Ga Asik Ah

Assalamulaikum wr.wb

Mari bercerita lagi. Tadi masalah RAT. Sekarang masalah kejadian kemarin. Ga asik ah.

Dimulai dari hari Sabtu. Sabtu pagi menjelang siang, keluarga dari Barabai datang ke rumah, Pelaihari. Ga tau juga, entah liburan atau ada acara apa. Biasanya kalau datang pasti ada alasan yang jelas. Hari raya. Tahun baru. Atau ngantar nenek yang kangen sama anaknya yang di Pelaihari, tapi sekarang nenek sudah tiada. Jadi jarang kumpul di Pelaihari. Biasanya sebulan sekali ada aja nongol. Oke, oke, lanjut ke cerita. Datang. Biasa aja sih. Yah, seperti itulah. Dan ada perkataan tante yang agak aneh. “Haris kenapa ga liburan ke Barabai lagi?”. Bukan itu. “Haris perokok bukan? Pasti ngisap juga kaan.” Ngapa ditanyain beginian sih? Memangnya kalau aku berada dilingkungan yang semuanya perokok itu bisa membuktikan aku seorang perokok? Atau karena semua sepupu dekat ku perokok semua dan sering ketangkap basah, terus aku dikira perokok juga? AKU BUKAN PEROKOK. Hanya buang-buang uang, ga ada manfaatnya. Lebih baik dengar musik.

Sore hari. Rencanya hari ini mau ke Banjarmasin lagi, soalnya besok teman aku kawin. Siap-siap. Udah siap. Kata tante besok aja bareng. Mereka mau ke Banjarmasin juga. Aku ogah. Aku berangkat sekitar jam 6. Setelah sampai, eh malah mati lampu. Aku pikir ini kutukan. Aku mengabaikan perintah orang tua. Ga asik banget. Aku mau jalan aja. Kan malam minggu. Radith ga balas sms aku. Ga bisa diajak. Akhirnya ngajak Uya. Berangkat ke Duta Mall. Kali ini tidak pulang dengan tangan kosong. Uya beli buku di Gramedia, haa😀

Oya, kan waktu baru aja sampai Banjarmasin aku smsan sama teman, eh anggap aja teman dekat, sahabat deh. Radith, ga balas. Sama Tiya, biasa aja sih. Sama Giegie, ujung-ujungnya nanya, “Radith ada di Banjarmasin lah?”. Loh? Kok nanya ke aku. Sama Nurul, asik neh. Sempat curhat gitu deh. Bla bla bla sampai Nurul bilang, “. . . jangan nulis tentang mantan lagi, dia ga suka km ngungkit masalah mantan.” Entah ini serius atau cuma mau membahagiakan aku sebagai seorang sahabat, entahlah. Walau tidak percaya, itu cukup membuatku tersenyum sendiri. Bla bla bla sampai “. . . tadi aku disuruh bilang kalo dia mau nebeng besok ke acara kawinan Femmy”. Ini lagi. Tambah ga percaya. Masa bilang gitu doang harus lewat perantara. Ada bau kejahatan juga. Aku pikir ini cuma akal-akalan Nurul doang. Dia nyuruh anu untuk ikut aku, terus aku disuruh untuk jemput anu, aku pikir begitu.

Masalah malam mingguan. Setelah pulang dari Duta Mall, makan dulu. Terus aku nongkrong di kost Uya dulu sampai tengah malam. Mau ngucapin selamat ulang tahun doang buat Radith dan Nurul. Ntar kalo aku pulang, pasti ketiduran di rumah.

Minggu, jemput Radith. Dan lagi. Seperti biasa. Ketika dijalan, diam-diaman doang. Ga asik. Statusnya sebagai seorang yang cerewet hilang ketika bersamaku. Biasanya kalau aku jalan sama yang lain pasti ada perbincangan di jalan. Sama Faisal, ga ada habisnya ngomong di jalan. Sama Uya, bicara banyak juga. Sama Giegie, ngelantur kemana-mana deh pokoknya. Sama orang dia juga sering bicara banyak kok, tapi kenapa sama aku? Semenjak hari itu. Yap, hari itu. Sebelum-sebelumnya dia perlakukan aku seperti temannya yang lain kok. Tapi sekarang seperti orang asing yang tak dikenal. Ga asik ah. *backsound: Bila Rasaku Ini Rasamu*. Aku memang terlanjur mencintaimu. Dan tak pernah ku sesali itu. Seluruh jiwa telah kuserahkan. Menggenggam janji setiaku. Kumohon jangan jadikan semua ini alasan kau menyakitiku. Meskipun cintamu tak hanya untukku, tapi cobalah sejenak mengerti. Bila rasaku ini rasamu. Bla bla bla.

Manusia itu egois. Kamu egois. Aku juga egois. Abaikan. Ada beberapa orang yang masuk blacklist, yang kadang membuatku sangat cemburu. Ada 5 orang yang masuk blacklist. Dan masih banyak yang belum masuk blacklist. Berasa mereka adalah saingan, haa. Pesan buat beberapa orang, “Ga cukup ya punya satu cewek? Cinta itu bukan permainan!” Abaikan lagi.

Yasudahlah. Ini sudah terjadi. Ga bisa kembali lagi. Pesan. Jujurlah. Kalau tidak mau, katakan tidak. Jadi luka ini tidak terlalu dalam. Kalau tidak mau, aku akan berhenti berharap. Dan bersikaplah seperti biasa, seperti dulu.

Lagi lagi tulisannya ngelantur ke cinta. Sial. Cuma mengetik kata-kata yang disuruh sama otak. Entah itu ujungnya kemana, haa😀

Abaikan semuanya. *sugesti* Maklum lagi stress karena nilai D.

Wassalamualaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s