Pagat Lagi

Sudah lama hilang dari dunia “tulisan tanpa tinta”. Entah disebut sok sibuk atau benar-benar sibuk, aku juga tidak tau. Tapi aku lebih berpihak pada kata “malas”. Banyak sekali yang mau diceritakan, sangat banyak. Tapi akan kuceritakan sesuai urutannya saja, agar tidak berantakan.

Malam ini TERPAKSA aku meluangkan waktu sibukku untuk menulis. Harus bisa!

Aku hanya akan cerita seingatku. Saat itu aku masih di Barabai. Beberapa minggu yang lalu, tepatnya pagi Minggu, 4 September 2011, ada sms dari Heza yang intinya dia minta tolong supaya Iqin bisa diperbolehkan menginap di rumahku, di Barabai. Heza teman sekelas yang tinggal di Banjarmasin dan berniat datang ke Barabai demi menghadiri acara resepsi pernikahan Nurul di Barabai. Sedangkan Iqin adalah teman SMP aku, tapi waktu SMA dia mudik ke Banjarmasin sementara aku tetap di Pelaihari. Kami dipertemukan lagi di Perguruan Tinggi. Satu fakultas, FKIP Unlam. Dia Ekonomi, sementara aku Matematika. Dan kebetulan Iqin berpacaran dengan Heza yang berada di Matematika.

Pagi itu hujan cukup lebat dan katanya Heza dan Iqin kehujanan dan ga punya jas hujan. Sempat beberapa kali singgah di Masjid juga. Saat di suatu tempat, mereka makan dan beli jas hujan. Oya, ini pertama kalinya mereka ke Barabai, jadi masih buta. Kata Heza, dia di bla bla bla, intinya dia mendeskripsikan suatu daerah dan ternyata ga jauh dari rumahku. Setelah mandi, aku jalan jemput mereka dan kuajak kerumah. Sebelumnya juga ada rencana jalan sama Giegie, Lilis, Haifa, Radith, dan Tiya. Nah, saat itu Lilis sama Haifa datang kerumah. Giegie juga kerumah. Setelah ngumpul, kami berangkat ke Barabai kota. Aku nebeng sama Giegie. Oya, waktu dijalan mampir di pom bensin. Saat itu aku nelpon sepupuku, Ancah. Aku suruh dia cepat pulang kerumah karena yang lain mau balik ke Pelaihari diantar paman, semacam pelepasan. Waktu nelpon, yang angkat pertama adalah cewek. Sial, dia lagi dirumah pacarnya. Kebetulan rumahnya kosong. Kemarin sore sempat ketemu sama pacarnya. Agak iri, orang seperti ini kok bisa punya pacar CUKUP cantik? Kembali ke cerita. Kami berangkat jemput Radith, lalu bersama-sama menuju rumah Tiya. Dirumah Tiya ngobrol panjang, dan merencanakan kegiatan besok hari.

Cukup lama nongkrong, kami balik lagi. Mampir dulu dirumah neneknya Lilis. Heza nginap disini. Lalu kami pulang. Aku nebeng Iqin. Menggigil sepanjang jalan. Hujan gerimis tetap mengundang, pakai celana pendek. Disuruh bawa motornya pula. Sepertinya kejadian hujan-hujanan seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Saat liburan ke Barabai juga, saat itu aku, Radith dan Nurul hujan-hujanan kerumah Tiya. Sempat nulis tentang liburan ini, tapi apa daya berujung di tong sampah.

Anu, ternyata sore itu keluargaku ga jadi balik ke Pelaihari. Malam hari baru balik. Ancah sempat marah juga karena aku nyuruh dia pulang sore tadi. Katanya ganggu saja, padahal lagi asyik. Semua yang dari Pelaihari diantar pulang bersama beberapa orang Barabai yang ikut seperti tante dan adik sepupu. Yang tersisa dirumah adalah Ancah, nenek Ancah, dan Imau (kakak sepupu) yang kebetulan lebih sering berada dirumah suaminya, Haris (isn’t me!). Malam itu, Iqin tertidur pulas. Mungkin sangat kelelahan. Perjalanan jauh dari Banjarmasin ke Barabai, dan sesampainya di Barabai pun diajak jalan lagi.

Besok harinya, Senin 5 September, tepat hari resepsi pernikahan Nurul. Banyak yang sudah masuk ke sekolah kembali, tidak ketinggalan pula si Ancah. Pagi itu aku sama Iqin menuju rumah neneknya Lilis. Disana aku ada Lilis, Haifa, juga Heza tentunya. Aku nyuruh Tiya datang kesana. Kan sungguh tidak mungkin aku merayap ke rumah Nurul. Aku nebeng sama Tiya. Kami menuju rumah Radith yang sudah ada Iqbal Kandangan, Azie Amuntai, dan Hifni Kelua, bersama teman-teman Radith Barabai.

Kami menuju rumah Nurul. Hmm.. Udah nikah ya sekarang? Giegie Barabai dan Saddam Nagara menyususl kemudian. Oya, Saddam sudah siap dengan segala peralatan menuju Banjarmasin. Dia mau balik hari ini, sementara menurut kabar perkuliahan dimulai hari Kamis. Oya, setelah dari rumah Nurul, kami merencanakan mau jalan kesuatu tempat. Rencananya mau ke Pagat, atau Loksado, atau Loklaga, atau kerumah Giegie. Dan keputusan terakhir yang aku tau adalah ke Pagat. Setelah pulang dari rumah Nurul. Aku nebeng Lilis, kerumah neneknya Lilis. Mungkin terlalu cepat hingga agak lama nunggu yang lain dirumah Lilis. Dan dengan sengaja, mereka melewati rumah neneknya Lilis, mungkin dikira mau langsung kerumah Tiya. Akhirnya memutar haluan untuk kembali kerumah Lilis, tapi Giegie ga mau. Waktu mau berangkat, ada sedikit pembahasan yang tidak aku ketahui. Tiba-tiba saja mereka memutar arah. Sementara Giegie masih disana, beda arah. Aku nebeng Azie bersama Iqin dan Heza jemput Giegie. Saat ditemui, muka Giegie sudah cukup kalut. Aku sudah menawarkan diri, bagaimana kalau aku bonceng, tapi dia tidak mau. Aku tidak tau tujuannya sekarang. Apakah mau ke Haruyan, Loklaga, atau Loksado. Aku tadak dapat kabar. Aku tanya sama Iqin, Heza, dan Azie, mereka cuma geleng-geleng. Rombongan yang lain sudah tidak keliahatan menuju kemana. Sempat aku pikir ke Pagat dibatalkan dan mau ke Loklaga aja. Kordinasi kurang jelas. Saat mau menuju arah Loklaga, mungkin ada sms dari Tiya kalau ke Pagat aja. Sementara mereka tadi lewat jalan memutar menuju kerumah Tiya. Kenapa ga bilang? Bikin aku bingung saja. Oya, sulit sekali untukku berkomunikasi disini. Three aku ga ada sinyal. Sementara tau sendiri kan gimana telkomsel? Mahal woy! Biasa laah, mahasiswa. Diputuskan, kami menuju Pagat dan yang lain disuruh nyusul ke Pagat. Saat memutar haluan, Giegie menghilang. Beberapa saat kemudian masuk sms Gigie yang berisikan. “Ris, aku pulang aja ya. Daripada ga jelas, lebih baik aku melayat ke kuburan mantan aku aja. Takutnya besok ga bisa.” Sebenarnya Giegie sibuk, apa daya teman-temannya seperti ini. Agak kasihan juga sama Giegie, dia sudah meluangkan waktunya, tapi? Apalagi kalau membawanya ke Pagat, akan teringat kejadian setahun lalu bersama mantannya itu. Sudah, sudah. Aku, Azie, Iqin dan Heza menuju ke Pagat. Lama nunggu disana, SANGAT LAMA! Malah kami sempat jalan ke atas dulu. Agak kecewa ya. Kami yang galau, sementara mereka lagi nyaman dirumah Tiya. Aku kecewa saat itu, serius! Tak ada kabar jelas kepada kami. Sementara rombongan kami buta arah. Dan tidak tau juga kemana tujuannya. Kalau saja mereka tau, pasti aku bawa ketempat itu. Kecewa. Apa daya aku tidak bisa marah dan lebih memilih memendamnya hingga hilang sendirinya. Di Pagat, seperti biasa lah. Naik keatas hingga turun kebawah. Sudah cukup sering kesini, hingga perasaannya biasa saja. Andai CUMA bersama orang istimewa, akan lain jadinya. Lupakan.

Heza dan Iqin memutuskan untuk pulang hari ini dan ga mau bareng kami besok hari karena dipaksa orang tua Heza. Sampai sekarang keputusan terakhirku adalah nebeng Hifni untuk balik ke Banjarmasin besok dan masalah ke Pelaihari nya belakangan aja. Sore itu, Iqin sama Heza berangkat menuju Banjarmasin, sementara aku nebeng Hifni sampai rumah.

Bersambung…

One thought on “Pagat Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s