Rencana yang Sangat Matang

Hmm.. Berawal dari kemalasanku. Lebih baik santai duduk maupun tiduran dan berkhayal tentang masa depan yang sangat mengesankan. Ibarat pepatah, talk more do less. Berharap bisa berubah menjadi TIDAK malas lagi. Perlahan aku wujudkan perubahan yang tidak terlalu penting itu. Salah satunya adalah perencanaan sedikit namun matang, dan bertindak sesegera mungkin.

Sudah lama menerapkannya. Dulu, perencanaan 75% dan tindakan 25% (kadang bertindak tersendat-sendat) bahkan bisa 0% (sebut saja berkhayal). Sedikit kemajuan hingga perencanaan 50% dan tindakan 50%. Dan berusaha supaya menjadi perencanaan cukup 25% namun matang dan tindakan 75% (maksimal). Oya, perencanaan dengan persiapan beda lo. Kalau persiapan sudah masuk tindakan. Kenapa ngomongin ini sih? Langsung saja deh.

Bermula dari sana aku mulai benar-benar merencanakan sesuatu. Acara buka bersama yang mati-matian kami adakan sukses. Kemudian aku rencanakan silaturahmi kerumah guru-guru pada hari raya Idul Fitri juga direncanakan sangat matang. Aku janji bisa datang pada tepat sore hari raya itu, maka aku datang, tapi acara dibatalkan. Acara berlangsung besok hari setelah hari raya, aku tetap ikutan mengurusnya walau ga bisa ikut.

Kemudian rencana pulang kampung ke Barabai. Ini aku pikirkan secara serius, karena menyangkut masa depanku. Ada dua pilihan. Bareng keluarga atau sendirian. Sudah pasti kan milih bareng keluarga? Tapi ada beberapa alasan yang membuatku berpikir sejenak. Bareng keluarga, berangkaat sehari setelah hari raya dan dipastikan aku ga bisa ikut silaturahmi kerumah guru-guru. Kemudian masalah balik ke Pelaihari lagi. Rencananya mau bertahan sampai acara resepsi pernikahan teman di Barabai dan kemungkinan ditinggal keluarga yang pulang duluan. Kalau saja aku pilih pulang sendirian pakai motor pasti akan banyak kelebihannya. Bisa silaturahmi kerumah guru-guru, kemudian tanpa ribet memikirkan bagaimana pulang ke Pelaihari. Tapi keputusanku bulat, aku memilih yang bertantangan, pulang kampung bareng keluarga. Tapi sebelumnya aku pastikan dulu aku bisa nebeng seseorang buat balik. Hifni, warga Antics (Anak Mathematics) yang berkebangsaan Kelua ini bersedia untuk aku tunggangi. Deal, aku ikut keluarga dan bisa nulis dalam mobil dalam perjalanan pulang kampung (tindakan 0% alias berkhayal, tidak ada satu tulisan pun tercipta ketika di dalam mobil). Oya, tidak lupa aku bawa helm. Masalah balik ke Pelaihari dipikirkan nanti, entah ikut Hifni dulu ke Banjarmasin, atau mampir di Banjarbaru lalu minta jemput babe, atau mampir di terminal dan pulang pakai taksi. Beberapa macam pilihan sudah sangat direncanakan. Kalau aku ikut Hifni ke Banjarmasin, otomatis aku tidak bisa jalan-jalan (motor aku kan di Pelaihari), terus masalah ke kampus aku bisa minta jemput Basil ataupun Nida untuk beberapa hari. Tapi akhir dari perencanaan ini beda dari beberapa pilihan yang direncanakan. Perencanaan ini berakhir dengan suksesnya aku menculik motor Radith ke Banjarmasin dan dan mengurungnya dirumahku untuk seminggu kedepan hingga di tebus seharga 100jt.

Selanjutnya perencanaan yang masih direncanakan. Ini tentang seminggu kedepan. Pada malam hari raya, waktu silaturahmi kerumah Lisa, aku diberi undangan berisikan resepsi pernikahan Nida, kakak Lisa. Nida yang dulu di Matematika itu (sempat aku pinjam bukunya), karena saking pintarnya dia pindah ke PLN dan berhenti di Matematika, dan setelah satu tahun belajar dia langsung kerja. Sekarang ditempatkan di Batulicin. Kabar resepsi pernikahan Nida sudah kudengar dari Lisa jauh hari sebelum ada undangan ini. Tepat 18 September, tapi aku baru sadar kalau 18 September bertepatan dengan ospek Matematika. Aku mulai bingung, dan sudah bilang ke Lisa kalau aku ga bisa hadir. Tapi tetap dipaksa supaya bisa hadir. Oya, acaranya sampai malam, karena daerah tempat dia tinggal menganut aliran seperti itu. Daerah tempat dia tinggal, mayoritas orang Jawa dan dia yang bukan orang Jawa tetap melaksanakan acara resepsi pernikahan sampai malam layaknya orang Jawa. Aku dipaksa datang, walau malam sekalipun. Rencana aku, setelah ospek, sore hari aku langsung berangkat ke Pelaihari. Entah balik ke Banjarmasin malam itu pula atau pagi-pagi buta demi kuliah hari Senin.

Selanjutnya masalah besok hari setelah resepsi pernikahan Nida, yaitu Senin, 19 September 2011. Seseorang berulang tahun pada hari ini. Aku berencana tidak jadi pulang pagi-pagi buta dan memutuskan untuk bolos kuliah Senin itu. Setelah aku liat jadwal, Senin pagi kuliah Metode Statistika dan dosennya ibu Hairani, dosen PA aku. Dosen yang akrab disapa bu Hai ini benar-benar dosen pujaan mahasiswa, sama seperti ibu Mastinah. Alasannya bisa titip absen dengan aman pada mata kuliah beliau. Atau ada beberapa mahasiswa yang bolos sudah lebih tiga kali dan masih diperbolehkan ikut ujian. Maaf, aku ga pernah seperti itu. Cuma pernah sekali bolos pada mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, diajak teman yang lain dan kebetulan mau (biasanya tegar dan tidak mau diajak, mungkin kemarin dipaksa), dan beruntungnya saat itu dosennya juga ga masuk. Mata kuliah ini memang seringkali terbengkalai karena dosen yang bolos, biasa lah, dosen yang super sibuk. Oke, kembali ke cerita. Karena melihat dosennya adalah bu Hai, aku memutuskan untuk bolos kuliah pagi. Ini aku lakukan karena yang ulang tahun. Pagi itu aku akan datang ke sekolah, SMA Negeri 1 Pelaihari dan masuk ke kelas XII IPA 3 sambil bawa kue ulang tahun dan kado. Sebelumnya minta izin dengan guru yang sedang mengajar waktu itu. Aku bisa saja cari informasi, pelajaran apa yang akan dipelajari pagi itu. Kalau Olahraga, aku akan ke lapangan. Bisa juga di Lab Komputer ketika sedang praktik atau di Lab IPA ketika sedang penelitian. Setelah acara kecil-kecilan itu, aku akan bergegas balik ke Banjarmasin dan ikut mata kuliah Belajar dan Pembelajaran pada jam 10. Sayangnya rencana ini termasuk dalam kategori khayalan karena sulit untuk diwujudkan.

Rencana yang matang, rencana yang malang. Hmm..

Banjarmasin, 9 September 2011.
Haris Saputera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s