Senin Lagi

Kenapa harus ada Senin? Dan kenapa pula aku harus benci Senin? Semenjak Minggu malam, pagi Senin kemudian Senin malam begitu menyebalkan. Tak ada hari yang lebih “INDAH” daripada Senin. Walaupun Senin adalah satu-satunya hari dimana bisa bertemu “dia” tanpa rencana.

Minggu malam, rencananya ngerjakan tugas. Tepatnya tengah malam baru muncul niat ngerjakan tugas itu. Malam itu agak disibukkan dengan printer yang baru saja dipakai setelah ribuan tahun di museum kan. Mulai beli tinta, mengisi tinta, kemudian pertama kali memakainya setelah ribuah tahun terbengkalai.

Tengah malam baru ngerjakan tugas. Itupun hanya setengah, kemudian terbengkalai juga karena saking ngantuknya. Malam itu berpesan sama Qiqi, “bangunkan aku besok ya”. Entah kenapa malam itu asik smsan sama Qiqi.

Pagi harinya, entah jam berapa, pokokny sangat pagi, ada panggilan masuk dari Qiqi. Berbunyi nyaring karena kebetulan HP aku terletak disamping telinga. Bukan diangkat ataupun direject, tapi malah di suruh diam. Yang kedua kalinya dia telpon lagi, masih aku tekan diam. Kemudian langsung aku silent HP nya, modus diam. Aku bangun dan ngerjakan tugas. Kemudian shalat. Dia masih saja nelpon. Entah kenapa saat itu aku tidak ingin memberi tau kalau aku sudah bangun. Aku juga tidak tau alasannya. Mungkin mau ngetest seberapa perhatiannya dia ke aku. Mungkin! Dia tak berhenti nelpon. Terhitung ribuan panggilan tak terjawab dan beberapa butir sms. Sms dari Qiqi, “astagfirullah.. ini orang sadis amat ya, tidak bangun2 dari tadi..”. Sms dari Tika, “maaf ka, pagi ini kada kawa membanguni.. pulsa habis.. bangun ka!”.

Aneh, pagi ini gak ketemu Tika. Tumben dia masuk ruangan. Biasanya nongkrong di depan kelas nungguin aku. Walau ujungnya aku cuekin juga. Gak ada sepatah katapun keluar pada Senin pagi. Paling lewat, kemudian nyengir. Atau lewat, lalu pegang kepala Tika, kemudian kabur. Tapi Senin ini dia sudah masuk kelas. Pagi ini cuma liat Mimi di depan kelas, kemudian nyengir ketika tatap muka sama Mimi. Ternyata Tika liat aku pagi itu, tapi aku gak liat dia diruangan, sial.

Makan siang sama Tika di kampus. Kali ini aku ditraktir Tika lagi. Kenapa sih!? Tapi alhamdulillah deh, kan mahasiswa. Setiap kali makan, dia yang bayarin. Ketika aku mau balas budi. “Aku aja yang bayarin”. “Gak perlu ka, bayar masing2 aja”. “Biar aku aja”. Kemudian aku bayarin. Tapi Tika malah memasukkan uangnya kedalam tasku. Hmm.

Oya, siang ini juga sempat jalan sama Tika. Ditengah Senin yang padat, masih bisa jalan, haa. Kami jalan ke Gramedia setelah makan siang. Bukan ide aku kok. Tika yang ngajak. Kalau aku sih, diajak kemana saja, sama siapa saja, pasti mau, haa. Tapi ada beberapa yang tidak mau, pasti tau kok.

Sore hari kuliah lagi. Pokoknya Senin the bad day ever. Pulang kuliah, SEHARUSNYA ngeles anak SMP itu. Dan kali ini tertunda lagi. Sudah tiga kali pertemuan, selalu les malam. Padahal jadwalnya sore. Hari ini tertunda karena perayaan ulang tahun Zella, gebetan Dendi. Perlukah aku ceritakan kejadian sore ini!? Hari ini bau adonan telur busuk, tepung, sabun, kopi.

Malam ngeles. Serius, hari ini sangat lelah. Tapi saat les cukup membuatku senang. Berlatih menjadi guru. Disamping itu, orang tua nyapun sangat pandai bersosialisasi. Jadi aku merasa nyaman dengan orang tuanya. Selalu disuguhkan minum ketika les. Juga tidak ada paksaan seperti “ANAKKU HARUS PERINGKAT 1”. Aku pun mengajarnya jadi nyaman. Selalu lupa waktu, durasinya cuma 90 menit, tapi aku selalu ngajar 2 jam.

Terimakasih untuk hari Senin. Terimakasih juga untuk Tuhan yang telah menciptakan Senin.

Banjarmasin, 20 Oktober 2011
Haris Saputera

3 thoughts on “Senin Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s