Keberuntungan yang Bertubi-Tubi

Terima kasih atas semuanya. Terima kasih Tuhan.

Tidak pernah ada guru yang mempercayaiku, mengandalkanku. Semuanya berpihak pada nomor satu kelas. Aku tidak suka dengan guru seperti itu. Bukannya aku cemburu dengan nomor satu, tapi aku hanya kasian melihat nomor sekian yang terbengkalai, selalu dimaki, bukannya membaik, tapi malah down. Persetan denganku, aku masih berada ditengah kelas, aman. Hanya satu yang bisa mempercayaiku, bapak Widy selaku guru Matematika SMP. Terimakasih pak, jasamu tak terlupakan. Engkau tidak pernah berpihak pada nomor satu kelas, semua murid sama dimatamu. Sekian curhatnya.

Aku benar-benar tak menyangka keberuntungan ini akan menimpaku secara bertubi-tubi. Baru saja waktu jalan sama Tika tadi, “kalau saja aku lolos seleksi OSN Pertamina, keberuntunganku akan sempurna”. Baru siang tadi aku bicara seperti itu waktu di Mall.

Keberuntungan bermula dari mengenal Tika. Anehnya, dengan sekejap bisa asik sama Tika. Orang yang baru kukenal beberapa hari setelah ospek ini sudah mewarnai hari-hariku. Beberapa hari dengannya pun menjadi hari terindah. Sekarang jadi dekat, sangat dekat. Baru saja tadi jalan sama dia ke Mall, makan di Moms Cemara, DITRAKTIR TIKA, dan berakhir ngobrol panjang dirumahnya. Status kami masih HTS, layaknya Kudo dan Ran. Kenapa tak diikat saja? Jawabannya adalah, aku takut akan ada yang tersakiti, aku juga punya hati. Aku pernah merasakan yang mereka rasakan, cemburu yang begitu dalam. Lupakan tentang hubungan, mari berpindah ke keberuntungan selanjutnya.

Keberuntungan selanjutnya adalah mengenai test toefl. Test dadakan ini terbilang mengecewakan. Selain tak ada persiapan, juga lemahnya perbendaharaan English ku. Dengan modal pensil 2B punya Tika dan otak kecil yang berada di bawah rambut, berusaha terlihat pintar dengan sok ngerjakan serius. Padahal sebenarnya, hanya dua, atau tiga soal yang bisa kupahami. Sisanya tergantung KEBERUNTUNGAN! Dan ternyata, hasil test tidak mengecewakan. Aku merupakan salah satu dari beberapa orang yang nantinya akan mengajar di kelas Internasional. Ujung dari cerita para mahasiswa yang mempunyai skor toefl tinggi katanya berakhir di sekolah bertaraf Internasional (kata dosen).

Keberuntungan yang belum bisa disebut keberuntungan adalah ditawari ngeles privat. Walau aku berminat, tapi aku tak punya pengalaman, jadi takutnya akan mengecewakan. Tapi Tries meyakinkan, pasti bisa!

Ini yang disebut keberuntungan. Apakah pensil 2B Tika membawa keberuntungan? Apakah sarapan dirumah Hifni membawa keberuntungan? Entahlah. Mari bercerita. Baru saja sampai dirumah Tika, dan gak sempat buka sms ketika di jalan. Waktu dirumah pun asik ngobrol sama Tika, jadi lupa buka sms. Sempat terbengkalai sms penting itu. Setelah dibuka, isinya “Ris, km masuk 9 besar OSN”. Sms Uya ini mengejutkanku. Masih belum percaya seutuhnya dengan isi sms ini, no pic, hoax. Aku pikir cuma tujuan sms ini sekedar membuat kawan bahagia. Waktu mau balas sms Uya, sinyal mendadak hilang. Sialan, kenapa harus dalam keadaan yang penting seperti ini? Aku sms pakai HP yang satunya. Mendadak lagi sinyal muncul dan masuk sms dari Radith yang isinya mengucapkan selamat dan memintaku untuk traktir makan. Berita yang belum jelas ini mulai meyakinkanku. Tak ada sedikitpun sakit hati jika tidak lolos seleksi karena memang itu yang sebenarnya, tapi ini apa? Ini bukan PDM! Aku takut mengecewakan. Kemudian masuk ucapan selamat dari Zatie dan Hifni. Tika buka facebook dan sangat meyakinkanku kalau namaku terpampang dari 9 nama yang ada. Yakin. Galau. Tidak tau. Kenapa bisa lolos?

Sebelum test. Awalnya tak tau ada OSN. Ketika diberitau pun tak ada niat untuk ikutan. Setelah dipaksa Arief, baru mau ikut. Ini terpaksa lo, niatnya cuma mau ngambil baju OSN sama uang transport. Bercerita ketika hari test. Pagi buta, aku ke kost Uya, numpang naruh tas, malas bawa tas ke Banjarbaru, tempat dimana test seleksi dilaksanakan. Lanjut kerumah Hifni, aku disuguhkan nasi bungkus oleh tuan rumah. Matahari mulai cerah, satu persatu peseta OSN dari kelas berdatangan kerumah Hifni. Cuma ini? Aku kira banyak karena daftarnya pun gratis. Ehh, yang ikut dari kelas cuma aku, Hifni, Arief, Iqbal, Radith, Masta, sama Zatie, juga Nazar yang duluan. Akhirnya berangkat nebeng Hifni. Kendaraan aku tinggal dirumah Hifni, biasaa mahasiswa. Selain sarapan gratis, nebeng pula. Karena cukup telat, aku bawa motor Hifni dengan kecepatan tinggi, maaf Hif. Sesampainya di Banjarbaru, Iqbal sebagai kompas jalan didepan sementara Arief, Radith, Masta, dan Zatie berada di rombongan belakang. Sesampainya di MIPA, sempat terpisah sama Hifni dan Iqbal dan nimbrung sama Alie-B (Matematika 2009B). Setelah sampai ruangan, ketemu teman SMA yang kuliah di MIPA Matematika, kebetulan ikut OSN juga. “Ehh, ngambil bajunya dimana??” aku bertanya bingung. “Disana” nunjuk keluar. Akupun registrasi, ngambil baju, kartu peserta, dan ke toilet bareng Alie-B juga Iqbal untuk ganti baju. Kembali ke ruangan, dan karena sangat malasnya, ID card ku kusuruh temanku dari MIPA yang nuliskan, “tulisannya yang bagus ya!”. Sudah nyuruh, maksa lagi, haa. Test bermula dari bismillah. Berasa ujian nasional, tapi kali ini aku tidak berada di depan pengawas. Dengan sok pintar ngerjakan soal hitungan yang sangat asing bagiku. Terlalu banyak soal logika, dan aku terlanjur mulai benci logika setelah tau nilai PDM ku dapat D! Tak sedikit juga soal semester atas yang belum pernah aku sentuh, bahkan tak aku mengerti. Dengan berharap KEBERUNTUNGAN menimpaku, aku jawab hampir semua soal yang tertera di buku soal. Walau sebenarnya jawaban salah akan diberi skor minus, aku tak perduli. Toh, sepertinya aku tak bakalan masuk 9 besar juga. Usai test, sempat makan siang bareng Arief, Iqbal, juga Hifni. Sempat membahas soal yang terbilang asik, dan dua jawabanku dinyatakan salah, aku pun yakin kalau jawabanku itu salah. Hal ini semakin meyakinkanku kalau tidak akan masuk 9 besar. Tapi Tuhan berkata lain. Sekarang makin galau lagi ketika finalis disuruh bikin karya tulis ilmiah, dan mempresentasikannya hari Jumat depan. Waa, tau sendiri kan pengalaman presentasiku yang sangat buruk! Inginku mengundurkan diri saja, tapi banyak kawan yang memberi semangat berlebih. Kalau aku lolos, dan menjadi salah satu dari 3 mahasiswa perwakilan KalSel yang akan bertarung di tingkat Nasional, sebaiknya aku bernazar apa? Lari keliling komplek sudah dijalankan karena lolos ke 9 besar. Mohon doanya supaya tugasnya bisa selesai setidaknya hari Rabu. Terimakasih.

Banjarmasin, 2 Oktober 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s