Hemat Itu Perlu, Tapi Bukan Pelit

Toilet lagi, dan nulis lagi. Dulu, walaupun pemalas, tapi tak pernah malas kalau masalah nulis. Entahlah. Ini bukan aku yang dulu. Setan Malaikat mana yang sudah merasukiku hingga aku jadi begini!?

Ini Jumat, dan besok Sabtu. Besok adalah hari terakhir pengumpulan ide untuk program kerja divisi. Argh, bikin stress. Yasudahlah, gak punya ide. Daripada pusing mikirin organisasi, lebih baik mikirin kuliah. Ini kenapa ada nilai C!? Kenapa!? Kemalasanku masih belum bisa diatasi. Selalu saja bergantung kepada keberuntungan yang kadang datang kadang pergi, ya beginilah hasilnya.

Selasa sore, Qiqi nelpon. “Malam tadi ada sms lo!?” “Gak ada, kenapa qi!?” “Ahh bohong, adaaa!” “Gak ada, serius. Emang sms ke nomor apa!?” “Ke as. Serius gak ada!?” “Iyaa, gak adaa. Kenapa!?” “Sebenarnya mau traktir makan sore ini. Kalau begitu, kapan bisa!?” “Terserah” “Emang kapan balik ke Banjarmasin!?” “Gak tau, ini lagi liburan.” “Kamis bisa!?” “Liat aja ntar.” “MAUK!” tuuutt tuuutt. Ditutup.

Rabu sore aku liat Qiqi nge-tweet, katanya Ibnu balikan sama Dila. Aku tak ambil pusing dengan informasi itu, dan aku juga tak mau menanyakan langsung kepada Ibnu tentang itu, dia sendiri kok yang bakal cerita sendiri ntar. Dan benar saja, malam itu dia mau datang kerumah. Kalau mau datang, pasti ada sesuatu, BEKOYO. Padahal dirumah sedang mati lampu. Habis magrib, Ibnu datang kerumah. “Dari mana Nu!?” “Ngantar Dila les”. Bla bla bla. Akhirnya dia sendiri yang cerita kalau dia sudah balikan lagi. “Untung kita gak taruhan ya, pasti aku yang sudah menang” “Argh, shit!”. Dia juga bilang, sejak dia jalan sama Dila saat di Banjarmasin beberapa minggu lalu (oya, sore jalan sama Dila, malam datang kerumahku, BEKOYO), perlakuan Dila mulai berubah ke arah yang lebih baik.Di pertemuan malam itu, kita juga berencana kalau besok mau bayar SPP bareng. Cukup lama berbincang, dan Ibnu masih menunggu hingga jam setengah 10 sampai Dila pulang les. Kami mulai bosan, dan Ibnu ngajak keliling. Awalnya kami mau kerumah Fiqri, ternyata dia masih di Banjarbaru. Sempat mau jalan ke Pantai Takisung malam itu juga, tapi dengan berbagai alasan yang menyebabkan batal. Akhirnya tujuan kami adalah Tugu Pelaihari. Makan pentol sejenak, dan keliling kota Pelaihari, cukup lama tuh keliling. Sekitar jam 9, aku diantar pulang dan Ibnu melanjutkan misinya.

Kamis, jam 10 pagi kami ke BNI Pelaihari. Tepat sekali, bank masih agak sepi. Jadi kami gak perlu ngantri. Oya, Ibnu bayar 825 dan aku bayar 915. Kok FKIP lebih mahal dari FH ya!? Ahh, entahlah. Bukan urusanku. Dengan tujuan yang galau lagi, kami gak tau mau kemana. Tanpa perencanaan sebelumnya, kami pergi ke Gunung Keramaian, salah satu gunung tertinggi di Pelaihari. Ibnu belum pernah kesana, makanya ngajakin. Ibnu sempat ngambil jaket kerumah dulu, takut gosong. Pada saat naik gunung, kami sempat liat monyet yang sudah tak bernyawa terbengkalai di pinggir jalan. Malang sekali nasib lo nyet. Dari puncak gunung, kelihatan kota Pelaihari yang kecil tapi makmur itu. Dari puncak, kelihatan bahwa kawasan hijau lebih mendominasi dibandingkan perumahan. Bahkan laut pun kelihatan dari puncak itu. Puas disana, kami pulang. Katanya malah mau ke gunung Bajuin lagi. Ibnu juga gak pernah kesana. Tapi aku minta diantar pulang dulu, mau makan. Dia juga ada pekerjaan sedikit, ntar kalau sudah selesai dia kabarin jadi atau tidaknya pergi ke gunung Bajuin itu. Sampai malam tiba, gak ada sms darinya.

Oya, sepulang dari Gunung Keramaian, aku istirahat. Sore hari, ada sms dari Lisa. “har, malam ini kerumah, bawai yang lain”. Sore itu juga, sekitar jam 4 ada sms dari Qiqi ke three aku, “Ey, kypa hari ini? Jd kd!”. Aku balas pakai as. Aku mandi, siap-siap, dan masih belum ada balasan. Aku sms lagi, lagi, dan lagi. Aku nongrong di depan tv, sekitar jam 5 di nelpon. “Wey, dimana!?” “Dirumah” “Ini di 99 mehadangi nah, LAJUI” “Iya”. Semprot parfum sedikit dan berangkat. Haa, kasian yang udah nunggu. Makan dan berbincang cukup lama. Masih polos dan sok dewasa. Di tengah perbincangan, datang Nur sama pacarnya, teman Qiqi. Bakal jadi gosip panas lagi. Untunglah aku tidak di SMA lagi, jadi cuma Qiqi yang dapat hembusan dari teman-temannya, wee. Oya, Qiqi sempat nitip buku kalau aku ke Banjarmasin nanti, “Til Death Do Us Part – Kate White”. Jam 6 pulang, keliling Pelahari bentar.

Malam hari, mati lampu lagi. Dan akhirnya aku ngajak Faisal kerumah Lisa. Sempat beli gorengan dulu. Oya, rumah Lisa cukup jauh. Sekitar 7 km dari kota Pelaihari. Sesampainya dirumah Lisa, ternyata mati lampu juga. Oya, disini Lisa juga sempat bicara masalah mantan aku, Wita. Kenapa kabarnya sampai ketelinga Lisa!? Kabarnya sih dari telinga ke telinga. Dan ini adalah kabar yang sangat memalukan. Dan kenapa baru sekarang Lisa bilangnya. Entah baru saja Lisa memerima berita ini, atau emang Lisa takut menyampaikannya kepadaku. Padahal kami sudah putus setahun lalu. Dan betapa memalukannya, aku disebut memeloroti dia. Katanya dia sering traktir aku makan, bla bla bla, dan akhirnya diputusin. Seingatku malah dia gak pernah traktir aku makan, seingatku yaa. Dia cuma beberapa kali bikinin aku nasi goreng. Kadang juga aku yang bawain martabak atau pisang keju ke kost dia. Argh, bikin nama baikku hancur aja. Ehh, tapi memang begitu kok. Aku memang sering minta bayarin makan atau apa lahh. Tapi seingatku gak dengan si Wita ini. Seringkali memang minta bayarin, tapi tidak memaksa kok. Kalau mau silakan, kalau gak mau ya gak apa-apa. Kadang aku juga merasa bersalah, dan aku yang bayarin. Tapi tidak dengan Tika, saat aku mau bayarin, dia malah gak mau makan, minum doang. Nahh, aku sendiri yang merasa kecewa, aku sendiri juga yang merasa bersalah. Hemat itu perlu, tapi bukan pelit. Aku bukan orang kaya. Juga bukan orang miskin. Menabung itu perlu, tapi jangan pelit juga. Kalau ada uang, ya aku bayarin kok.

Jam 11an, kakak Lisa, Nida datang dari Batulicin, tempat kerjanya. Nida yang hamil tua itu masih bisa bergerak bebas, kagum melihatnya. Tengah malam, pulang kerumah.

Argh, makin galau liat nilai yang semakin menurun. Nyesal.

One thought on “Hemat Itu Perlu, Tapi Bukan Pelit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s