Tragedi Muja

Kami sudah tua, tapi kelakuan masih saja seperti anak-anak. Bahkan untuk sebuah kado yang cuma bernilai LIMA RIBU rupiah diperebutkan secara histeris.

Saat itu acara TOMB, Training Orientasi Mahasiswa Baru, ospek yang diadakan oleh prodi Pendidikan Matematika Unlam tiap tahunnya. Sama seperti tahun lalu, salah satu barang bawaan adalah kado bernilai lima ribu beserta nota. Kado itu dibagikan diperebutkan setelah acara usai, setelah peseta pulang yang pastinya, kan malu kalau ketauan kelalukan panitia seperti ini.Nah, tidak ketinggalan, Ahmad Mujahid atau yang akrab disebut Jambrong Muja juga mengambil sebuah kado. Kado itu dibuka Muja ditempat, dan kala itu memang gelap karena sudah agak malam, dan kebetulan lampu ruangan tidak bisa dinyalakan. Saufi mencoba membantu membuka kado Muja dengan cara membaca doa meneranginya dengan alat penerang yang ada ditangannya. Secara perlahan kado itu dibuka. Mau tau ga apa isinya? Isinya adalah, hmm. Isinya ga penting. Setelah tau isinya, aku dan yang lain ngakak abis, lucu.

Semenjak mendapat kado itu, Muja mulai memiliki perasaan aneh. Malam itu, dia ngerjakan tugas Metode Statistika, ehh malah kehabisan kertas. Sambil ngerjakan tugas, dia nonton bola, dan secara sengaja, klub favorit nya, kalah mutlak 4 – 0 terhadap klub favorit Azie. Kesialan sudah tercium dari sini.

Malam itu aku ga tau kesialan apa yang didapat Muja waktu tidur. Dan pagi itu pun juga tidak tau karena aku telat masuk kuliah 15 MENIT! Pagi itu kuliah Metode Statistika. Disela kuliah berlangsung, aku keluar sama Muja dengan tujuan cari maba buang air kecil ke belakang. Setelah selesai kuliah Metode Statistika, kami melanjutkan kuliah Belajar dan Pembelajar. Tepat saat itu, aku dan Muja ngambil sesuatu (ga tau namanya) yang mau digunakan dosen TANPA DISURUH terlebih dahulu. Kembali membawa sesuatu yang diperlukan. Lalu disuruh dosen untuk menggeser meja. Nah, tepat saat itu aku dan Muja ngangkat meja. Disuruh dosen geser, ehh Muja malah memutarnya. Dengan sengaja aku lepas mejanya, ehh dia lepas juga dan langsung merintih. Aku tengok kebawah, ternyata ada kaki yang terjepit. Langsung ngakak sejadinya. Aku langsung ngangkat meja lagi dan dia ngangkat lagi, tapi sayangnya dia ga bisa geser dari tempat. Aku lepas dan ngakak lagi (dan sekarang pun ngakak kalau ingat kejadian itu). Sampai akhirnya minta bantuan Edwin untuk mengangkat meja. Katanya juga kesenggol dosen.

Setelah tragedi itu, Muja masih bisa jalan dan jari kakinya tidak putus kok. Nahh, saat ini kami mulai ga karuan. Dosen cuap-cuap sama mahasiswa yang duduk didepan doang. Kami ga ada kerjaan. Akhirnya, ide muncul. Misscall teman dikelas, kali aja ada yang belum silent. Pakai nomor yang disembunyikan atau sering muncul nomor pribadi supaya kami aman. Sasaran pertama adalah Nazar, biasanya orang ini selalu lupa untuk mendiamkan HP nya. Mulai pencet nomor Nazar dan lirik ke orangnya. Loh, NAZAR NYA MANA?? Tenyata Nazar bersama Isur bolos dan katanya main game online di warnet. Kebiasan buruk mereka mulai muncul, sama seperti saat kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, cuma dua kali kuliah dan sisanya bolos. Hampir semua teman dikelas kami misscall (maaf ya teman, itu tadi aku sama Muja) dan semuanya SILENT. Kami gagal total hari ini. Tapi beberapa orang yang cukup membuat aku dan Muja tertawa terbahak-bahak. Yang pertama Erik yang tepat duduk disebelahku. Setelah dia selesai smsan dan memasukkan HP nya ke saku celana, saat itulah rencana beraksi. Dia mendadak ngambil HP nya yang sangat bergetar itu, dan berkata “Siapa nih?”. Rupanya dia tidak tau, kami pun tertawa. Selanjutnya Edwin. Dia duduk di depan. Nahh, saat dosen tepat bediri dihadapannya, kami jalankan rencana. Saat itu kami mau tau bagaimana reaksi Edwin. Dia mendadak minta izin keluar. Ngakak abis. Kuliah berakhir sekitar jam 12.

Lanjut ke kuliah jam 2. Mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika. Saat itu kedua kelas digabung dan kedua dosen pengampu bersatu, bapak Sumartono dan ibu Fajriah. Nahh, ibu Fajriah adalah tante Selfi (Muja’s gf). Ibu Fajriah juga sempat negur aku sama Mirza, “Yang pakai switter sakit ya!?”. Kejadian selanjutnya tidak perlu diberitau. Ini juga merupakan kesialan Muja.

Saat pulang kuliah, ketemu anak kecil. Aku, Mirza, Basil dan Muja yang nongkrong saat itu berbincang sama anak kecil itu. Gokil, anak ini dewasa belum pada umurnya. Kenal facebook, game online, youtube, dan tak ketinggalan, hmm..

Yasudah. Akhir cerita ini aku beritau isi kado yang didapat Muja. Yang katanya membuat Muja menjadi sial bertubi-tubi setelah mendapatkannya. Jadi isi kadonya adalah gantungan kunci Barbie. Kira-kira panjangnya seperti jari telunjuk. Rambut boneka kecil ini sempat di anyam oleh Delly pada saat kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika. Mungkin saja ini boneka kutukan. Sekarang aku tidak tau boneka ini berada ditangan siapa.

Banjarmasin, 20 September 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s