My First Tanglong

Jumat sore, ada sms dari Lisa, “Pengumuman. Buka bersama anak IPA2 pada tanggal 25 Agustus di Ayam Presto”. Semoga kali ini tidak mengecewakan lagi. Malam hari, beberapa menit sebelum adzan isya, Faisal nelpon, “Har, dimana? Aku umpat ke Al-Manar yaa.”. Kebiasaan buruk, aku selalu berangkat saat sudah adzan. Setelah tarawih, makan pempek di Parit sama Faisal. Saat di warung pempek, sedikit membicarakan tentang buka bersama dan acara tanglong.

Sabtu pagi, tepat jam 11 aku ke warnet sama Risna. Kali ini tujuan nya sama seperti ke warnet sama Serli, masalah KRS Online. Aku sudah janji beberapa hari sebelumnya akan menemani ngisi KRS. Lebih parah, Fisika 2010, mata kuliahnya banyak belum keluar. Kemarin si Serli, Biologi 2010 sudah semua. Sedangkan aku, Matematika 2010 masih kurang satu mata kuliah, Matematika Keuangan. Setelah selesai ngisi KRS sama ngambil foto-foto Dong Hae, berangkat ke rumah Ema. Tepat dibelakang Sekolah Dasar. Dan konon KATANYA di seberang Sekolah Dasar itu adalah rumah anu yang baru. Jemput Ema, berangkat ke Ultra Disc, tempat peminjaman CD maupun DVD. Disini Risna mendapatkan sebuah film berjudul “We are Family” yang berkebangsaan India. Lalu ke Ria, sebuah studio foto, mau mencetak foto “lawas” Risna saat berulang tahun, fotonya berbentuk roll film. Lanjut ke toko Nadya, toko aksesoris jahit menjahit gitu. Disini Ema mendapatkan benang, katanya mau bikin sesuatu untuk seseorang, entah siapa. Lalu ke pasar, Risna dan Ema dapat sesuatu yang yang fungsinya menghilangkan komedo. Apa namanya? Biore Pore Pack ya?

Karena ga ada tujuan, sebut saja pengangguran, kami memutuskan untuk ke rumah Ayu. Setelah konfirmasi sama Ayu nya, dan kami langsung menuju rumahnya. Beberapa saat nunggu Ayu lagi mandi. Rupanya kami telat, beberapa waktu yang lalu si Lisa sama pacarnya, Amat, sebelumnya juga mampir kesini, rumah Ayu. Ngobrol banyak di rumah Ayu, banyak ngobrol KOREA. Masih saja seperti yang dulu. Bla bla bla.

Sore hari, tadinya aku sangat malas dan ga ada niat lagi buat ke Banjarbaru untuk acara tanglong karena ga jelas mau berangkat atau tidak. Tapi Madan maksa. Masih malas juga karena udah stay di depan tv liat si Agus Batik, final Master Chef Indonesia. Tapi dengan sedikit kemauan, akhirnya mandi lalu bersiap. Bawa peralatan mandi dan peci saja dan dititipkan di tas Faisal, masalah baju koko bisa pinjam sama teman di Banjarbaru aja. Sekitar jam 5, aku jemput Faisal dan langsung ke pom bensin. Sementara Madan yang jemput Divo langsung berangkat dan ga bakal ngebut untuk nungguin kami yang lagi di pom. Akhirnya aku dan Faisal ngebut menuju Banjarbaru untuk ngejar Madan dan Divo. Tak keliatan juga batang hidung kendaraan Tiger itu. Melalui komunikasi pesan singkat, ternyata mereka berada di belakang. Tenyata mereka ga bisa ngebut karena Tiger lagi mengalami kerusakan pada rem depan. Di Cempaka, Madan langsung mampir ke sebuat warung sate tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Buka puasa masih lama, mau ku sih buka puasa di Banjarbaru aja, ga jauh lagi kok. Sudah nongkrong, ga enak kalau ditinggalin. Buka puasa sate ayam sama beberapa iris lontong. Setelah buka puasa, ternyata ban Tiger bocor. Setelah menemukan tempat penambalan ban yang terdekat, aku dan Faisal permisi buat shalat Maghrib. Aku dan Faisal nyari langgar terdekat, berasa jadi Musafir, bawa tas pula, haa. Setelah selesai shalat, kembali ke tempat penambalan ban. Disana sudah ada Yudha, Rahman, dan seorang lagi yang tak dikenal menemani Madan dan Divo di penambalan ban. Saat itu, aku sempat smsan sama Radith masalah Master Chef Indonesia, dan hatiku sempat miris, untungnya langsung ditambal. Selesai, kami ke Banjarbaru, tepatnya ke rumah Deny. Inginku sih ke rumah Fiqri biar bisa rehat sejenak. Ini ke rumah perempuan yang pasti ga dibolehkan masuk kalau sudah malam. Lebih parah lagi, niatku untuk shalat tarawih di Banjarbaru terabaikan karena dari rumah Deny langsung ke TKP. Oya, waktu dirumah Deny juga ada Nisa. Akhirnya nungguin pacar Nisa jemput, sangat lama.

Semuanya siap, berangkat. Kami ke depan Fakultas Teknik Unlam Banjarbaru yang sudah ada si Agus nongkrong di depan sana. Dan sepertinya kami meninggalkan Nisa sama pacarnya, Ferdi. Kami pikir itu memang maunya Ferdi, sengaja lamban supaya bisa terpisah sama kami. Absen dulu, aku, Faisal, Madan, Deny, Rahman, Yudha, Divo, dan orang yang aku tak tau namanya, tanpa Nisa dan Ferdi ke Murjani, Banjarbaru. Tempat diadakannya acara “Tanglong dan Acara Bagarakan Sahur XII”. Ini adalah tanglong ku yang pertama di Banjarbaru. Tahun kemarin bentrok sama ospek. Kemarinnya lagi merayakan di Barabai. Seperti biasa, pangkalan awal para peserta tanglong adalah Lap. Murjani, Banjarbaru. Kami pun menuju ke sana juga. Oya, biaya parkir nya 5ribu, 10x biaya parkir aku di kampus, owaw. Keliling-keliling dulu sambil menikmati seni masyarakat Kalimantan Selatan yang sudah menghias mobilnya untuk dibawa keliling saat sahur nanti.

Selain keliling dalam lapangan, kami juga keliling diluar lapangan. Oya, saat itu ketemu Nisa lagi, dan kebetulan datang bawa pisang goreng cokelat, nyam. Lalu pisah lagi. Oya, semenjak jam 8an sudah banyak yang menyalakam kembang api. Disini cuma ketemu beberapa teman dari Pelaihari, ga banyak. Banyak juga komunitas-komunitas asal Pelaihari yang kumpul disini. Oya, sempat ketemu sama ka Saufi. Yap, ka Saufi doang yang dari Pend. Matematika FKIP Unlam Banjarmasin. Sangat lama ke sana-sini melanglang buana tanpa tujuan pasti, sampai akhirnya duduk santai di depan gedung DPRD Banjarbaru. Disana kami kehilangan Agus. Cukup lama santai, akhirnya keliling lagi. Sekitar jam 10 atau jam 11an gitu, sederetan kembang api dinyalakan tepat dari atas gedung Pemerintah Kota Banjarbaru, spektakuler. Terakhir aku lihat yang seperti ini kalau ga salah 2 tahun lalu, tepat dari atas gedung DPRD Barabai. Posisi kami pun sangat tepat kali ini, ga terlalu jauh dan ga terlalu dekat dari gedung PemKot Banjarbaru itu, jadi kami ga perlu pakai teropong ataupun menonggakkan kepala seperti nonton bioskop saat berada di bangku paling depan. Takjub. Aku memang ga niat mau mendokumentasikan moment ini, kalau mau liat, sama teman aku saja, atau dari wartawan yang tidak kalah heboh dibandingkan dengan supporter bola.

Sekitar jam 12, salah seorang memutuskan untuk jalan ke pinggir jalan raya. Dan kali ini tepat lagi, beberapa saat setelah kami berada di pinggir jalan raya, saat itu juga perjalanan para mobil yang dihiasi dengan tema Islami itu pun mulai keliling kota Banjarbaru. Sekitar jam 1, memutuskan untuk mengakhiri acara ini. Aku dan Faisal terpisah dengan rombongan, kami keluar duluan dari tempat parkir. Di jalan macet, sangat macet, ga kalah deh sama Jekarda, ibukota Indonesia itu. Setelah lolos dari macet, memutuskan untuk ke rumah Deny, barangkali mereka udah nimbrung disana. Tak ada tanda-tanda kehidupan disana dan memutuskan untuk makan tengah malam saja. Minum es kelapa muda dan makan nasi goreng. Kembali lagi ke rumah Deny. Ternyata Deny seorang yang ada disana, yang lain udah minggat ke rumah Fiqri. Aku sms Fiqri, karena Faisal lupa nama komplek nya, cukup lama karena sebelumnya dikabarkan si Fiqri sudah tertidur lelap. Fiqri balas sms, “Komplek Persada Asri”. Bergegas kesana dan menemukan rumahnya. Sesampainya tak dapat menahan lelah lagi, langsung rebahan. Oya, Fiqri satu rumah sama Zainu, Abdillah, dan ternyata satu rumah juga sama Yudhi, anak Pintu Air sama sepertiku. Sementara aku sudah tertidur lelap, Madan, Divo, Rahman, sama Yudha sedang asik main domino. Saat beberapa teman keluar cari makan buat sahur, aku masih saja belum bisa sepenuhnya membuka mata. Fiqri juga udah nawarin makan dirumah aja, tapi aku masih ga sanggup. Akhirnya aku puasa hari ini tanpa sahur.

Senin pagi, aku menggantikan Divo main domino sama yang lain. Ternyata sistem hitung, kalah lagi deh. Emang ga pernah beruntung kalau sistem hitung, atau skill game aku sudah berkurang? Ah, ga penting. Selesai main, kami tidur melepas lelah. Oya, pagi itu orang tak bernama itu pulang duluan. Kami terus tertidur hingga tidak tau kalau penghuni rumah udah hilang, tinggal Fiqri seorang bersama kami para penumpang. Yudha sama Rahman juga pulang duluan. Aku, Faisal, dan Madan mandi. Rencananya mau ke Martapura, mau cari ban si Tiger. Sekitar jam 11, berangkat, pamit sama Fiqri. Belum sampai Martapura, kami sudah menemukan sebuah toko sekaligus bengkel di dekat bundaran Banjarbaru. Disana si Tiger upgrade ban dan memperbaiki rem depan.

Setelah itu, kami pulang. Aku duluan, ngebut. Ga keliatan lagi tuh si Madan sama Divo. Oya, waktu sampai dirumah juga ngirim sms ke Fiqri, menanyakan apakah benar sewa rumahnya 500ribu per bulan. Ternyata benar. Rumah besar, banyak kamar besar, bahkan mereka punya kamar tersendiri untuk ibadah, ada kamar yang dijadikan gudang, ada kamar yang tak terpakai, plus AC, toilet banyak, di dalam toilet lengkap dengan shower, wc duduk, juga bak mandi yang bisa dipakai sambil tiduran, ada kulkas, ada garasi, tingkat dua, tapi aku ga ngecek ke atas, dan beberapa kelebihan lain cuma 500ribu perbulan. Pemilik rumah sebelumnya adalah seorang Hindu. Kelihatan dari beberapa desain rumahnya. Kata Fiqri, mungkin ada hantunya, makanya jadi murah. Tapi tenang saja, belum ada kejadian aneh yang menimpa mereka. Aku pikir hp aku yang berhantu. Sangat aneh, sudah beberapa hari, pulsanya tidak berkurang. Masih saja Rp.10406.0. Biasanya tiap sms, aku bayar Rp.399 + ppn, sebagai warga negara yang baik aku bayar pajak, walau untuk sms sekalipun.Sesampainya di rumah, buka laptop, main. Sore hari, tidur, istirahat, melepas kelelahan yang cukup besar. Malam hari, tarawih sama Faisal lalu makan pekmpek.

Pelaihari, 24 Agustus 2011.
Haris Saputera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s