Tragedi Haris

Setelah kemarin muncul artikel berjudul Tragedi Muja. Sekarang saatnya beredar Tragedi Haris. Bukan tentang kesialan seperti Muja, karena akupun tak punya boneka kutukan sepertinya. Bahkan aku belum membuka kado persembahan para maba itu.

Setelah ospek, nomor HP berhamburan, akun facebook berhamburan, twitter pun juga. Tapi yang paling terasa adalah di facebook. Grup facebook tertutup, “Pendidikan Matematika” dikuasai oleh kicauan maba. Seakan ini adalah jaman mereka. Aku pun kena imbasnya. Beberapa maba mulai mewarnai facebook ku. Satu per satu menyerahkan dirinya untuk aku “confirm”. Disini aku akan cerita tentang seseorang saja. Noorliana Septikarini, begitu nama akun facebook nya. Dan sangat diyakini, itu adalah nama aslinya juga. Aku tak tau siapa dia, dan aku cuma tau dia adalah mahasiswa Pendidikan Matematika Unlam yang aku lihat di profil facebook nya. Cuma itu yang memastikan dia adalah satu program studi denganku, entah adik tingkat maupun kakak tingkat, yang pasti bukan setingkat. Yang aku kenal waktu ospek cuma Randi, Thaib, sama Gina. Cuma itu, selebihnya kenal muka tak tau nama. Hmm, Gina. Aku menyerah Gin. Entah kenapa, si “dia” yang suka menghamburkan twitter dengan kata-kata manja nya agak membuatku geli terhadapnya. Ini sebenarnya playboy atau tidak puas dengan pacar sendiri sih? Itu juga yang terjadi dengan Gina, salah satu korban manja nya juga. Alasan lain, Gina level nya terlalu tinggi untukku.

Kembali ke Noorliana Septikarini. Setelah aku “confirm”, sesaat kemudian muncul status galau darinya, “dirimu dihatiku sudah terlalu lama” dan langsung ada komentar yang aku yakin itu adalah temannya, “siapa tu? kaka tingkat kah?”. Komentar ini meyakinkanku bahwa dia adalah maba. Tak ketinggalan, komentarku juga melayang di statusnya walau cuma “ciyyeee”. Oya, kata “ciyyeee” mulai jadi trend topic lagi di kelas. Lanjut. Komentar di status itu pun mulai memanjang. Tak berakhir sampai disana, sesaat kemudian ada tulisan “ka, ada punya buku IAD lah?” yang terpampang di wall facebook aku. Dan yang menulis itu adalah Noorliana Septikarini. Cerita ini terus berlanjut sampai berujung pada komentar nya, “kakak besok ada diruang mana? jam berapa?”. Aku baru membukanya pada waktu aku sudah masuk kelas. Dan aku tidak bawa buku yang mau dipinjamnya! Kalau saja dia memberi tau lewat pesan singkat, pasti kubawa bukunya. Komunikasi lewat facebook menghambat suatu komunikasi.

Kemarin, usulku untuk mewawancarai maba terbaik diterima dan didukung oleh teman-teman. Kami pun menuju kelas dimana maba Matematika sedang kuliah. Minta izin sama dosen yang sedang mengajar untuk mengambil sebentar dua orang selama beberapa waktu. Setelah selesai wawancara, kami mengembalikan dua orang itu. Dan tepat saat mengembalikan itu, dengan jahil nya Dendi memanggil Noorliana Septikarini (selanjutnya sebut saja Tika, untuk kenyamanan sang penulis dan pembaca). Dendi terus memaksa Tika supaya keluar ruangan, tapi aku juga memaksa untuk jangan keluar ruangan dengan isyarat. Disini aku merasa bersalah lagi karena lupa bawa buku yang mau di pinjamnya. Kata Dendi, Tika sempat tersenyum sinis saat diminta keluar. Dan kata Dendi pula, itu merupakan respon positif darinya. Walau aku tidak melihat senyumannya, aku percaya dengan kata Dendi.

Usai tragedi itu, tidak langsung pulang. Santai dulu di parkiran rektorat. Saat itu juga ketemu Serli, yang mau minjam buku yang sudah ada ditanganku, dan juga mau minjam pensil 2B untuk test toefl tapi aku tidak punya. Dan lagi-lagi berujung “ciyyeee” dari teman-teman. Apaan sih? Dikit-dikit “ciyyeee”. Setelah itu, aku menjenguk Edwin yang sedang sakit, CACAR!

Siang itu, aku mulai berpikir jernih, komunikasi melalu facebook tidaklah bagus. Selain tidak efektif, juga terlalu vulgar. Hmm, aku pernah liat nomor HP nya di profil facebook nya. Seketika, aku buka facebook lagi, tapi kali ini lelet. Sampai selesai cuci motor, baru bisa buka. Smsan dimulai. Dia mau test toefl, dan kebetulan dia punya contoh soalnya dan kebetulan lagi dia sedang ada di kampus,tapi aku sedang dirumah. Aku mau pinjam contoh soalnya, dia mau pinjam buku. Direncanakan sore itu kami ketemu di kampus. Kebetulan aku ada kuliah sore.

Tidak disangka, pertemuan kami dihambat. Dia keluar dari ruangan test toefl jam 4, sedangkan aku baru mulai kuliah jam 4 (lelet, seharusnya kuliah jam 3). Oya, sebelum masuk kelas juga “dihapaki” lagi. Tentang my Ex. Inilah kenapa aku gak suka saat dapat mata kuliah yang satu kelas bersamanya. Lanjut Tika sms aku, katanya sudah keluar, terus kemana dia harus menghampiriku? Aku bilang saja kalau aku lagi kuliah. Dan aku tidak tau kapan kuliah berakhir. Soalnya ini pertama kalinya kuliah sama bapak Faif. Aku belum tau bagaimana kuliah perdana bersama beliau. Apakah pulang cepat, atau seperti biasa? Galau, minta izin sebentar atau menyuruhnya untuk menunggu aku, bisa juga nyuruh dia bertemu sama Uya yang kebetulan dapat kelas sebelah yang cuma dapat tugas (dosen gak masuk). Sempat ngajak Dendi untuk izin keluar juga. Masih galau. Rupanya dia sudah menunggu terlalu lama dan belum ada kabar terbaru dariku yang masih saja galau, akhirnya masuk pesan singkat darinya, “ka,tika bulik lah. mun handak, ambil aja ke rumah”. Keputusan yang tepat, setelah itu aku izinkan dia pulang duluan dan tidak lupa meminta alamat lengkap. Di kelas langsung geger saat tau aku akan kerumah Tika. Bahkan beberapa orang menawarkan diri untuk menemani seperti Azie, Muja, Basil, Dendi, dan lainnya. Gue bukan mau kerja kelompok woy! Kuliah berakhir jam 5, kurang setengah jam dari jadwal semula.

Masih saja galau. Bingung apakah mau kerumahnya atau mengundurkan diri saja, masalahnya ini pertemuan pertama. Hmm, kali ini bersama Uya. Aku jemput Uya, aku bertanggung jawab dan harus ngantar Uya balik. Tapi dia harus menemani aku dulu. Oya, sebelumnya aku sempat shalat istikharah ashar di Masjid kampus. Hal ini memberiku keuntungan, seakan Masjid menyembunyikanku dari mata-mata itu. Katanya, mereka (temanku) mau membuntuti aku menuju rumah Tika. Mereka menungguku di tempat parkir. Tapi mereka tak kunjung melihatku karena aku di Masjid. Aku tau mereka mau membuntutiku karena Basil cerita pada malam harinya dan Muja cerita pada keesokan harinya.

Usai shalat, aku sangat yakin akan datang kerumahnya. Bersama Uya dengan niat yang cukup besar mencari rumah yang terbilang tidak jauh dari kampus. Tapi tetap saja aku tidak tau karena aku tidak pernah masuk kesana. Satu hal lagi, aku memastikan kalau Ibnu yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah Tika sedang berada dirumah, jadi kalau aku menyerah, aku bisa datang kerumahnya dan minta bantuan menemukan rumah Tika. Tapi aku berhasil menemukannya, dan sangat yakin ini rumahnya. Sempat jadi galau lagi saat sudah berada di depan rumah Tika. Tapi tetap aku yakinkan hati ini. Salam pun terucap dari mulut yang polos ini. Ratusan kali aku mengucapkannya. Sempat mau pulang saja karena tak ada respon sedikitpun. Lagi-lagi hati ini meyakinkan. Beberapa lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan keluar dari pintu dan berkata, “ohh, ka Haris. harusnya ucapkan salam kek”. “udah tadi!” (dengan nada kesal). Oke, mulai ilfeel karena dia menemui ku tanpa jilbab. Harusnya dia berpakaina rapi kalau ada tamu yang direncanakan. Kalau tanpa direncanakan dan mendadak, boleh saja aurat terbuka. Dan lagi-lagi hati ini meyakinkan, pasti dia tidak akan melepasnya jika berada diluar rumah. Sempat ngobrol panjang juga walau cuma di teras. Dan tak tau malunya aku berkata, “minta minum boleh?”. Aku berharap segelas air putih datang, tapi nyatanya dua gelas es mocca yang datang. Tak tau malu lagi, “tamu gak dipersilakan masuk yah?”. “ohh, mau masuk kak? silakan kalau mau masuk”. “gak kok, aku malas lepas sepatu”. Orangnya asik walau ini pertemuan pertama. Ngobrol panjang juga. Sampai adzan maghrib, “ayo kak, masuk dulu. adzan tuh”. “gak perlu deh, bentar lagi mau pulang. ehh, dirumah gak ada orang ya? kok sepi?”. “ada kok. tuh ayah lagi shalat”. Gak langsung pulang karena Uya dapat telepon dari adiknya. Sebenarnya gak enak sama orang yang lewat, juga sama orang tua Tika, apalagi ini malam Jumat. Setelah Uya selesai, kami pamit pulang. Oya, dengan tidak tau malu lagi aku berkata, “ntar aku mampir lagi ya. malam minggu kek”. Tak lupa aku bwa fd Tika yang berisi soal toefl.

Malam hari. Buka fd Tika. Ada fotonya, “ciyyeee”. Malam itu juga Basil datang kerumah minta file toefl nya. Waktu itu Basil juga cerita kalau sore tadi dia sempat mau membuntuti aku kerumah Tika. Sayangnya aku sedang berada di Masjid saat dia menunggu di tempat parkir. Liat foto Tika, dan berujung “ciyyeee”.

Sempat gombal sama Tika juga tadi malam. Muka memerah, hidung memanjang, dan otak pun berpindah ke dengkul. Sumpah, ini bukan gue banget. Aku tidak suka gombal. Dan aku cuma diajari oleh maba bagaimana gombal yang baik dan benar pada saat ospek. Oya, malam ini aku juga memastikan kalau dia belum punya pacar, “ciyyeee”. Selasa baru kenal di facebook dan Kamis sudah mulai akrab. Super!

Oya, Selasa waktu kuliah GAR juga ada kejadian. Aku sudah lama mau minjam buku sama Serli, dan masih belum ditemukan. Pada saat kuliah GAR, baru ditemukan. Saat itu aku suruh aja Serli buat ngantar ke kelas. Dan berujung “ciyyeee” lagi. Bahkan ibu Nurdiana juga ikutan. Sial. Agak lola memang, ibu Nurdiana keluar kelas nyari Serli ketika dia sudah cukup jauh dari kelas.

Tragedi lain, selain dikenal maba, aku juga dikenal kating. Kakak tingkat sering panggil aku, “Haris, bla bla bla”. “Haris, yang tukang foto tuh siapa namanya?”. Dan yang tadi siang terjadi, “Haris, Uya tu yang mana?”. “Ini” (nunjuk ke belakang). Namun tidak sedikit kating yang aku tidak tau namanya. Mereka panggil aku, namun aku tidak tau nama mereka. Mereka memanggilku, sudah pasti aku layani. Aku bukan orang yang sombong! Maaf kak, tidak bermaksud apa-apa. Aku benar-benar tidak tau namamu.

Mungkin tepat kata Dendi. Setia, setiap angkatan ada! Hmm, 2009 hanya salah paham. 2010 B, masa lalu yang kelam. 2010 A, aku masih mengharapkannya dan dia masih mencampakkan ku. 2011, menjadi kakak pun akan jadi hal terindah buatku, “ciyyeee”. 2012, sudah punya calon berinisial RA.

Salah satu foto di fd nya yang berhasil aku upload. Klik disini.

ciyyeee.

Pelaihari, 23 September 2011
Haris Saputera

2 thoughts on “Tragedi Haris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s