyak orang. Kayaknya pada ngurus skripsi. Ibu Mastinah lagi kosong, tanya sama beliau, “Bu Mastinah! Bu Fajriah ada?”. “Bu Fajriah di kantor S2. Eh, ada apa nyari bu Fajriah?” “Ini bu, kawan ulun mau transfer.” dan bla bla bla, sampai aku tanya “Bu, Nilai Kalkulus 2 gimana?” “Dari beberapa yang ibu liat, GASWAAT!” Serius, ibu Mastinah ngomong gitu. Kenapa aku nanya itu? Karena tepat saat itu, aku liat tumpukan kertas hasil jawaban Kalkulus 2 kemarin. Gak kepikiran, kenapa tadi aku gak minta izin buat liat nilai ku. Yasudahlah. Next. Ke kantor S2. Baru pertama kali kesini. Kesannya, owaw. Kantor atau . . . Abaikan. Masuk, naik ke lantai 2. Sampai di atas, berpikir. Ini mana ruang bu Fajriah? Giegie nunjuk, coba liat yang ini. Aku liat, wow benar! Bu Fajriah ada di dalam. Tapi Giegie menjauh, aku pun langsung berputar arah. Sudah berpandangan sama bu Fajriah sekilas, malu kalau gak jadi. Tapi Giegie berubah pikiran. Gak mau masuk. Nanti aja. Aku terus paksa Giegie, “Ayo Gie, nanggung”. Yasudah, Giegie tetap gak mau. Akhirnya ke rumah Arief, kasian yang lain udah nunggu lama. Sampai di rumah Arief, eh cuma ada si Uya, Hifnie, dan tau rumah, si Arief. Mana Radith, Tiya, dan Iqbal? Biarin. Dan akhirnya, Giegie yang gak ada urusan dengan kami pun mau pulang. Aku suruh aja bawa kendaraan aku, ntar aku ambil ke rumahnya, ehh sekalian minta isikan bensin sama dia.

Next. Iqbal datang. Tiya datang. “Tiya, mana Radith?” “Masih dandan” Ngek. Tentang belajar gak perlu diceritakan ya. Sudah biasa kan kalau kumpul pasti nge-gosip. Atau saling ejek. Dan lagi-lagi si Tiya yang kena. Lagi -lagi suasana berubah setelah si Tiya terdiam. Tutup buku, dan agak menjauh dari kami. Kasian. Sangat kasian. Ingin rasanya berkata, “Ya, jangan seperti itu Ya. Maklumi saja Ya. Mereka cuma bercanda.” Tapi aku tak mau mengatakannya, takutnya cuma disangka sok baik, atau cari perhatian, atau apalah. Terlalu. Bercanda mereka sudah kelewatan. Kan sudah tau si Tiya sifatnya seperti itu. Aku mungkin akan merasa sakit ketika jadi Tiya. Aku juga manusia, aku punya hati. Satu-satunya saat dimana aku bersikap seperti Tiya adalah ketika aku terserang Maag. Tidak bisa banyak kata, hanya bisa berharap seorang malaikat yang memberi perhatian, “Kenapa Har? Sakit ya?” Sayangnya itu hanya mimpiku. Oya, kasian Tiya, yasudah, abaikan.

Next. Tiya pulang agak cepat. Dan kami shalat Ashar. Ngakak. Saat shalat Ashar, Iqbal jadi imam, Hifnie jadi makmum. Aku agak telat. Masuk ke barisan. Arief telat satu rakaat, masuk ke barisan. Uya telat dua rakaat, masuk barisan. Ngakak. Saat tahiyat akhir, kan yang telat masih duduk tahiyat awal. Eh, si Arief duduk tahiyat akhir. Sementara aku kan gak telat sampai satu rakaat. Si Uya benar posisi duduknya. Setelah selesai, aku, Iqbal, Hifnie melakukan rukun shalat yang ke-12, salam. Ehh, Arief ikutan salam. Setelah liat si Uya berdiri membayar sisanya, Arief akhirnya berdiri pula. Ngakak abis. Serius. Tapi aku masih jaga perasaan Arief. Berharap Arief gak main ke blog aku, bakalan GASWAAT! Emang belum pernah diajarin ya? Aku memang bukan orang alim, tapi setidaknya aku tau yang seperti itu. Bukannya sok alim atau apa, sebagai orang Islam, wajib tau yang begituan. Setidaknya dasar-dasar Islam. Abaikan lagi.

Habis Maghrib kerumah Giegie ngambil kendaraan. Pas dirumah Giegie, dia cerita, “Kata Selfi, bu Fajriah sore tadi berangkat ke Surabaya. Ketika pulang dari kampus, langsung bersiap dan berangkat.” Tu kan, menyesal kan? Sudah aku paksa. Tinggal beberapa langkah menemui bu Fajriah. Tapi yasudahlah. Semuanya telah terjadi.

Oya, habis Isya. Adik aku sms. “Ujian sudah habis lah? Kapan libur?” Mungkin disuruh mama atau bapa. Jarang-jarang aku dapat perhatian. Jangankan di telpon, di sms pun jarang. Waktu mau pulang, aku sering sms. “Pa, hari ini pulang ke Pelaihari”. Without respon. Waktu mau balas, eh di telpon, gak sengaja aku reject. Aku langsung telpon balik. “Assalamualaikum” Terdengar suara anak kecil perempuan yang aku sebut itu adik. Bla bla bla. Sekarang giliran ayah. “Masih ujian?” “Besok masih ada, terakhir, mungkin besok siang balik, tapi Sabtu mau jalan sama teman. Kayaknya Jumat balik lagi.” “Gimana ujiannya? Gak sulit kan?” “Ya begitulah” “Yaa, cuma itu aja.” Yup. Kata terakhir Ayah. Tak terdengar suara ibu dan adik kecilku. Mereka gak pernah bertanya berapa IP ku. Bahkan kalau aku beritau, “Pa, mau tau berapa IP ku?” “IP itu apa Ris?”. Yang mereka tau, “Ini buat makan! 30ribu sehari” Mereka tak pernah menghiraukan bagaimana bensin aku? Bagaimana pulsa aku? Bagaimana buku kuliah aku? Dengan berbagai cara, aku berusaha meminjam buku dari kaka tingkat tanpa menghiraukan apa yang terjadi pada masa depanku nanti. Abaikan.

Kayaknya tulisan ini sudah terlalu panjang. Sudahi sampai disini. Wassalamualaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s