Pulau Pinus

Minggu, 23 Oktober. Pagi itu agak kelelahan karena kemarin seharian keliling gak jelas. Pagi itu juga, Dendi nanya apakah aku jadi ikut atau batal!? Rencana jalan ke Banjarbaru tanpa persiapan itu kurang peminatnya. Yang ikut dari teman seperjuanganku cuma Dendi yang kebetulan ehmm. Ada sedikit keraguan muncul. Mau ikut, tapi takutnya bakal mengecewakan. Mau gak ikut, tapi gak ada kerjaan adalah hal yang paling membosankan (selain MENUNGGU). Aku gak mau minggu ini menjadi minggu yang kelam. Akhirnya aku putuskan untuk ikut dengan SYARAT. Aku ikut jika ada seseorang yang bisa aku tumpangi. Ada dua keuntungan yang akan diperoleh , pertama hemat BBM, lalu yang kedua tidak kesepian ketika di jalan. Kata Dendi ada yang sendirian, akhirnya aku putuskan untuk ikut acara itu. Disuruh ngumpul sekitar jam 8 pagi.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan sebelum berangkat. Padahal waktunya mepet. Pertama sarapan. Lalu nyuci kendaraan. Kemudian nyuci pakaian. Dan lainnya. Nah, disela nyuci pakaian itu ternyata Dendi nelpon. Terhitung 13 panggilan tak terjawab dari Dendi. Pada panggilan ke-14, aku angkat. “Ris, jadi ikut gak!?” “Maaf Den, baru selesai nyuci pakaian nih” “Jadi ikut gak nih!?” “Aku belum siap nih, belum mandi pula” “Jadi ikut!?” “Kalau mau nunggu aku sih, aku ikut kok” “Oke, kami tunggu. Tapi cepetan ya. Selaagi nunggu, kami sekalian sarapan dulu” “Iya. Eh, beneran ada yang bisa ditumpangi gak!?” “Iya, ada.” Tuut, tuut.

Sekitar jam 9 aku baru siap. Aku langsung berangkat ke kost Uya, nitip kendaraan. Setelah sampai kost Uya, Dendi juga nyusul ke kost Uya. Dia nyuruh aku membawa mio-nya. Sudah ada perasaan aneh, bakal sendirian dalam perjalanan nih. Coba ngajak Uya, tapi keputusannya sudah bulat, tetap gak mau ikut. Pasrah, aku benar-benar sendirian. Dendi sama anunya dia pakai motor anu. Sementara aku bawa motor Dendi. Beberapa pasangan lain juga ikut. Miris rasanya ngobrol sama angin. Sebenarnya Mutiva juga sendirian, tapi dia harus jemput Feny di Banjarbaru. Kalau aku ikut Mutiva, terus dia sama Feny ketika di Banjarbaru, masa aku harus jalan kaki ke Pulau Pinus!? Gak mungkin!

Satu hal yang baru aku tau. Benar-benar baru. Ternyata Eka itu semacam Rossi, pembajak sawah pembalap liar. Ceritanya gini. Awalnya yang bawa motor tuh si Selvi, tapi dia sering ragu dan gak berani kalau mau balap mobil. Sampai jauh tertinggal dari rombongan. Cukup jauh tertinggal, dan WHUSSS! Motor yang dibawa Selvi tadi melaju kencang. Tapi bukan Selvi lagi yang bawa, mereka sudah tukar posisi, sekarang si Eka yang bawa.

Mereka sebut itu Tiwingan, sebuah daerah pedalaman Banjarbaru. Disana mampir beberapa saat untuk menaiki tebing dengan tujuan melihat sebuah bendungan cantik yang bisa dilihat di puncak tebing itu. Semua naik, kecuali Aam dan pacarnya. Kata mereka, pacar Aam ehm, makanya gak bisa ikut naik. Dan sekarang tugas Aam dan pacarnya adalah sebagai tukang parkir sementara. Yang lainnya naik. Beberapa sudah siap, seperti Nim yang mengenakan sandal gunung. Tapi ada beberapa yang mengenakan sepatu kuliah (kalau gak salah, soalnya aku agak lupa). Satu kejadian yang baru lagi, ternyata si nyonya Rossi itu takut memanjat tebing, gunung, atau sejenisnya. Intinya dia gak suka. Sampai di puncak, dia meneteskan air mata. Sungguh aneh, sangat berani di jalanan tapi gak suka di pegunungan.

Sangat puas berfoto ria bersama bendungan, kami melanjutkan perjalanan. Kami menuju pelabuhan kapal kecil yang akan mengantar kami ke Pulau Pinus, sebuah daerah kecil terpojok. Taraf keterpojokan sebuah kampung bisa dilihat dari ada tidaknya sinyal. Hey kawan, ternyata ada yang baru pertama kalinya naik perahu, haa. Sesampainya di Pulau Pinus, kami berselisihan dengan sekelompok orang yang pulang membawa beberapa buah durian. Pikiran kami semua sama, “DIMANA MEREKA MENDAPATKAN BUAH DURIAN ITU!?” Puas di Pulau Pinus yang merupakan tempat wisata itu, kami terus kesebuah perkampungan yang tidak jauh dari sana, hanya dengan berjalan kaki dan melewati sebuah jembatan. Kami keliling kampung untuk mencari penduduk yang menjual durian. Kami berhenti pada sebuah rumah yang terlihat memiliki beberapa buah durian. Setelah ditanya, “Apakah durian itu dijual!?”, kami langsung numpang mampir kerumah itu untuk makan ditempat. Hmm, DURIAN!! Sekalian mampir untuk shalat dzuhur. Tapi kata ibu pemilik rumah, air nya lagi gak ada. Kalau mau ambil wudhu, ke danau aja, gak jauh di belakang rumah. Tersentuh, sebuah kehidupan jauh dibawah standar, jangankan komunikasi, air pun sulit. Aku dan Dendi ambil air wudhu ke danau. Tepat sekali, disaat itu mulai hujan! Bayangkan bagaimana aku berwudhu di danau, pasti membungkuk kan!? Baju bagian belakang BASAH KUYUP! Terimakasih kepada teman yang sudah perhatian, tapi tolong jangan paksa aku pakai baju Nim, haa.

Durian habis, hujan berhenti, kami pun pamit pulang. Naik perahu yang sama. Di Banjarbaru, mampir ke sebuah rumah makan untuk makan siang sekalian makan sore. Usai makan, ngantar Feny dan ngemil beberapa kue yang disuguhkan oleh mama Feny. Agak sore, kami pamit pulang. Sesampainya di Banjarmasin, aku sama Dendi ngantar Azel kerumahnya, lalu ke kost Radith minjam tugas. Ke kost Uya. Tapi aku gak langsung pulang, Ibnu ngajak aku jalan. Aku suruh aja Ibnu ke kost Uya. Setelah sekian lama, akhirnya ketemu juga dengan kost Uya, aku ikut Ibnu dan titip motor lagi. Rupanya dia baru dari Banjarbaru juga. Dia jalan sama temannya yang di Fakultas Hukum. Sama, dia juga baru sampai Banjarmasin dan BELUM MANDI. Dia ngajak aku ke pasar Tungging. Aku lupa waktu itu nyari apa. Gak lama, aku ngambil motor di kost Uya lagi. Aku pulang dan kelelahan lagi.

Haris Saputera
Pelaihari, 4 Desember 2011

3 thoughts on “Pulau Pinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s