Hmm.. Inikah Keluargaku?

Hari itu, tepat aku pulang kampung menuju Barabai. Sebelumnya mampir dulu di Bati-bati, sekitar 40 km dari Pelaihari. Menjemput salah satu sepupu jauh. Ayah nya sepupu dengan ayah ku, jadi dia dengan aku?? Hmm, ga penting. Ternyata dia udah gede. Anak kecil yang dulu masih amit sekarang jadi remaja yang nyerocos, sama seperti mamanya yang nyerocos pula. Sekarang dia udah kelas 3 SMA, dan liat kumisnya itu, so sexy. Dengan kulit putih dan rambut yang sengaja diberantakin membuatnya terlihat sangat keren. Sebut saja Lana. Pertama kalinya aku nyebut sepupu jauh terlihat keren setelah nyebut sepupu aku yang lain AGAK keren dengan rambut ala Justin jaman dulu. Sekarang rambutnya tambah panjang seperti badannya.

Hmm, dirumah Lana sempat ngobrol panjang. Yang cerita disini adalah paman Harto, ayah Lana sekaligus sepupu ayahku. Beberapa waktu yang lalu, Awi minjam V-Ixion Lana buat kuliah. Motor Awi yang dulu dicuri orang di Banjarmasin ketika makan sama pacarnya di sebuah rumah makan, katanya lupa ngambil kunci kendaraan. Sebelumnya perkenalkan dulu, Awi adalah sepupu Lana, dan sepupu jauh aku juga, jadi aku dengan Awi sama seperti aku dengan Lana (sama-sama sepupu dua kali, paham?). Kata Awi, adiknya si Yasir dipukuli orang, lalu kabur, tapi motornya tertinggal. Motor Beat putih Yasir pun jadi sasaran, kedua ban dicincang, body nya pecah berantakan. Entah apa yang menyebabkan Yasir dipukuli orang, aku juga tidak terlalu jelas mendengar cerita yang dipaparkan oleh paman Harto yang mendengar kisah dari Awi. Paman Harto juga bilang, semenjak tiga bersaudara itu (Awi, Tia, dan Yasir) mulai keluar rumah, kelakuannya mulai gila. Aku ingat ketika SD sering main kerumahnya di Barabai Kota di ajak pamah Shaleh. Ketiga orang itu dikurung dalam rumah dengan fasilitas yang nyaman. Lihatlah sekarang, Yasir udah bisa mabuk-mabukan, bahkan katanya nyabu (katanya ini salah satu penyebab dipukuli). Awi yang kuliah di IAIN Banjarmasin dua tahun sebelum aku kuliah pun sempat kehilangan motor. Tia yang kuliah di Akbid setahun sebelum aku kuliah pun sudah mulai berani cari kehidupan bebas. Dulunya dia dititipkan di rumah uwa Idah (kaka paman Harto dan juga kakak dari mama ketiga bersaudara itu), tapi sekarang ga mau lagi dan milih untuk tinggal di kost. Awi dan Tia dikirimkan uang 3jt per MINGGU. Entah itu untuk biaya hidup doang, atau dengan buku dan sebagainya aku juga tidak tau. Yang pasti bukan dengan biaya sewa rumah dan bayar SPP. Entah itu masing-masing 3jt atau gimana, berdua 3jt pun aku rasa sudah sangat banyak, apalagi perminggu. Kabar ini aku dengar dari paman Harto.

Berangkat dari Pelaihari ke Barabai. Bersama keluarga aku dan keluarga Amat (sepupuku yang di Pelaihari, anak uwa Nana), bersama seorang keluarga jauh, Lana. Ayah dan mama Lana pakai motor, sementara motor Lana dipakai Awi, katanya mau dibeli. Dijalan sangat macet. Masih arus mudik, bahkan sudah ada yang balik. Beberapa tempat macet berat, Martapura, Rantau, dan lainnya. Sesampainya di Pantai Hambawang (tempat kelahiranku, pinggiran Barabai), ayah dan mama Lana udah disana. Salam-salaman sama keluarga yang disana. Dan satu yang ga ada, sepupuku, Ancah (anak paman Shaleh). Waktu dijalan, dia bilang “Kalau sampai, kabari ya”. Aku sudah sampai, dan dia belum ada juga, padahal aku sudah sms. Akhirnya aku telepon, “Dimana??” “brm Di brm brm brm jalan brm brm (anggap bunyi motor dan mobil)”.

Malam itu, kami ke rumah mertua uwa Nana yang ada di Barabai Kota, tepatnya di Keramat, Manjang. Sekalian mau makan bakso dan ditraktir oleh paman Shaleh. Oya, kenapa waktu itu Amat sama Ancah ga ikut ya? Hmm, aku ingat! Waktu itu cuma aku yang kumpul sama keluarga, paman, uwa, dan sepupu cilik. Sementara Amat dan Ancah memilih dikamar. Dan cuma aku yang tau kabar akan ditraktir bakso, wahahahaa. Setelah ngantar paman Taberi (ayah Amat, isteri uwa Nana) kerumah orang tuanya kami pamit pulang. Orang tua paman Taberi sangat aktif ngomong. Ga ada berhentinya kalau kami ga pulang. Cukup lama sih disana. Keliling Barabai mencari bakso dan berujung hampa. Bakso habis dan ada juga yang udah tutup karena kemalaman.

Besok harinya di Pantai Hambawang, Ancah cerita, malam tadi ramai kepasar. Katanya malam tadi berburu hantu pasar lagi. Entah kekuatan apa yang dimiliki sepupuku Ancah dan temannya itu. Aku pernah diajak kepasar waktu liburan ke Barabai sebelum ini (dulu ceritanya ditulis, tapi ga selesai dan berujung ditong sampah). Kelakuan mereka seperti orang kerasukan, ada yang mengaum, bahkan berguling. Haris, suami Imau (kakak Ancah) juga ikutan. Tapi mereka beda guru (katanya). Aku kenal banyak teman Ancah yang merupakan temanku juga. Dulu kan sempat tinggal di Barabai. Kalau saja aku tidak minggat ke Pelaihari, mungkin kelakuanku seperti mereka. Menggila, mabukan, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa yang, hmm, parno patrio.

Kenapa jadi ceritanya seperti ini? Hmm, kebiasaan kalau cerita suka ngelantur. Pokoknya nulis apa yang ada di dalam otak. Bahkan banyak pemeran asing yang muncul di tulisan ini, bahkan kalian tidak mengenal rupanya. Sudahi dulu yang ini, lanjut ke tulisan selanjutnya.

(Tambahan)
Pada tulisan sebelumnya, waktu pulang dari rumah Sheren, ga langsung pulang kerumah. Aku dan Faisal mampir dulu kerumah Deni, siswi alumni SMA Negeri 1 Pelaihari juga, tepatnya IPA 3. Dan disana disuguhkan soto porsi jumbo. Emangnya kami punya badan besar sepertimu Den? Tambahan lagi. Waktu siang hari, dirumah Serli, sempat diajak Madan kerumah Ana. Tapi aku baru saja sampai kerumah Serli, masa langsung pamit? Akhirnya Madan sama Faisal doang yang kerumah Ana, dan kata Faisal ga asyik. Pokoknya waktu di Pelaihari keliling terus. Biasanya ada yang bagi THR, tapi di Pelaihari ga dapat. Mungkin saat malam hari raya itu si “pemberi THR” datang kerumah. Hmm, sial.

Banjarmasin, 9 September 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s