Suka Dibalik Duka

Assalamualaikum wr.wb. Melanjutkan yang tadi.

Niat ke Banjarmasin, pertama ikut rapat, yang kedua bayar SPP. Rabu, hari pertama pembayaran SPP. Pagi-pagi sudah bangun. Sarapan mie sama susu aja. Soalnya kan ga lama di Banjarmasin, jadi ga masak nasi. Jam 9 ngajak Uya bayar SPP. Kata Iqbal, “di bank lain aja, di kampus penuh antrian”. Oya, rencananya hari ini juga mau melayat ke rumah Erik, di tamban. Aku dan Uya berangkat ke bank BNI pusat di jalan Lambung Mangkurat. Kami bayar SPP disana aja. Ga lama. Selesai. Lalu ke kampus buat daftar ulang. Selesai.

Ngumpul sama yang lain di depan FKIP Unlam, kebetulan lagi ngumpul. Ada yang habis bayar SPP, ada yang habis daftar ulang, ada yang lagi ngumpulkan uang sumbangan kematian, ada yang lagi siap-siap mau berangkat ke rumah Erik, Tamban, dan ada pula yang mau nongkrong doang. Uya ga mau ikiut ngelayat. Aku mau ikut. Kebetulan Nazar sendirian, ga ada yang dibonceng. Jadi aku antar Uya ke kost dan aku ikut Nazar.

Siang hari. Berangkat. Ga banyak kok. Berangkat ke Tamban 10 motor, pulang ke Banjarmasin jadi 11 motor. Satu nyusul. Ada yang sudah siap pakai baju koko. Ada yang bawa peci juga. Sementara aku, “Mau ke mall ya Har??”. Sial. Tanpa pikir panjang, kami berangkat. Oya, sebenarnya kami mau liburan lagi setelah ke Bajuin kemarin. Rencananya ke Mandiangin. Tapi batal. Diganti ke Pelaihari lagi tanggal 12 Juli, tepatnya ke pantai. Eh, batal lagi. Sepertinya hari ini menggantikan liburan yang tertunda kemarin, haa. Kembali ke cerita. Kami ke Tamban lewat jalur air. Ke pelabuhan Trisakti dulu. Disana kami naik Ferry. Setelah sampai ke seberang. Owaw, ini Tamban?? Jalannya lebih ancur daripada muke lu yang jerawatan itu *nunjuk diri sendiri*. Dan untungnya jalan seperti itu tidak dekat, jaaauuuuh sekali rusaknya *kok untung?* *hiperbola*. Kami telat. Setelah sampai, ayah Erik sudah dibawa ke pemakaman. Kami nyusul ke sana. Kami datang, baru saja orang menutupi kuburan dengan tanah. Mata Erik sangat merah, wajar. Jadi ingat, beberapa minggu yang lalu, sempat ayah Erik dibawa kerumah sakit, dan kami jenguk. Beliau ga sakit parah. Masih bisa duduk. Lalu dipulangkan. Terus kata Erik, beberapa hari yang lalu, beliau muntah darah, banyak. Segera dilarikan ke rumah sakit Ulin. Katanya masih biasa juga, masih bisa jalan. Suatu ketika. Erik mengira ayahnya tidur, dia cek nadinya udah ga ada. Erik sudah mengira kalau ayahnya meniggal, tapi untuk memastikan, Erik memanggil dokter, benar. Tabah ya teman.

Setelah dikuburkan. Kami ke rumah Erik. Makan-makan. Cukup lama santai. Akhirnya pulang ke Banjarmasin. Nongkrong dulu di kost Uya. Ajak Uya makan lagi. Ketemu Tiya yang baru saja ngurus kehilangan Kartu Registrasi. Kasian dia. Kehilangan, dan harus minta surat kehilangan dari kepolisian. Maaf ga bisa aku temani, tadi ke Tamban. Setelah makan, kembali ke kost Uya. Ternyat eh ternyat, hujan turun. Aku terkurung di kost Uya. Karena urusan sudah selesai, rencananya mau pulang hari ini, rapat dilanjutkan hari Sabtu. HP satunya mati, ga bisa online. Recharge HP uya beda sama HP ku. Akhirnya memutuskan untuk sms Qiqi. Daripada bete liat Uya main poker online doang. Sekitar 2 kali sms, dan akhirnya dia berkata, ” . . . pulsaku tinggal 200″. Yasudahlah.

Akhirnya hujan reda. Hampir maghrib baru sampai rumah. Dan ternyata, Radith minta antar mau pulkam. Belum pasti sih sebenarnya mau minta antar atau ga. Ya, terpaksa aku tunggu aja dulu. Akhirnya, dia memutuskan. Aku pulang ke Pelaihari, artinya masih belum pasti dan nyuruh aku pulang aja. Jam 9 malam aku pulang. Ga bisa ngebut karena sambil smsan, haa. Sampai jam setengah 11. Akhirnya sampai rumah aku mandi. Dan menatap monitor lagi. Laptop lagi.

Besok harinya. Ibnu ngajak ke rumah Nur. “Hari ini datang kerumah Nur, yang ga datang denda 5rb..”. Sms macam apa ini? Kok ngamcam? Aku mau ikut kalau Ibnu mau jemput aku. Akhirnya dijemput Ibnu sekitar jam 4. Ibnu sampai dirumah, aku masih ragu. Jangan-jangan aku ga diajak, malu dong jadi tamu tak diundang. Aku minta bukti. Ternyata benar, ada sms nya kok. Akhirnya ikut kesana. Sampai di rumah Nur, masih ragu juga. Ngapain? Teman akrab juga bukan. Sekedar adik kelas yang jarang bertemu. Ternyata eh ternyata, yang datang banyak. Sangat banyaaak *lebay*. Yang pasti teman sekelas Nur di XII IPA 3 dan XG dulu. Yasudahlah, terlanjur disana. Ternyata eh ternyata, Qiqi juga ada. Yaiyalah, kan berteman dengan Nur sejak MTsN. Ga saling sapa sih. Gitu aja sempat dapat “ciyeee” dari para undangan yang hadir. Oya, yang tua cuma aku dan Ibnu. Oh. Tidak. Yasudahlah. Ga saling sapa juga ga apapa. Kalo saling sapa, pasti bakal dapat “CIYEEEEEE” *lebih besar suaranya maksudnya* *lebay lagi*. Acara selesai. Pulang. Naa, waktu pulang. “Kalau aku dekati, kamu berani ga ngomong”, kata Ibnu saat kami dibelakang Qiqi. “Mau ngomong apa juga?” Akhirnya putar arah dan keliling Pelaihari. Pulang.

Oya, tadi dapat sms dari Qiqi. Ga beberapa lama. “Maaf, tadi itu kd bermaksud sombong.”. Horee, tumben Qiqi mau sms aku, haa. Asik. Smsan deh, walau cuma bentar. Bla bla bla. “Ulun kira pian di bjm, smalam pank bpdh kd jdi bulik ke plh. Eh, ternyata..”. Bla bla bla. “Bulik malam2 bkndaraan, hati2 klopina garing..”

Sepertinya tulisannya terlalu panjang. Sudahi dulu. Besok mau ke Banjarmasin lagi. Sabtu ada rapat. Terus ke Pelaihari, aku ga mau nisfu di Banjarmasin. Semoga saja bisa pulang. Wassalamualaikum wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s