Dari yang Mengasikkan hingga yang Membosankan

Assalamualaikum wr.wb

Aku baru sadar ternyata hidup itu membosankan. Bangun, beraktivitas, makan, tidur, bangun lagi, beraktivitas lagi, makan lagi, tidur lagi, sampai berulang-ulang kali.

Mari berbicara tentang kehidupan. Bukan cinta, serius! Oke, mungkin ada sedikit.

Sadarkah kalian? Kehidupan masa lalu ternyata lebih mengasikkan. Pahami. Bagaimana masa kecil kalian? Mengasikkan bukan? Apakah kalian merindukan masa-masa itu. Dimulai dari Taman Kanak-Kanak. Betapa mengasikkannya masa-masa bermain itu. Lanjut ke Sekolah Dasar, tetap saja bermain tanpa menghiraukan apa kewajibanmu sebenarnya. Lalu ke Sekolah Menengah. Sudah mengenal arti belajar. Walau masih bisa dikatakan bermain sambil belajar. Sekolah Menengah Atas adalah puncaknya, ada tantangan kecil dalam menjalani kehidupan sehingga kehidupan terasa mengasikkan. Apakah kalian merindukan saat itu. Jujur, aku merindukan kehidupan tanpa beban itu. Sekarang sudah berada di Perguruan Tinggi. Aku dituntut sepenuhnya untuk belajar. Sehingga kadang waktu bermain pun tak ada. Bertahap. Ternyata kehidupan itu semakin lama semakin membosankan. Suatu hari aku akan menjadi Pekerja. Aku rasa, masa itu akan lebih membosankan lagi daripada Kuliah. Setelah itu akan datang masa tua. Masa yang menuntut untuk terdiam kaku dirumah menunggu malaikat maut menjemput. Itu akan lebih membosankan dari masa menjadi seorang Pekerja. Sudah aku bilang, hidup itu bertahap. Dari yang mengasikkan, sampai paling membosankan.

Satu hal yang mungkin tidak kalian pikir. Sudahkah kalian bersyukur? Sudahkah kalian berterima kasih? Kalian bisa merasakan asiknya dunia yang fana ini. Beberapa orang tidak bisa merasakan asiknya masa kecil, masa Taman Kanak-Kanak, masa Sekolah Dasar. Sedari kecil mereka menjadi seorang Pekerja. Sudahkan kalian bersyukur? Sudahkah kalian berterima kasih? Masih banyak orang yang tidak bisa merasakan masa bermain. Ketika kita sedang asik bermain, mereka hanya bisa melihat kita kejauhan dan terduduk di kursi roda. Ya, dia lumpuh, dia cacat. Sudahkah kalian bersyukur? Sudahkah kalian berterima kasih? Tidak sedikit orang yang bisa melihat dunia fana itu. Entah mereka buta. Ataupun karena orang tua mereka yang lebih bejat dari hewan. Sebelum melihat dunia, mereka sudah dibunuh. Mari bersyukur kepada-Nya. Mari berterima kasih kepada-Nya atas kehidupan yang sudah diberikan-Nya.

Begitu pula cinta. Ada tahapan-tahapan juga. Teman aku pernah bilang, “Masa PDKT adalah masa yang paling mengasikkan”. Aku resapi kata-katanya. Kupahami perlahan-lahan. Yap. Aku tau, aku tau apa yang dia maksudkan. Saat PDKT banyak tantangan yang kita peroleh, sehingga membuat itu mengasikkan. Setelah pacaran, semuanya jadi biasa saja. Ibarat game, “Mission Complete”. Tidak ada musuh lagi, tidak ada misi lagi, akan membuat game jadi membosankan. PDKT adalah masa mengasikkan. Dimana kita akan bersaing dengan banyak orang. Lanjut, pacaran. Cukup mengasikkan pula, tapi tidak seperti PDKT yang mempunyai tantangan tersendiri. Kalau kita tidak bisa menyikapinya, maka pacaran akan jadi masa yang membosakan. Next, menikah. Sekarang jadi lebih membosakan. Kita akan dituntut menjadi seorang suami, menjadi seorang isteri, menjadi seorang ayah, menjadi seorang ibu. Adegan seperti cium tangan akan berkurang, bahkan mungkin tidak ada lagi. Perkataan “I Love You” tidak menggema lagi, bukan pada saat pacaran yang akan menggema setiap waktu. Ternyata perjalanan cinta juga punya tahapan-tapahan dari yang mengasikkan hingga membosankan.

TK -> SD -> SMP -> SMA -> Perguruan Tinggi -> Bekerja -> Masa tua

PDKT -> Pacaran -> Menikah

Digantung sama dengan menunggu. Kata orang, menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Bagaimana supaya tidak membosankan? Jangan ditunggu, iya gak? Bagaimana supaya tidak menunggu? Jangan digantung dong. Apasih. Paragraf yang ini gak nyambung. Abaikan.

*Tulisan ini cuma untuk memberi sugesti kepada diriku sendiri bahwa PDKT lebih mengasikkan daripada pacaran. Oya, jangan lupa pesanku. Bersyukur dan berterima kasih.

Sekian. Wassalamualaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s