Udah Lama Pak

Dimulai sakit tenggorokan, kemudian sakit kepala, hingga ga enak badan dan agak panas beberapa hari terakhir.

Bermula dari pesan singkat yang aku dapat dari Lisa mengenai buka bersama, entah kapan, kalau ga salah ada pada tulisan sebelumnya. Sampai akhirnya topik mengenai buka bersama ini aku bawa ke grup tertutup di Facebook. Respon positif dari member yang terbilang alumni anak IPA 2 SMA Negeri 1 Pelaihari itu, atau yang kami sebut “Alchemist”. Sampai ujung-ujungnya aku kasih saran ajak bapak Tiyo selaku Wali Kelas. Dan lagi-lagi, aku yang ngasih saran, aku yang disuruh datang kerumah beliau.

Besok harinya, tepat tanggal 25 Agustus, atau tepat hari akan melaksanakan buka puasa bersama itu, aku yang mulanya jemput David, kerumah bapak Tiyo. Disana kami tidak menemukan tanda-tanda kehidupan, seolah ucapan salam aku berkali-kali hanya kicauan burung yang tidak terlalu berarti. Akhirnya berinisiatif menelpon beliau. Tanpa pikir panjang, aku keluarkan HP dan nelpon. “Assalamualaikum pak, pian dimana??” “Waalaikum salam, ini bapak dirumah sakit. Pian dimana nak?” “Hahh!? Dirumah sakit!? Siapa yang sakit pak??” “Hehe, langsung aja nak, ada apa nak? Ada yang bisa bapa bantu??” “Ini pak,bla bla bla” “Yang datang banyak ga?” “Yang bisa udah setengah kelas lebih pak.” “Banyak juga ya. Oya, kalau urusan bapak sudah selesai, bapak usahakan untuk datang. Assalamualaikum” “Waalaikum salam”. Dari percakapan diatas, seolah-olah beliau tidak mau membuat kami khawatir. Memang begitulah sifat beliau. Guru yang masih kami teladani sampai sekarang.

Setelah selesai urusan dengan bapak Tiyo, aku bersama David melanjutkan perjalanan ke rumah Faisal untuk nongkrong, kebetulan Faisal sedang tidak sibuk. Di rumah Faisal kami mendata orang yang bisa hadir, dan beberapa diskusi kecil walau melenceng dari tujuan utama mengenai acara buka bersama. Bahkan diskusi kami sampai hukum puasa Nisfu. Ada 27 orang yang bisa hadir. Cukup lama di rumah Faisal, kami memutuskan pulang. Setelah mengantar David, aku pulang. Seperti yang aku ceritakan di awal tulisan, aku sakit. Semenjak pagi, badan sudah ga enak dan siang ini menjadi-jadi. Sesampainya dirumah, disuruh mama untuk mengantar beliau ke pasar. Yasudah, dengan berat hati aku ngantar beliau. Tapi kali ini ga bisa nemenin belanja, nungguin belanja, bawa mama pulang kerumah lagi. Maaf ma, tapi Haris sedang sakit. Sesampainya dirumah lagi, langsung memutuskan untuk tidur saja.

Sore hari, aku bersiap. Menurut rencana, kami kumpul jam 4 dirumah Putri. Kali ini, aku diminta untuk jemput Rafiq, yang sekarang sedang kuliah di Jawa, Kediri ya Fiq? Dan seorang calon dokter, suatu saat namanya akan menjadi Drg. Rafiq. Setengah lima aku berangkat. Dirumah Rafiq. “Abang Rafiq!! Ada yang jemput, sepertinya abang Haris”, kata Rafi, adik Rafiq yang paling kecil. “Yap, abang Haris jua’ae”, sahut adik yang satunya. Seketika itu aku dengar perbincangan mama dan ayah Rafiq membicarakan aku, tapi samar-samar. Yang agak jelas cuma kalimat, “Haris pacarnya Qiqi ya!?” Aku dengar dari mulut ayah Rafiq karena disebut dengan suara yang lantang. Dan dilanjutkan dengan pertanyaan, “Haris! Qiqi gimana!?”. “Udah lama pak!”, sahutku dengan cukup lantang pula.

Kami menuju rumah Putri. Sudah ada beberapa yang nongkrong, seperti David, Fikri, Kukuh, Dany, dan beberapa cewek didalam. Banyak yang belum datang, aku sudah tau, makanya datang agak telat saja. Oya, sepertinya tidak banyak yang berubah pada mereka. Masih sama, paling cuma ada tambahan kumis juga jenggot. Begitu pula Fikri, masih tetap jadi “musuh” ku. Teman, guru, sekaligus musuhku ini masih sama saja seperti yang dulu. Tetaplah seperti itu kawan!

Oya, disana kami menghubungi bapak Tiyo lagi. Ternyata beliau dirumah sakit Banjarmasin, dikira di Pelaihari. Dan tentu saja beliau tidak bisa hadir karena ada urusan yang lebih penting. Sempat usul ajak bapak Sukur aja, tapi batal juga karena ga ada yang bertindak. Setelah cukup lama menunggu yang lain, sangat lama. Akhirnya memutuskan untuk berangkat dan beberapa orang yang terlambat akan menyusul langsung ke TKP. Berangkat ke Presto Solo, nunggu. Sampai akhirnya waktu berbuka tiba, rebutan “dada”. Kayak anak kecil aja, Oya, aku dapat “dada” loh, bukan “paha”. Ayam loh, ayam maksudnya. Oya, karena kebanyakan, meja yang dipesan pun tak memenuhi semua yang datang. Dan akhirnya memutuskan untuk tanpa meja, kan lesehan juga. Yah, tidak mengecewakan reunian yang diadakan setelah setahun tidak bertemu beberapa teman.

Setelah ini, maunya aku langsung pulang.
Tapi kasian Rafiq, katanya masih kangen, haa. Akhirnya nimbrung kerumah Ayu bersama David, Dany, Faisal, Lisa, Diny, Risna, Ema dan Putri. Dengan terpaksa, hari ini bolos tarawih demi teman-teman. Ini yang kedua kalinya bolos untuk tahu ini setelah kemarin gara-gara tanglong. Sama seperti buka puasa bersama tahun kemarin, ujungnya ngumpul dirumah Ayu. Bermula dari pertanyaan kepada diajukan Rafiq, “Kapan pulang?”. Sampai akhirnya berujung cara pemindahan dengan cara paling modern, yang belum ada di dunia nyata, hanya ada didalam khayalan tingkat tinggi. Seperti itulah diskusi kecil-kecilan kami. Sampai akhirnya rombongan cewek yang tadinya menggosip di dalam kami memutuskan untuk gabung bersama kami. Topik cinta pun mulai bermunculan. Bermula dari perkataan Risna, “Har, tolong aku ngisi KRS Online”. Dany nyambut “Oya, aku belum juga KRS Online” “Nah, kan sama Dany, Fisika juga, kenapa ga minta tolong Dany aja?” Sampai berujung “ciyyeee” dari mulut yang lainnya, karena dulunya Risna ke Dany, ehm. Aku pun tak lepas dari terpaan topik cinta ini. Lisa memulai, “Semenjak Haris pacaran sama Pokochang, mulai lupa sama teman-temannya”. Dan disambung oleh David, “Haris mengumbar kata beb di twitter”. Padahal cuma teman, sekelas pula. Yang sombong siapa sih? Faktanya sih begini, kalau membutuhkan pertolongan kami, barulah Lisa menghubungi kami. Aku juga punya alasan kenapa aku jarang menghubungi Lisa, karena cerita yang aku dengar dari Faisal. Benar juga kata David, Lisa mulai berubah semenjak berpacaran lagi dengan mantannya yang putus waktu kelas 3 SMA itu. Waktu kelas 3, masih jomblo, asik. Semenjak balikan lagi, ahh. Stop. Agak dingin, memutuskan untuk melanjutkan didalam aja. Sampai akhirnya tersisa David, yang cuma ditemani Putri, sang kekasih hati. Berawal dari obrak-abrik dapur, berhasil mendapatkan dua bungkus kopi. Seketika itu pula, kami menyuruh tuan rumah untuk membuat kopi yang terbungkus itu supaya menjadi menjadi empat gelas kecil kopi siap minum. Masih saja berlanjut masalah cinta, aku masih saja dikepung dengan kejadian twitter. Malu bukan kepalang, malam ini aku dihajar rame-rame. Selain itu aku juga malu dengan hubunganku dengan teman sekelas itu yang tidak jelas waktu itu. Sempat geger dikelas aku dikabarkan telah berpacaran dengannya. Sempat geger juga di mulut temannya yang tidak aku kenal. Juga geger di mulut temanku yang tidak dia kenal. Stop. Sampai aku dimiripkan sama dosennya Lisa, dosen di STIKES MB. Dan berujung pada jaket angkatanku yang dibilang keren. Dan akhirnya, Lisa pulang duluan karena dikabarkan mamanya kambuh dan harus dibawa kerumah sakit. Kemudian Putri masuk, seketika semua terdiam dan atmosfer rumah berubah. “Din, pulang yuk”, Putri nebeng Dini itu berkata cukup memelas. Ga beberapa lama mata Putri pun mulai memerah. Wah, ga asik neh. Akhirnya kami meminta izin kepada Ayu untuk pulang.

Aku dan Faisal nimbrung dulu di rumah Rafiq. Sekalian Faisal numpang buang air kecil. Salaman sama mama Rafiq yang juga guru SD dimama Qiqi pernah sekolah dulu, sambil salaman beliau bertanya, “Gimana Qiqi?”. Tapi aku nyengir doang. Saat salaman sama ayah Rafiq ditanya lagi, “Gimana Qiqi?”. Tetap nyengir, tapi kali ini ga bisa melepaskan tangan, digenggam erat. Sekali lagi, “Gimana Qiqi?”. “Udah lama pak, hee”. “Wah, sayang ya, kenapa putus?” “Jangan dibicarakan lagi pak”, menjawab dengan muka agak stress. Akhirnya tanganku bisa lepas dari genggaman erat itu. “Oya, kemarin Qiqi sama keluarganya datang kesini, silaturahmi”, kata ayah Rafiq. Entah kemarinnya kapan, haa. Ayah Rafiq akhirnya masuk ke dalam, dan mama Rafiq tetap diruang tamu untuk menceramahi memberikan kami sedikit ilmu tentang pendidikan kepada aku dan Faisal, karena aku dan Faisal adalah calon guru dan beliau adalah guru. “Kalau memberitau Rafiq sih, beda jalurnya”, begitu katanya. Kan dokter, bukan guru. Sempat juga nanya tentang SPP. Bagaimana di Unlam? Bagaimana di STIKIP? Kata beliau jaga-jaga dulu, kalau aja beberapa tahun kemudian adik Rafiq si cewek mau jadi guru. Cukup malam, aku dan Faisal pamit pulang.

Pelaihari, 25 Agustus 2011
Haris Saputera

One thought on “Udah Lama Pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s