Tarawih

Malam 28. Sepertinya sudah terlambat untuk menulis tentang tarawih. Tapi kata orang, tak ada kata terlambat. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Aku pikir hal itu juga berlaku untuk menulis. Tak ada kata terlambat untuk menulis. Nah, sekarang lah waktunya aku menulis tentang tarawih. Walau sudah terlambat, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Kalian pun pasti sudah tau, aku adalah pemalas yang ulung. Mari cepat selesaikan tulisan ini.

Tarawih sudah dilaksanakan sebanyak 28 kali untuk tahun ini. Aku sebagai muslim juga ikut meramaikannya di tempat ibadah terdekat. Rincian tarawihku selama 28 hari pada tahun ini adalah sebagai berikut:
– 23 kali tarawih di Masjid Agung Al-Manar, Pelaihari.
– 2 kali tarawih di Musholla Abdul Aziz, dekat rumah di Banjarmasin.
– Sekali tarawih bersama teman di RM Lampau Bulan, Banjarmasin.
2 kali bolos tarawih.
– Sekali tarawih di Lap. Murjani pada saat tanglong, Banjarbaru (anggap saja bolos).
– Sekali tarawih di rumah Ayu, baru saja beberapa hari yang lalu (ini bolos juga).

Seterah Terserah kalian mau bilang aku sombong atau apa, tapi inilah aku. Sengaja menuliskan sesuatu walaupun tak ada gunanya (mumpung masih libur, kalo udah kuliah ga bisa nulis lagi). Ini juga suatu motivasi, kenapa sampai saat ini aku belum pernah tunai shalat tarawih? Benar-benar tunai. Pasti ada aja bolong karena hal-hal sepele. Aku bukan perempuan, kalau mereka sih wajar. Iri aja gitu sama Imam ataupun tokoh Masjid yang lain yang selalu full tarawih tiap Ramadhan.

Oya, aku juga mau kenalin beberapa orang familiar dengan tarawih. Yang pertama adalah Imam yang sering memimpin shalat di Masjid Agung Al-Manar ini tidak pernah absen shalat tarawih bertahun-tahun, seringkali seusai tarawih aku tidak lupa sekalian cium tangan beliau. Selanjutnya adalah Imam sekaligus Kaum (sebutan untuk pengabdi Masjid, Langgar, maupun Musholla) Musholla Abdul Aziz, Musholla terdekat dari rumahku di Banjarmasin. Beliau tidak pernah absen juga. Selanjutnya adalah seorang makmum Masjid Al-Manar yang mempunyai ciri khas duduk ketika shalat. Beliau tidak lumpuh, buktinya bisa berdiri. Entah alasan beliau memilih untuk shalat duduk, aku juga tidak tau. Untuk tahun ini, sepertinya beliau selalu hadir. Selanjutnya, seorang Makmum Masjid Al-Manar pula yang kepala selalu bergerak-gerak sendiri, disebut ayan ya? Mungkin ada beberapa hari beliau tidak hadir, tapi sangat familiar karena bertahun-tahun kenal. Selanjutnya seorang Makmum Masjid Al-Manar yang dari perawakannya sepertinya dua tahun diatas saya. Info terakhir, dia adalah mahasiswa Farmasi (nguping dari percakapannya sama seorang bapak). Sepertinya dia juga belum pernah bolos. Dia sudah aku liat sejak tahun kemarin atau kemarinnya kalau ga salah, selalu shalat tarawih di Masjid Al-Manar juga. Semenjak Masjid Al-Manar belum direnovasi. Selanjutnya adalah seorang Makmum Masjid Al-Manar, anak kecil yang terbilang masih SD (ku tau karena melihat cover buku “Agenda Ramadhamku” miliknya). Bukan seperti anak lain, setidaknya dia tidak “goyang-goyang” waktu shalat. Dia tidak pernah tanya kepada orang disebelahnya, “Berapa rakaat lagi?”. Dia selalu menyelesaikan tarawihnya. Dia selalu berada pada shaf pertama atau kedua. Tapi akhir-akhir ini dia sering di shaf ketiga atau keempat. Dengan adanya buku Ramadhan benar-benar membuat dia serius tarawih, bukan sepertiku yang sekali shalat, sekali istirahat, bahkan ada yang ikut witirnya doang yang penting dapat tandatangan Imam. Selanjutnya adalah Nazar. Adik kelas yang terpaut dua tahun dibawahku. Semenjak SMA, dia tidak kelihatan lagi shalat tarawih di Masjid Al-Manar. Dulu, waktu aku masih kelas 1 SMP, dia menemaniku shalat tarawih di luar Masjid. Saat itu, dia masih kelas 5 SD. SD nya jauh, anak pantai gitu deh. Tapi ketika bulan Ramadhan dia ke liburan Pelaihari Kota. Aku dan Nazar satu SMP dan satu SMA. Walau tidak terlalu akrab, kami masih mengenal satu sama lain, kalau diterjemahkan “teman” mungkin ya. Segitu aja dulu orang yang familiar dengan tarawihnya. Kalau diceritakan semua ga bakalan selesai tulisannya.

Sudah kebiasaan, atau sebut saja kebiasaan buruk ya. Terbiasa berangkat ketika adzan Isya sudah berkumandang. Bukan hanya ke Masjid, bahkan kalau kuliah pun sering on time. Beberapa kali ketinggalan satu atau dua rakaat pada Isya. Dan karena kebiasaan berangkat ketika adzan Isya ini sulit untuk berada di shaf pertama, cuma beberapa kali dan sering kali berada di shaf kedua. Oya, aku tegaskan sekali lagi. Bukannya sombong atau apa, tapi inilah aku. Masih banyak kok orang yang lebih taat daripada aku. Aku cuma mau merasakan tunai tarawih. Bukan dengan embel-embel uang seribu tiap sekali tarawih. Bukan demi tandatangan sang Imam. Bukan demi tatapan sangar mata sang ayah yang tepat berada disamping ketika shalat tarawih. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam.

Sedikit cerita. Beberapa minggu yang lalu, aku mau membahas sesuatu yang cukup penting dengan Edwin dan Uya. Malam itu, Uya berada di rumah Arief. Akhirnya kami memutuskan untuk membahasnya di rumah Arief saja. Aku ke rumah Arief, begitu pula Edwin. Aku yang datang duluan, lengkap dengan penampilan sehabis tarawih, karena rapat dadakan dan cukup penting.

Arief menyapa,
“Kok pakai baju koko? Habis tarawih Ris?”
“Yap.”
“Ah, bohong. Aku ga percaya ah.”

Apa salahku sih? Masa muka begini *nunjuk muka sendiri* dibilang ga cocok shalat tarawih? Apa lebih cocok jadi penjahat ya?

Oya, suatu malam sehabis tarawih di Masid Al-Manar pernah tausyiah (ceramah agama) dari Habib Nabil Al-Musawa (ada gelarnya sih, tapi lupa). Beliau memberikan sedikit pengetahuan mengenai tarawih. Bagi orang Indonesia, khususnya kita, 20 adalah jumlah rakaat yang wajar. Tidak jarang kita menemui yang 10 rakaat. Masih pula ada beberapa orang yang malas mengerjakannya. Beliau pernah ke luar, kalau ga salah di Turki, beliau pernah shalat tarawih 40 rakaat, bahkan di tempat lain ada yang 50 rakaat. Karena jumlah rakaat pada tarawih itu tidak terbatas. Kalau kita terbiasa, maka akan jadi biasa.

Pernah juga baca suatu artikel seorang Kompasianers. Ceritanya kurang lebih seperti ini. Ada seorang ayah yang mempunyai tiga anak. Tapi ketiga anaknya ini selalu tarawih pada Masjid yang berbeda. Si A tarawih di Masjid A yang selalu melaksanakan shalat tarawih dengan menghabiskan satu juz tiap malamnya. Si A selalu saja pulang larut malam karena agak lama tarawihnya. Si B tarawih di Masid B, tapi selalu tertidur di Masjid dan pulang saat orang selesai tarawih. Si C shalat di Masjid C dan selalu pulang pada pertengahan tarawih. Pada suatu hari, ayahnya mengajak ketiga anaknya untuk shalat di tempat yang sama, Masjid B. Si C oke saja. Tapi si A ogah karena sudah terbiasa shalat di Masjid A. Dibujuk berulang kali sampai akhirnya si A mau untuk shalat di Masjid B. Seperti biasa, si B tertidur di Masjid. Sedangkan si C tetap pulang pada pertengahan shalat. Tapi si A berkata, “Tarawihnya singkat ya”. Nah, begitulah kurang lebih ceritanya. Kembali ke perkataan Habib, Kalau kita terbiasa, maka akan jadi biasa. Konon katanya, artikel ini merupakan kisah nyata dari Kompasianers yang berperan sebagai ayah pada cerita ini.

Pelaihari, 28 Agustus 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s