Kelas Tambahan Bukan Pilihan yang Tepat

Kelas tambahan bukan pilihan yang tepat. Hampir semua mahasiswa tidak suka dengan kelas tambahan. Apa daya jika dosen berkehendak. Namun pada dasarnya kelas tambahan lebih efektif daripada digantikan dengan tugas bejibun. Padahal mahasiswa lebih suka tugas daripada kelas tambahan, karena pada tugas bisa minjam punya teman sedangkan kelas tambahan tidak bisa.

Jujur, walau aku sudah mahasiswa yang notabene orang yang mandiri, namun aku lebih suka disuapi layaknya di sekolah dulu. Walau murid bukanlah mahasiswa, namun dosen tetaplah guru. Pahami aku, turuti mauku.

Oke, ternyata kelas tambahan lagi. Kamis, 22 Maret 2012 telah diumumkan kalau akan ada kelas tambahan Sabtu nanti. Awalnya berniat ingin bolos saja dan menetap di kampung halaman beberapa hari. Tapi ternyata emang dari dalam hati tidak membolehkan untuk bolos. Jumat sore pulang kampung. Sabtu pagi kembali ke Banjarmasin. Ada alasan lain kembalinya aku ke Banjarmasin, yaitu dipaksa Dendi selaku panitia untuk ikut kemah bersama BEM. Awalnya sih gak mau, ngajak Uya dia juga gak mau. Bisa – bisa satu kemah aku sendiri lakinya. Tapi ternyata ada laki yang ikut dari angkatan 2011. Sudah dipastikan yang ikut kemah mewakili Matematika adalah 1 orang laki 2011, 2 orang perempuan 2011, 1 orang laki 2010 (aku sendiri), sisanya perempuan 2009 (saucubay). Oya, kemahnya masih di lingkungan FKIP Unlam.

Kemah dimulai Sabtu pagi bertepatan dengan kuliah pagi itu. Sekalian nyiapin diri buat kuliah tambahan, juga nyiapin barang buat kemah. Barang sengaja dititipkan di kost Uya, supaya aku gak perlu balik jauh kerumah cuma sekedar ngambil barang. Oya, sempat ngambil tanpa izin jas alma teman serumahku karena jas aku dipinjam Eko tanpa izin pula. Pagi itu kuliah dengan khusyuk tanpa ada pikiran untuk kemah, niatnya mau kabur habis kuliah. Pada saat masuk kuliah, peserta kemah dari prodi lain sudah membangun tenda masing-masing, tapi aku tidak melihat anak Matematika. Sampai kuliah berakhir pun aku belum liat anak Matematika mendirikan tenda. Saat keluar ruang kuliah, aku masih santai di depan ruangan sambil liat persiapan kemah. Kebetulan waktu itu kuliah di lantai dua. Saat santai, Randi (anak Matematika 2011) memanggil aku dengan isyarat tangannya dari kejauhan. Sial, bakal disuruh nemenin bikin tenda nih. Yasudah, akhirnya mendekat dan benar saja, mendirikan tenda. Waktu itu cuma ada anak 2011 sama aku, anak 2009 belum keliatan batang hidungnya. Akhirnya kami bangun tenda bersama panitia. Cuma Matematika yang bangun tenda bersama panitia disaat yang lain sudah santai di tenda masing-masing. Untungnya panitia juga masu membantu. Sampai agak sore, anak 2009 belum juga ada. Akhirnya dijemput ke kost. Cukup banyak yang dibawa, mulai sedus air mineral sampai peralatan masak. Sabtu malam, kami mulai lapar. Akhirnya kami titip nasi bungkus sama kakaknya Elsa (2009), padahal gak boleh sama panitia. Kan kalau kemah harusnya bikin makanan sendiri. Panitia pun sudah memberi mie 10 bungkus dan telur 10 butir. Oya, sore itu pun aku numpang makan sama panitia. Panitia pun cuma makan nasi + mie bersama ikan asin.

Setelah isya, kami disuruh kumpul ke aula. Disana kami bebas mengadu masalah FKIP, maupun masalah organisasi. Banyak yang kritik tentang pelayanan bagian akademik yang kurang ramah, ada yang minta transparansi uang hotspot, ada yang bicara masalah kebersihan kampus, bahkan ada yang mengkritik 100 hari kerja BEM. Pokoknya semua uneg-uneg mahasiswa FKIP Unlam keluar waktu itu. Yang jadi moderator waktu itu adalah alumni D3 PGSD FKIP Unlam dan sekarang melanjutkan kuliah S1 PGSD FKIP Unlam entah siapa namanya. Semua uneg telah ditulis dan yang berhubungan dengan kampus akan disampaikan langsung kepada Dekan FKIP Unlam. Setelah acara diskusi bersama, kami kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat sejenak sebelum pensi tengah malam nanti. Kalo gak salah, setelah itu kami makan nasi bungkus.

Tengah malam, acara pensi dimulai. Semua dibangunkan. Semua disuruh kumpul di belakang aula. Gelap ouy, sangat gelap. Tapi sudah ada tumpukan kayu yang sepertinya sudah disiapkan untuk dibakar, unggun. Api datang dari atas, keren wey. Apinya kayak main flying fox gitu. Pensi dimulai. Dan parahnya Matematika adalah kelompok pertama yang harus menampilkan pensi sesuai nomor urut undian yang sudah dibagi sebelumnya. Dan kerennya malam itu bisa liat drama musikal dari Sendratasik. Juga penampilan dari PGSD yang tidak kalah bagus. PLB juga. Di malam pergantian hari itu ada teman kami yang berulang tahun, Tries(2009). Galau abis, karena tidak ada ucapan dari ehmm. Kebetulan waktu pensi, Matematika duduk di dekat panitia. Dan kebetulan lagi, disamping kami adalah sang moderator waktu diskusi bersama. Dihibur sama dia. Dia ngelawak. Pokoknya gokil. Pokoknya berbeda waktu dia duduk sebagai moderator sebelumnya yang berwibawa dan tegas. Pensi berakhir, semua kembali ke kemah masing-masing. Parahnya kami gak bisa tidur. Akhirnya kami masak pisang goreng. Di kemah Matematika ada 2 gitar. Waktu pisang goreng siap saji, banyak panitia yang menghampiri kemah kami. Makan pisang goreng bersama panitia ditemani lantunan musik dari gitar. Oya, faktanya kemah kami sering dikunjungi panitia, entah panitia apapun. Ada yang mau main gitar, ada yang mau main remi atau domino, atau bahkan ada yang cari makan. Kami tidak bisa tidur, main kartu sepanjang malam. Mungkin kurang lebih jam 4 baru (aku) tertidur. Randi sudah molor duluan. Shubuh semuanya dibangunkan. Aku shalat shubuh ke masjid. Setelah itu senam bersama. Sumpah unik abis. Instruktur senamnya berasal dari PGTK (kalo gak salah), jadi senam anak TK gitu deh. Setelah senam, semuanya disuruh balik ke kemah masing-masing. Harusnya waktu ini dipergunakan untuk mandi. Tapi sepertinya dari Matematika gak ada yang mandi. Aku cuma gosok gigi dan cuci muka. Saat itu Dendi pulang, sekalian kami titip lalapan. Tapi Dendi belum juga datang. Saat semua peserta dikumpulkan lagi untuk acara selanjutnya, games, Dendi belum juga datang. Akhirnya nge-games dengan kelaparan. Semua peserta dikumpulkan, dan dibentuk kelompok baru. Salah satu games nya ada yang berhubungan dengan air. Akhirnya banyak yang mandi tidak sengaja. Usai games, kami makan lalapan dari Dendi di kemah. Harusnya tidak boleh, tapi yasudahlah. Kami mengisi waktu luang setelah kenyang dengan main kartu sama gitar. Saat itu, kemah seberang kami menampilkan sebuah tulisan “Menerima Bantuan Logistik”. Kebetulan kami yang berlebihan mie sama telur, juga sedikit cemilan. Kami kirim bantuan ke kemah seberang. Setelah itu semua berbenah. Lalu semua peserta dikumpulkan di aula untuk penyampaian kesan dan pesan, pemenang-pemenang, dan penutupan. Setelah semua selesai, saatnya untuk ngerjai yang ulang tahun. Setelah penuh dengan tepung, dan akhirnya nyemplung di danau. Begitu juga salah satu perempuan dari PLB. Kemah berakhir.

Aku sampai rumah jam 5 lewat. Sampai depan cermin dirumah, INI SIAPA!? GELAP AMAT!! Sumpah, warna muka berubah drastic. Saat itu langsung dirusuh ngumpul di Siring, ada yang mau dibicarakan, penting. Belum mandi. Cuma ganti baju, pakai baju resmi. Sampai di Siring dengan muka kusam dan lelah. Kali ini banyak Sahabat Peterpan yang datang, dari Banjarbaru dan Gambut pun hadir. Gak kecewa datang sore ini. Yang dibicarakan adalah masalah Bakti Sosial ke Panti. Capek nulis, sekian dan terima kasih. (Tulisan yang ditulis sejak sebulan yang lalu. Tersendat-sendat karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan).

One thought on “Kelas Tambahan Bukan Pilihan yang Tepat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s