Mandiri Bukan Sendiri

Aku dituntut untuk mandiri, bukan sendiri. Mandiri dan sendiri itu berbeda, camkan itu! Sebagian orang berpendapat mandiri itu sama dengan sendiri. Contohnya, mandiri itu mandi sendiri, mandiri itu makan sendiri, dan lain sebagainya. Aku tegaskan sekali lagi, mandiri BERBEDA dengan sendiri. Pada kesempatan ini aku bukan berbicara tentang mandiri, tapi aku akan berbicara tentang sendiri. Happy read🙂

Beberapa hari ini sangat dipusingkan dengan kesendirian. Di satu sisi, kesendirian berasal dari teman serumah gak ada di tempat. Di sisi lainnya, kesepian merenggut ponsel yang tak kunjung berdering.

Sebencinya aku sama teman serumah, ternyata aku juga kesepian tanpa mereka. Tak bisa kupungkiri bahwa aku merindukan mereka. Yang satu merasa sangat pintar karena punya IP yang lumayan tinggi, sehingga seolah-olah semua yang keluar dari mulutnya itu semuanya benar. Sedangkan yang satunya seringkali jadi bualan aku dan temanku karena pengalaman cintanya yang terbilang dibawah standart. Miss you, friends. Yang STIKIP Biologi emang lagi liburan dan katanya pertengahan Maret baru aktif kuliah. Sedangkan si Teknik Sipil Unlam *maaf* punya IP dibawah standart sehingga dapat jatah sks *maaf* dibawah standart pula. Jadi jadwal kuliahnya sangat sedikit. Katanya, jadwal dia kuliah hari Senin, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sabtu kemarin dia libur karena dosen gak ada. Seringkali dia bolos saat Senin. Kesendirian aku pun semakin menjadi.

Ponsel tak kunjung berdering. Semenjak komunikasi sama Tika mulai berkurang, hingga hilang sama sekali. Maka tidak ada lagi yang jadi pelampiasan. Aku emang gak suka sms sembarangan gitu. Kalaupun mau, aku bisa kok ngacak nomor sebarang untuk sekedar cari teman smsan. Atau smsan sama kaka tingkat, gangguin mantan-mantan, atau yang lainnya. Tapi emang gak bisa. Aku juga kurang tau retaknya hubungan kami. Entah dia sudah sadar kalau aku ini membosankan, atau dia sudah menemukan “kakak” barunya. Ahh entahlah, positive thinking aja. Masalah sms, paling juga aku sms Uya kalau mau ngampus. Aku sms Uya, “siap!?”. Lalu dia balas, “Siap . . .”. Kemudian aku berangkat. Ketika sudah didepan kost Uya, “ayo..”. Beberapa saat kemudian dia turun dan kami ngampus bareng. Besoknya sms gitu lagi. Besoknya juga. Dan seterusnya. Sms nya pun sama setiap pagi, paling cuma beberapa waktu yang beda. (1) Aku sms Uya, “siap!?”. Dia balas, “hari ini aku gak masuk, sakit kepala”. (2) Aku sms Uya, “siap!?”. Dia balas, “aku sudah di kampus”. (3) Aku sms Uya, “siap!? hari ini bawa helm ya, kita jalan..”.

Kalau ada sms lain, paling cuma dari Mutiva. Selalu memberi kabar terkini tentang HIMA, entah itu rapat atau lainnya yang berhubungan tentang HIMA. Atau sms dari Abay yang isi sms nya semacam Mutiva, namun tentang BLM. Begitu juga Esty, dia memberi kabar seputar Sahabat Peterpan Banjarmasin yang bernama “Borneopanerz”. Akhir-akhir ini frekuensi sms dari Esty membludak karena rencananya Minggu, 18 Maret 2012 kami Borneopanerz akan mengadakan bakti sosial berupa kunjungan ke sebuah panti asuhan di Banjarmasin. Hal itu kami lakukan sebagai apresiasi, bisa juga dikatakan sebagai syukuran untuk Peterpan yang akan meluncurkan album instrumental akhir Maret atau awal April nanti. Nah, mungkin sms-sms seperti itu yang masuk di inbox, sudah jarang sekali sms yang bersifat pribadi yang menyinggahi inbox. Oya, juga sms dari Radith yang memberi kabar terkini tentang informasi di kelas.

Oke, sekarang bercerita tentang Minggu lalu. Pada hari Rabu sudah diberitaukan oleh dosen, bahwa untuk kelas hari Sabtu diliburkan. Nah, mulai dari sana ada rencana pengen berkunjung ke tempat kelahiran, Barabai. Rencana ini makin membara ketika Hifni menawarkan diri, “ikut aku saja!”. Rencananya Jumat siang kami berangkat dari Banjarmasin. Rencana ini disetujui oleh kedua belah pihak. Kamis sore ada sms dari Abay yang intinya Jumat sore disuruh menghadiri rapat bulanan. Yah, namanya juga Haris, kalau disuruh pasti diusahakan bisa. Kemudian aku coba negosiasi dengan Hifni masalah jam keberangkatan agar bisa diundur agak sore. Tapi kami tidak mendapatkan titik temu. Dan akhirnya Jumat pagi waktu dikelas, kami coba bicarakan langsung. Dan ternyata rencana kami berakhir dengan keputusan “batal”. Bukan karena jam keberangkatan saja, tapi Hifni juga gak dibolehkan pulang kampung bawa motor menjadi faktor batalnya rencana kami. Dan telah diputuskan dia ikut pamannya pada Sabtu pagi dan aku batal karena ternyata emang gak bisa, karena kemudian ada sms dari Mutiva bahwa hari Sabtu siang rapat. Dan sms dari Esty kalo Borneopanerz akan mulai menunjukkan bulunya disiring Minggu sore, setelah lama vakum. Kami biasanya cuma ngumpul dirumah Fakhruz. Minggu sore disiring sekaligus membahas masalah bakti sosial. Yang tadinya Jumat sore sampai Minggu sore bisa santai, ehh malah dibuat sibuk. Nah, pada saat itulah aku merasa kesendirian.

Rencananya kalau batal ke Barabai, aku pulang ke rumah mama, Pelaihari. Apa daya emang tak bisa. Siang hari akan disibukkan, tapi malam nya akan jadi BETE. Kalau saja ada teman serumah, masih bisa diajak jalan kalau bete. Kalau ngajak Tika jalan malam, pasti dia bilang, “minta izin dulu sana sama mama”. Kalo ngapel kerumah Tika sudah bosan, cuma ngomong basa-basi gak karuan. Jalan siang aja cukup sulit, apalagi malam. Waktu itu dia ngajakin nonton. Tapi karena emang jadwal kuliah kami sama-sama penuh dan beda jadwal, maka sulit nyari waktu kosong. Akhirnya sepakat kami putuskan Rabu untuk nonton walau agak mepet juga. Dan sungguh tak terduga. Saat mau kerumah Tika, belum jauh dari kelas, Mitra manggil aku di pinggir jalan. Ternyata ban motornya bocor. Sudah kukatakan sebelumnya, kalau disuruh pasti diusahakan bisa. Akhirnya mengorbankan sedikit waktu untuk Tika untuk membantu ngantar motor Mitra ke tukang tambal ban terdekat. Setelah sampai ke tambal ban, aku bergegas jemput Tika. Dan kami menuju Mall dengan kecepatan penuh, *maaf ya*. Sesampainya di Mall, langsung menuju XXI, dan ternyata sudah telat 30 menit dan gak dibolehkan masuk lagi. Akhirnya batal nonton, dan kami memutuskan untuk menggantinya dengan makan disana. Dia setuju dan akhirnya dia bayarin makan, *terimakasih ya*. Walau sms mulai tidak ada lagi, tapi komunikasi empat mata kami masih seperti biasanya. Seringkali dulu bertengkar di sms, dan saat bertemu malah seperti gak ada masalah sama sekali. Masalah kami selalu selesai dengan bicara langsung, bicara empat mata. Tapi sekarang!? Sudah jarang ketemu. Tapi gak ada masalah kok, dan aku yakin kalau ketemu lagi pasti masih seperti biasanya.

Bete malam. Malam bete. Bete malam. Akhirnya muncul niat ngajak Radith keluar. Jumat senja aku sms dia dengan niat mau ngajak jalan pada malam itu, kalau gak bisa diganti jadi Sabtu malam. Tapi respon pertamanya pun sudah membuatku membatalkan niat baikku itu. Dia balas sms, “ini beneran Haris!?”. Sumpah, nyesek abis waktu itu. Gak bisa berkata-kata lagi dan gak aku balas lagi smsnya. Walaupun aku tidur sekalipun, ponsel aku gak bakal dibajak oleh temanku. Ponsel aku punya keamanan yang kuat. Kalau pun dipakai oleh temanku, pasti dengan sepengetahuanku. Next. Waktu rapat pada Sabtu siang, Mitra ngajak makan jagung pada malam nanti. Kalau Mitra yang ngajak pasti sama Radith dan Maumau. Aku sama Uya. Sepakat malam nanti kami berangkat. Walau rame-rame, setidaknya masih ada Radith dan setidaknya mengurangi kesepianku. Dan ternyata, dan ternyata hujan turun malam itu. Lebat pula. Nyesek abis. Emang sulit ya, niatnya mau ngomong langsung, ngomong empat mata, ngomong biasa. Tapi keadaan tak pernah mendukung. Disaat keadaan mendukung, ehh malah akunya yang gak pernah terpancing buat ngomong. Hubungan kita gak pernah bisa selancar air.

Akhirnya kembali meratapi kesepian. Meratapi kesendirian dengan racun tikus ditangan kiri dan obat nyamuk cair ditangan kanan.

*Tambahan (baru ingat):
Jumat sore, teman SMA ngajakin ngumpul pada Jumat malam. Kali ini pesertanya banyak. Isi sms dari Dini seperti ini, “Har, kita ngumpul bla bla bla”. Itu sms pribadi, dan artinya kehadiran aku sangat diharapkan pada waktu itu. Bukan sms, “Ey kawan2, kta ngumpul bla bla bla”. Itu sms ke semua, yang mau datang silakan, yang tidak juga gak apa-apa. Waktu itu sempat rencananya habis rapat BLM mau langsung berangkat. Tapi ternyata rapat sampai jam 6, sementara ngumpul habis Maghrib. Aku suruh tunda sampai besok malam aja, tapi gak bisa katanya. Sumpah nyesek abis. Pada malam harinya Faisal sms, “Har, aku dirumah Lisa. Tapi gak asik gak ada km”. Lupa isi sms nya, tapi intinya begitu. INI MAKSUDNYA APA!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s