Maaf Sal

Rabu, 17 Agustus 2011. Ga ikut upacara. Serasa bukan anak Indonesia. Cuma santai di rumah setelah berhari-hari menjalani kehidupan. Siang hari, Faisal ngajak ke Banjarmasin sore ini. Dia tau aku mau ke Banjarmasin besok, kan waktu buka puasa di rumah Tutur aku cerita. Tapi dia ngajak sore ini aja. Dia minta temani malam ini. Aku juga ga nanya apa alasan dia pergi ke Banjarmasin kali ini. Konsultasi udah, apa lagi? Masalah organisasi juga ya? Ah, entahlah. Tapi aku malas. Kalau bisa buka puasa dan sahur di Pelaihari aja, kenapa tidak?


Malam ini tarawih seperti biasa, di Masjid Agung Al-Manar. Di Masjid ketemu Yudhi, sebut saja Itink. Bukan seorang yang asing lagi bagiku. Seseorang yang mudah terpengaruh dengan lingkungan, dan berprestasi di bidang olahraga. Aku yakin kalau Mahasiswa JPOK FKIP Unlam ini baik, sangat baik. Entah setan apa yang merasukinya saat itu sehingga membuat seorang perempuan yang masih dalam satu sekolah itu bunting. Bahkan Rizky Arlita, Mahasiswa asal Barabai yang juga kawan aku di kampus tau kabar ini. Memang benar, setelah ada “isi” nya, dikabarkan mereka lari ke Barabai sampai akhirnya menggendong seorang anak. Cukup, ngapain membicarakan orang, aib woy.

Sahur, masih seperti biasa, ga nafsu makan.
Hari ini mau ke Banjarmasin. Katanya rapat jam 9. Santai dulu. Memang ga ada niat untuk pergi ke Banjarmasin pagi buta seperti kemarin-kemarin. Aku punya alasan yang logis kenapa aku tidak berangkat setelah shubuh seperti biasanya. Karena bensin aku sekarat, sangat sekarat. Aku ragu penjual bensin eceran buka sepagi ini, apa lagi pom bensin. Jam setengah 8 barulah aku berangkat. Oya, sebelumnya dapat sms dari Faisal, “Har, ayo cepat ke Banjarmasin. Temani aku beli kasur baru, sama yang lain-lain juga”. Jam setengah 8 meluncur dari rumah tanpa uang saku, karena aku yakin sehari saja sudah selesai urusannya, eh ada ragu sedikit. Ke pom bensin, ngisi full tanpa harus nunggu antrian. Sampai di Banjarmasin, Faisal buka pintu dan “Har, temani aku beli bla bla bla”. “Maaf Sal, aku ada rapat jam 9, sore aku langsung pulang.”

Jam 9, belum ada kabar rapat sudah dimulai, mulai muncul keraguan bahwa rapat akan ditunda. Jam setengah 10 baru berangkat. Ka Novita sama ka Alwie sudah nongkrong di MIPA. Sementara si Lily yang baru saja menyelesaikan urusan KRS-nya sudah menunggu juga. Maunya rapat di LabKom, tapi LabKom dikunci. Akhirnya aku dan Uya harus cari ruangan yang lain. Maunya di Bengkel Matematika, eh dipakai kuliah. Mau pakai ruangan Multimedia, tapi harus kunci dipegang prodi Biologi, samentara ruang Kaprodi Biologi dikunci. Akhirnya memutuskan cari ruangan di FKIP 1, menuju Bagian Perlengkapan dengan pakaian yang tidak layak disebut calon guru (sandal, celana jeans, baju kaos). Dan kebetulan disana ketemu sama pa Nafarin, Pembantu Dekan III. Bicara sama beliau kalau mau rapat dan lagi car ruangan dan bla bla bla. “Coba cari kunci ruang Multimedia di Lab Biologi, kalau ga ada juga bisa pakai Ruang Kuliah 1.” Oya, saat itu juga sekalian minta password ke BAAK untuk satu kelas. Kembali lagi ke MIPA dan saat itu dipanggil sama seseorang, “Haris!!”. “Eh, apa?”. “Ga apapa”. Ternyata Lily. Dia langsung kabur. Dia masuk Lab Biologi. Langsung aku panggil deh, “Ly, tau ga pemegang kunci di ruang Multimedia??”. Bla bla bla dan berujung tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya memutuskan untuk memakai Ruang Kuliah 1. Kabarin yang lain dan menuju Ruang Kuliah 1. Pas aku masuk duluan, eh ada yang rapat duluan, walau rapat kecil juga, mau ngusir juga ga enak. Akhirnya ka Alwie menyarankankan untuk rapat di sekre Himaptika aja. Bukan di sekre, tapi di depan sekre. Kapan ya sekre Himaptika bisa seperti sekre lain? Bersih dan rapi, sehingga bisa dipakai buat rapat ataupun sekedar nongkrong. Rapat yang beragendakan menyusun kepanitiaan KPR yang bertujuan mendapatkan Ketua Himaptika baru. Rapat berjalan dengan lancar.

Selesai rapat. Saatnya pulang. Oya, ga lupa untuk ngambil password yang sudah dituliskan oleh BAAK FKIP Unlam. Uya minta satu copy dan antarkan ke kost dia. Aku copy sekalian ada berkas ospek yang harus aku copy. Saat di tempat fotocopy, ketemu Lily lagi, Dia nanya, “udah ngisi KRS?”. “udah Ly”. “oya, kalau aku nanya, ntar jawab ya.”. Bingung dengan pernyataan itu. Nanya masalah apa? Akhirnya dia masuk ke warnet yang tepat di samping tempat fotocopy. Langsung aku sapa, “Ly! mau ngapain?”. “mau ngisi KRS”. “ikut Ly!”. “loh, katanya tadi udah?”. “yang online belum Ly, tunggu bentar, bentar lagi selesai”. Akhirnya selesai fotocopy.Aku masuk ke warnet bareng Lily, emang niatnya mau nebeng aja. Sekalian gitu. Untung box warnet nya cukup besar, bulan Ramadhan woy. Disana cerita banyak lagi. Ngakak lagi. Dan ada sedikit perbedaan pada pengisian KRS. Di Matematika, kami disuruh ngisi KRS secara manual dan dikumpul tanpa menghiraukan KRS Online, belakangan juga ga apapa. Kalau Biologi, harus menyelesaikan KRS Online dulu, baru bisa ngumpul KRS yang memakai tulisan tangan. Di warnet, Lily juga sempat bilang mau balik ke Pelaihari besok. Aku hasut aja, supaya bisa pulang bareng. Katanya sudah bilang sama orang tua kalau mau balik besok. Aku hasut lagi, “bilang aja urusannya udah selesai dan udah bisa pulang, emangnya mau sahur sendirian?”. Sekitar satu jam di warnet, semuanya selesai. Dia pulang ke kost untuk siap-siap, sedangkan aku ke kost Uya memberikan copy password lalu pulang ke rumah. Oya, Faisal ada ngirim sms, aku disuruh bermalam dulu, nemenin dia semalam dulu. Tetap saja aku ga mau, ga punya uang saku.

Sampai rumah, Faisal ga ada dirumah. Siap-siap pulang, habis ashar aku berangkat. Waktu dijalan, liat V-Ixion yang bernomor plat DA 3333 LP. Sepertinya V-Ixion yang pernah aku kendarai, punya kakak sepupu Divo. Tiga hari aku disuruh Divo membawa kendaraan itu. Saat itu adalah saat test SNMPTN. Waktu di perjalanan pulang juga kena semprot pengendara mobil. Saat mau memasuki kawasan Gunung Kayangan, aku ambil jalur kanan, paling kanan, hampir menyentuh tanah, kebiasaan main-main ketika di jalan. Sebuah mobil mendahului, seketika itu juga pengemudi mengeluarkan kepalanya dan teriak, “WOOYYY!!!”. Apa salahku? Apakah aku ketauan kentut pada saat mengendarai? Atau sebenarnya dia adalah teman aku yang bermaksud menyapaku? Entahlah. Sampai rumah tanpa halangan. Dan menjalankan rutinitas seperti biasa lagi, “bermalasan”.

Pelaihari, 18 Agustus 2011.
Haris Saputera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s