Hari Raya yang Kelam

“Har, sore ini datang kerumah ya, merayakan hari raya dirumahku.” “Wah, ga bisa Sa, aku masih puasa.” “Oh iya ya, lupa aku. Malam aja deh. Sekalian nyalain kembang api.” “Nah oke tuh. Yang lain udah dikabarin belum?” “Belum, hee. Kabarin yang lain yaa.”

Yap, seperti itulah pembicaraan singkat melalui pesan singkat dengan Lisa di Selasa siang. Dia bersama keluarganya yang menganut aliran Muhammadiyah dan kebetulan lebaran duluan.

Oya, sebelumnya juga sudah ada usul di grup tertutup di Facebook bahwa malam hari raya mau kumpul di rumah Sheren, tapi ga jelas karena kurangnya komentar dari member lain. Nah, sore itu aku nyebar pesan singkat ke teman kalau malam ini kita kumpul dirumah Sheren. Masalah ke rumah Lisa, ya siapa yang pengen, ikut aja habis dari rumah Sheren. Ternyata malam ini Sheren mendadak ga bisa dan dibatalkan secara sepihak. Dan aku pun nyebar sms kalau kumpul di rumah Lisa aja. Beberapa orang sudah respon positif. Namun beberapa lainnya dengan alasan yang sangatlah jelas dan yang lainnya lagi tanpa kabar. Berbagai alasan yang sangat masuk akal, ada yang ga bisa ikut karena takut minta izin keluar malam sama ortu, ada yang ga bisa ikut karena si A ga ikut (semacam terikat satu sama lain), bahkan ada yang ga bisa balas sms karena pulsa habis lalu ngirim ke wall Facebook aku, dan berbagai macam alasan lainnya.

Malam tiba, sementara yang bisa ikut cuma 4 orang, itupun salah seorang menyatakan akan telat datang. Malam itu, aku jemput Addin, nunggu David, dan berangkat kerumah Lisa. Udah agak terlalu malam sih. Dijalan pun sudah agak ramai dengan orang lalu lalang ga karuan. Tapi ga terlalu macet, soalnya kan Pelaihari adalah kota perantauan, layaknya ibukota. Ga seperti kampung halaman yang sudah pasti macet berat pada malam hari raya. Ditambah lagi, acara takbiran malam ini tak terurus karena bimbangnya kapan hari raya. Oya, pada malam ini juga puncaknya sms ucapan selamat hari raya berhamburan. Bahkan ada isinya yang sama. Tapi cuma satu yang spesial, sms dari Serli yang isinya, “Haris, bla bla bla”. Inilah satu-satunya orang yang tidak ngirim sms lebaran dengan “send to all”. Dan hanya sms ini yang aku balas dari sekian banyak sms ucapan selamat hari raya yang masuk. Jujur, aku malas ngirim sms “send to all” seperti ini, ga ada maknanya juga. Sama aja isinya dengan sms kosong atau sms yang isinya “Maaf, numpang buang sms gratis”.

Sesampainya di rumah Lisa, ternyata gelap. Lampu depan rumah mati. Kursi bergoyang sendiri. Dan lolongan serigala pun terdengar jelas. Oke, oke, lebay. Lampu depan rumah mati. Mendekati pinti rumahnya dan kutekan tombol bel rumahnya. Seketika datang seseorang dan “klik”, lampu depan rumah menyala dan pintu terbuka. Seseorang perempuan semrawut yang diduga jelmaan kuntilanak sepertinya baru saja bangun dari tempat tidur itu keluar dari pintu. “Tunggu bentar ya, aku merapikan rambut dulu. Silakan masuk.” Seketika itu pula kami permisi masuk dan dia bergegas ke kamarnya. Banyak kue nih. Lahap abis. Dan Lisa datang lagi dengan rambut yang sudah rapi, “Minum apa?” Addin, “Panas.” David, “Es.” Aku, “Apa aja deh.” “Serius Har -_-” “Es panas deh.” Bla bla bla. Sampai Faisal datang. Makan sambil ngobrol panjang. “Sa, kembang apinya mana?” “Ah, malas nyalakan, orangnya sedikit.” “Kalo ga sekarang kapan lagi?” Tapi dia tak kunjung mengambil kembang apinya. Yasudahlah.

Oya, kami juga ngobrol panjang disini. Cuma sebagian yang bisa aku ceritakan. Ini topik dari Lisa, “Dilihat dari muka, sebenarnya kita ga cocok jadi mahasiswa.” Memang, tampilan wajah kami tidak jauh berbeda dari SMA kemarin, bahkan SMP. Tapi lihatlah pemikiran kita, lebih kritis daripada sebelumnya. Itulah mahasiswa. Perdebatan sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswa, karena mahasiswa itu kritis. Disini kami buka-bukaan. Juga membahas banyak topik, walau ga penting sekalipun. Mulai masalah hilal, masa SMA, masa SMP (kebetulan yang ngumpul berasal dari SMP yang sama, SMP Negeri 1 Pelaihari), bahkan masalah kesehatan yang notabene mengandung unsur porno yang tidak canggung lagi bagi kami juga ikut dibahas, beserta topik lainnya.

Salah satu topik lain yang mau aku share disini adalah mengenai kesan Lisa terhadapku beberapa waktu setelah kuliah. Ini kata Lisa. Masa lalu. Suatu malam, Lisa nelpon, dan kebetulan aku sedang kencan ke kost seorang cewek, sebut saja M. Kebetulan M sedang megang HP aku, dan entah apa yang aku kerjakan saat itu, kalau ga makan nasi goreng, atau ngerjakan tugas, entahlah. M pun mengangkat telponnya, “Hallo”. Dalam hati Lisa, “Kok cewek?”. Lisa jawab, “Hallo, Haris mana?”. “Kamu siapa?”. “KAMU YANG SIAPA!?”. Aku ambil HP ku, “Kenapa Sa?”. “Hmm.. Sebenarnya mau minta tolong bla bla bla (aku lupa dia mau minta tolong apa). Tapi ga jadi deh, sepertinya kamu lagi sibuk”. “Ga apa-apa Sa, beneran mau aku tolongin? Kalau mau, aku berangkat kerumahmu sekarang juga”. “Ga jadi deh”. “Yasudahlah”. Nampaknya dari muka Lisa saat menceritakan kisah ini ke forum, kelihatan agak kecewa dengan arti sahabat. Terus saat ngantar kakak Lisa, si Nida yang mau berangkat ke Batulicin. Saat itu sudah malam, dan kebetulan Lisa ga berani pulang malam. Dia berangkat sama kakaknya dan pulangnya minta jemput aku. Dan kebetulan malam itu aku sedang bersama M baru saja pulang dari suatu kegiatan. Aku ajak aja M, dan dia mau ikut aku untuk jemput Lisa di terminal Banjarmasin KM 6. Terjadilah pembicaraan panjang antara aku dan Lisa ketika dijalan pulang. Kata Lisa di forum (bukan saat dijalan), “Aku benci, saat aku sama Haris asyik bicara. Eh, tiba-tiba M pegangan sama pinggangnya Haris”. Kalau aku sih, ga tau apa yang dibelakang perbuat. Aku lebih fokus sama jalan dan HP daripada memperhatikan tangan yang dibelakang. Serius, aku ga sadar kalau ada yang pegangan mesra sama aku. Sesampainya dirumah Lisa, numpang shalat Maghrib, lalu pulang. Nah, waktu pulang Lisa liat M pegangan mesra lagi (kata Lisa). Lalu Lisa jadi kesal. Semenjak kejadian itu, putus hubungan sama Lisa. Haris dikatain sombong. Haris dikatain bla bla bla. Perlahan teman SMA yang lainnya pun hilang dari peredaran. Mungkin Lisa sudah menyebar virus jahat kepada yang lain. Hmm.. Masa lalu yang kelam.

Cukup lama nongkrong dirumah Lisa, sampai akhirnya Lisa 3X menguap (menguap bahasa Indonesia nya apa?) dan kami permisi pulang. Oya, dirumah Lisa memang sepi. Kakak-kakak Lisa ada yang dirumah sendiri, ada juga yang dirumah mertua. Mama Lisa baru beberapa hari yang lalu pulang dari rumah sakit dan kemungkinan sedang istirahat. Ayah Lisa sebenarnya nunggu kami juga, tapi karena kami telat, beliau sampai ketiduran. Jam 12 malam kami pulang. Besok harinya agak telat bangun. Aku ga sarapan. Waktu shalat EID pun aku ngantuk juga, menguap beberapa kali. Pulang shalat EID, baru makan. Beberapa kali makan soto, ketupat, lontong, dan sebagainya. Tapi kali ini aku makan dalam porsi yang minimal supaya ga ada yang merasa kecewa karena makanannya ga dimakan. Siang hari, sekitar jam 11, aku sama Addin dan David berkunjung kerumah Serli. Itu loh, yang ngirim sms spesial malam tadi, kakak kelas aku SMA dan sekarang jadi kakak tingkat aku di Matematika. Dan disini, dia sempat membuatku galau sejenak. “Ris, tadi Qiqi ada kerumah juga”. “-__- #kemudianhening”. Disana juga disuguhkan soto dan beberapa kue lebaran yang KATANYA buatan Serli sendiri. Cukup lama disana sampai permisi untuk pulang dan mampir dilain tempat.

(Sebenarnya sudah ditulis sejak sehari setelah hari raya, tapi belum selesai dan baru selesai sekarang).

Banjarbaru, 7 September 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s