Profesional

“Profesional dong Har!” begitulah kata Haifa beberapa hari lalu. Memang kalimat itu ditujukan untuk maksud berbeda, tapi profesional kali ini aku rasakan dalam hal yang berbeda pula.

Aku mulai berpikir tentang profesional, benar-benar tidak menyangka bisa sebangga ini pada diri sendiri.

Oke, memang selalu angkat tangan alias menyerah jika disuguhkan jabatan yang terlampau tinggi dalam suatu kegiatan atau acara. Bukan apa-apa, aku cuma mereka tidak mau mereka kecewa jika pekerjaanku kurang memuaskan. Lebih baik jadi bawahan yang profesional daripada pusing jadi atasan, harus dikejar tugas bejibun. Memang jabatan bawahan, tapi tidak jarang mengurus atau setidaknya membantu tugas atasan, bahkan mengerjakan yang tidak selayaknya aku kerjakan, contohnya divisi acara tapi bertugas jadi tukang foto, divisi acara bertugas jadi tukang angkat konsumsi. Bukan sok apa, tapi aku senang, aku dihargai. Profesional.

Banyak sekali cerita yang harus dikerjakan. Sejak perjalanan ke Barabai dulu, hingga sekarang yang sedang asik sama maba. Cukup cerita terbaru saja dulu. Pagi ini, tidak ada yang nelpon tapi sms tiap pagi tetap masuk, alasannya pulsa habis. Itulah alasan yang dikemukakan Noorliana Septikarini, mahasiswa baru Pendidikan Matematika Unlam, adik tingkat, sekaligus ciyyeee. Hari Senin adalah jadwal ketemu pagi. Sudah beberapa kali Senin kami selalu bertemu tepat di depan ruang 21 FKIP Unlam. Itu selalu menjadi sebuah awal yang bagus untuk Senin, karena setiap Senin akan menjadi hari tersibuk. Selain seharian kuliah, ditambah dengan ngajar les privat seorang anak berukuran 2 SMP. Kembali ke cerita, hari ini bangun agak telat karena malam tadi kemalaman. Sempat ditegur Tika juga tadi malam, “pulangnya jangan kemalaman yaa”. Apa daya profesionalitas dijunjung tinggi disini. Walau telat, pagi ini tetap bisa menemuinya tepat di depan ruang 21 FKIP Unlam. Dan aku menemukan satu hal yang baru dari Tika pagi ini. Setelah tiga hari tidak bertemu, akhirnya ada jerawat yang hadir dimukanya. Dapat sesuatu lagi, setelah cengeng, manja, bahasa Inggris, kacamata, dan sekarang JERAWAT! Kuliah tetap seperti biasa, walau pada mata kuliah yang kedua agak malas masuk hingga telat hampir setengah jam. Sehabis kuliah pagi, Tika mau minta antar kerumah Mimi. Sekalian aku ajak makan siang dulu. Mampir di cafe campus. Ternyata banyak yang nongkrong hari ini. Argh, kata “ciyyeee” pun berhamburan dari mulut mereka. Dari teman sekelas, hingga kakak tingkat. Bahkan kakak tingkat yang aku gak tau namanya tapi kenal mukanya pun ikut-ikutan. Kasian kan jerawat muka Tika makin memerah. Atas permintaan Tika pula, kali ini menjauh dari masa, makan berduaan saja. Habis makan, ngantar Tika kerumah Mimi. Kali ini kebalikannya, aku yang mulai salah tingkah ketika ngumpul sama temannya Tika, adik tingkat. Ternyata hubungan seperti ini mempunyai banyak kelebihan. Teman-teman ku yang sekarang mayoritas adalah kakak tingkat kenal Tika dan teman-teman Tika kenal aku. Jaringan lebih luas. Salah satu kerugiannya, sudah banyak yang mengira kami pacaran. Sepertinya sudah terlalu jauh ya untuk disebut teman?? Aku merasa dihargai, aku merasa berarti. Kalau mau minta antar, ya langsung bilang, to the point aja. Jangan memberi kode, jangan pakai pancingan. Kadang aku mengerti bahwa aku dipancing, dan apa maksud pancingannya, tapi aku terlanjur tidak suka permintaan melalui isyarat. Tika, tidak malu untuk sms duluan, tak berpengaruh siapa yang sms duluan. Tika, tidak malu untuk membangunkanku tiap pagi, nelpon tiap pagi, sms tiap pagi. Walau seringkali, malamnya aku ditinggal tidur tanpa jejak. Hari ini masuk kuliah lagi jam 2. Tapi aku terlanjur tau kalau dosen gak masuk, dan ngasih tugas aja. Jadi aku tetap santai dirumah Mimi, ngumpul sama adik tingkat. Teman sekelompok pun sudah memaksa untuk datang ngerjakan tugas, abaikan. Beri aku waktu bersama Tika. Kami sulit cari waktu untuk bisa bertemu lama. Jam setengah tiga aku ke kampus. Sesampainya di ruangan, masih tetap saja aku agak malas. Jadi sesampainya di ruangan, aku minta izin keluar. Kali ini ada alasan yang jelas, aku minta izin ke Masjid. Kembali ke ruangan dan ngerjakan tugas. Hari ini berakhir jam setengah 5 lagi. Sebenarnya aku keluarnya lebih cepat, tapi karena dapat amanah untuk ngumpulkan tugas, akhirnya secara TERPAKSA aku nunggu kelompok yang belum selesai ngerjakan tugas.

Hari ini mendadak rapat. Suatu acara nasional, semacam kompetisi matematika tingkat nasional. Acara yang diadakan oleh FMIPA Unesa ini memberi amanah kepada FKIP Matematika Unlam untuk meaksanakan kompetisi cabang Banjarmasin. Rapat dilaksanakan jam 5. Sebenarnya agenda sore ini adalah les privat. Terpaksa aku tunda, maaf ya. Rapat berakhir jam 6. Aku bergegas pulang. Aku usahakan supaya bisa les malam ini. Sampai dirumah masih banyak yang harus aku kerjakan. Dan sebelumnya aku minta maaf kalau les hari ini akan telat. Jam setengah delapan, aku sampai dirumahnya. Karena datang telat, aku harus pulang telat juga. Lagi dan lagi, hari ini kelewatan setengah jam. Durasi sebenarnya adalah 90 menit, tapi malam ini pulang jam setengah 10. Bahkan aku pikir itu masih kurang, kalau saja aku tidak ngantuk, akan aku teruskan.

Hidup itu indah, maka nikmatilah🙂

Banjarmasin, 11 Oktober 2011
Haris Saputera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s