Buka Bersama Hingga Sahur Bersama

Sebenarnya tulisan ini sudah terbit sekitar seminggu yang lalu. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih penting, jadi tertunda.

Makasih. Makasih. Kalian membuatku merasakan indahnya dunia.

Sabtu, diwajibkan untuk berada di Banjarmasin untuk mengumpulkan krs yang sudah siap saji. Pagi buta, setelah sahur, sudah siap menuju Jakarta van Borneo itu. Entah kenapa, pagi ini aku merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Ayah dan ibu beserta adik kecil melepas kepergianku di teras rumah, sementara adik yang satunya lebih memilih untuk tertidur. “Berapa hari di Banjarmasin??” “Paling cepat, Rabu sudah balik, paling lama bisa sekitar seminggu” “100 cukup??” “Bayar ikoma, bayar listrik, bayar ledeng, beli ini, beli itu, ga cukup” “200 ya” “Yasudah”, dengan nada pasrah. “Ngirit ya, jangan boros”, kata mama.

Berangkat. Hari ini sengaja pakai jaket dua lapis semoga ga kedinginan lagi seperti sebelumnya. Eh, nyatanya hari ini ga sedingin kemarin. Ga ada sunrise nya pula. Ga keren. Sampai ke rumah, tetap kaya kemarin, ga bisa tidur. Hari ini ke kampus minta jemput Nida. Entah kenapa malas bawa MX. Sampai di kampus, cukup sibuk. Bantuin si ini, bantuin si itu. Fotocopy ini, fotocopy itu. Tanya dosen ini, tanya dosen itu. Sampai sekitar jam 4 sore, baru pulang ikut sama Basil.

Sesampainya dirumah, ternyata ban MX bocor. Argh. Terpaksa aku giring motor aku ke tempat penambalan terdekat. Ternyata penambalan kali ini cukup lama, sekitar setengah jam. Gerakan sang penambal agak lamban, mungkin karena dia puasa.

Pulang dalam keadaan ga bisa istirahat. Harus siap-siap lagi buat acara buka bersama bareng Antics10. Muja nyuruh aku jadi penunjuk jalan. Muja nyuruh aku beli satu kotak minuman gelas. Radith minta jemput. Giegie minta datengin ke rumah supaya bisa bareng. Dan bla bla bla. Akhirnya sampai di tempat yang dituju, RM Lampau Bulan. Ada lebih dari setengah kelas yang ikut. Berakhir dengan kenyang dan alhamdulillah. Seperti inilah kelaukuanku kalau disuguhkan makanan yang banyak. Mendadak rakus, haa. Dalam acara bukber kali ini sekaligus merayakan hari ulang tahun Selfina Soraya. Selamat ya, Sel. Maaf, aku banyak makan kue nya. Oya, aku juga minta lauk yang lebihan, kan anak kost gitu.

Agak bingung mau kemana? Shalat tarawih ke Masjid? Nimbrung sama yang lain makan jagung? Akhirnya kami memutuskan shalat isya dan tarawih di tempat itu juga, RM Lampau Bulan. Tarawih di Imami oleh Edwin dan di ikuti olehku, Uya, Haifa, dan Novia. Entah diterima ataupun tidak, yang penting aku sudah melakukannya. Setelah tarawih, ternyata masih ada yang nungguin kami. Amel dan Lilis. Setia menunggu, karena tempat ibadah yang kami pakai memang sempit. Perbincangan terjadi dan acara selanjutnya adalah nyusul yang lain yang lagi asik makan jagung bakar. Kabarnya bakal ditraktir sama Selfi dan pacarnya, Muja. Entah kenapa ada pertukaran tempat duduk saat mencari rombongan lain. Edwin tetap sama Uya. Novia bawa kendaraan Haifa dan bonceng si Amel. Haifa bawa kendaraan Novia. Lalu aku barter sama Lilis. Saat itu bisa dibilang pakai jalan memutar, entah ditipu sama yang lain ataupun ketidaksengajaan. Saat itu juga sempat terpisah dengan Edwin dan Uya. Kami sampai duluan dan agak lama sampai Edwin dan Uya menyusul. Sesampainya di tempat perkara, Edwin sedikit kesal, entahlah. Si Basil, Azie, Radith, dan Tiya menyusul kemudian. Dilanjutkan oleh kedatangan Hifni dan Arief. Cukup lama sampai yang lain pulang. Rencananya aku bawa Uya ke rumah, buat nemenin sahur. Uya sama Edwin ke SMASA. “Nanti kalau mau pulang, jemput aja”, katanya. Tersisa beberapa orang yang masih nimbrung di sebuah tempat di samping Tarakan itu. Aku, Basil, Arief, Hifnie, Azie, Radith dan Tiya. Mulai yang lain pulang, Muja ngantar Selfi ke BaBe, sampai kembali lagi untuk ngantar Mitra melewati tempat yang tadi, kami masih saja nongkrong. Oya, kabarnya Muja sempat kebocoran ban ya? Kami turut berduka deh. Akhirnya sampai banyak yang mengeluh gara-gara kenyamukan, pulang juga. Sebelumnya, sempat terjadi sebuah permohonan berujung paksaan, kalau aku diminta bermalam di rumah Arief dan Hifnie juga ikut. Aku berikan syarat, “asal Uya mau ikut, aku ikut deh”. Secepatnya mereka membujuk Uya. Uya ada di SMASA sama Edwin, Dendi, dan Delsi. Kami pulang. Azie, Basil, Radith, dan Tiya pulang. Arief bersama Hifnie ke rumah Hifnie ngambil laptop, lalu ke rumah Arief. Aku nyusul Uya ke SMASA. Sampai di SMASA, agak lama sampai akhirnya pulang juga. Waktu di SMASA, ada usul dari Dendi, main domino aja di rumah Arief. Aku langsung sms Arief dan Hifnie, “kalau ada domino, aku mau kesana”. Kata mereka, “oke”. Pulang dari SMASA, Dendi ngantar Delsi, Edwin ngantar Uya. Lalu aku pulang baju. Sesampainya di rumah aku agak ragu untuk kembali, soalnya agak letih. Apalagi jarak dari rumah aku ke rumah Arief ga bisa dibilang dekat. “Ayo Har, cepat datang”. “Domino??”. “Iya”.

Kalau terus dipikirkan, aku ga bakal datang. Tapi karena “Think less, Do more”, menghilangkan semua keletihan DEMI JANJI ku kepada mereka, kalau akan datang jika syarat terpenuhi.

Sesampainya di rumah Arief, agak kecewa karena tak ada batang hidung si domino. Dengan nada sedikit bercanda, “lebih baik pulang aja deh”. “eh, ntar deh dibeli”. Inikah balasannya? Di rumah Arief ada aku, Uya, Dendi, Hifnie, dan Arief. Azie sedang dipaksa untuk datang. Edwin sepertinya ga datang lagi karena sudah terlalu lama berada di luar, seharian di kampus, sesorean di RM Lampau Bulan, dan semalaman di Jagung Bakar dan SMASA. Domino tak kunjung tiba karena Arief dan Hifnie asik main PES. Seakan kami adalah tamu tak di undang. Akhirnya Dendi turun kaki. Azie datang. Dendi datang bawa domino. Aku, Uya, Dendi, sama Arief main domino. Sementara Azie menggantikan posisi Arief melawan Hifnie dalam adu PES. Sialnya malam ini aku lebih banyak “tidak duduk”. Tidak duduk adalah hukuman bagi yang kalah. Biasanya kalau main dengan hukuman jepitan jemuran, biasanya aku adalah yang sedikit terjepit. Entah kenapa. Sampai Arief berhenti dan digantikan oleh Azie. Azie menawarkan untuk tukar posisi. Benar saja, sekarang Azie yang lebih sering “tidak duduk”. Ternyata rumahnya tempatnya berhantu.

Main sampai shubuh. Kami memutuskan untuk berhenti dan sahur dulu. Dendi pulang, sahur dirumah. Masih ada lauk waktu bukber kemarin. Nasi sudah disediakan sama tuan rumah. Saber, sahur bareng. Shubuh, terlelap sampai jam 11an. Bangun bareng. Tapi Azie sudah pulang sejak pagi, katanya mau nyuci pakaian. Aku dan Hifnie ke kost Rina, jemput si Radith dan Tiya, lalu ngantar ke kost mereka. Lalu merencanakan mau jalan ke Mall. Aku pamit pulang, mau mandi dan ganti baju. Selesai shalat dzuhur, santai dulu. Ketika disuruh berangkat, aku bergegas menuju rumah Arief. Aku, Uya, Hifnie, Arief, Rina, dan Radith berangkat. Sesampainya di Duta Mall, kami pisah sama Radith dan Rina. Keliling bentar, lalu nimbrung di Gramedia. Biasaa, baca “cacing”. Setelah selesai, keliling lagi. Radith sms aku, minta antar ke
pal6, mau pulkam. Aku minta izin sama yang lain buat ngantar Radith. Keluar duluan. Ngantar sampai ke salah satu taksi jurusan Barabai. Lalu aku balik, sepertinya mereka sudah keluar juga dan aku pun langsung menuju ke rumah. Lalu Hifnie maksa aku supaya bukber sama Arief dan Uya. Aku ga mau. Aku buka puasa di langgar aja. Gratis juga enak. Apalagi hari ini dapat minuman extra joss + susu, lalu es susu cokelat, ditambah minuman gelas. Hari pertama shalat tarawih di langgar. Selesai shalat, berangkat ke rumah Arief untuk jemput Uya sekalian ketemu Edwin, katanya ada yang mau dibicarakan. Saat dirumah Arief, Arief yang melihat aku datang dan masih memakai baju koko berkata, “tarawih Ris??”. Lupakan. Akhirnya perbincangan aku, Edwin dan Uya terjadi hingga mendapatkan hasil, besok rapat kecil-kecilan. Aku pulang ke rumah dan ngajak Uya. Sahur belum ada persiapan. Akhirnya sahur on the road bersama Uya. Owaw, dingin menusuk sampai ke tulang. Shubuh, tidur seharian karena cukup melelahkan. Pertamakalinya tidur di tempat tidurku. Kemarin, kemarinnya seharian full. Malamnya di rumah Arief. Kemarin jalan ke Mall. Baru hari ini bisa rebahan di tempat tidur Haris. Akhirnya aku dan Uya ga ikut rapat, karena bermalasan seharian. Hari ini juga aku baru bisa nyuci pakaian yang bertumpuk. Seharian ga ada keluar rumah. Sampai akhirnya buka puasa di langgar bareng Uya. Cerita selanjutnya bisa dibaca pada artikel yang berjudul “Terima Kasih Sudah Membangunkanku”.

Pesan yang didapat. Hari ini banyak bawa kendaraan teman. Mulai Vario-nya Nida, Mio-nya Basil, sampai Satria F-nya Lilis. Tapi tetap, punya sendiri yang paling enak ditunggangi. Eh, pesannya bukan itu. Yang ini. Tidak semua teman punya sifat seperti yang kita inginkan. Kadang kita yang harus beradaptasi dengan mereka. Tetaplah terlihat nyaman bersama mereka walau sebenarnya kita kesal. Itu tidak akan merusak hubungan. Lagipula kesal kita akan berkurang seiring berjalannya waktu. Tapi kalau pertemanan hancur? Sulit untuk mengembalikannya.

Banjarmasin, 16 Agustus 2011.
Haris Saputera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s