Senin, Awal Ketenanganku

Tiga hari yang lalu . . .

Sepulang dari kampus, entah kenapa Senin itu terasa sangat lepas tanpa beban sedikitpun. Bukan seperti Senin biasanya yang sangat membosankan. Biasanya Senin di kampus sejak setengah delapan sampai jam empat sore untuk kuliah, belum lagi jika malas pulang dan berkutat di sekre sampai senja tiba. Pagi hari aku tidak lagi upacara seperti saat jadi pelajar dulu, tapi harus dibebani dengan mata kuliah bernama Statistika Matematika. Kesukaanku pada Statistika luntur pada kali ini, ternyata bukan Statistika saat SMA. Sumpah, aku tidak tau apakah teta, gama, diskrit, dan semacamnya itu akan berguna pada saat aku lepas dari dunia perkuliahan nanti!? Siang hari bersama mata kuliah Komputer dan Pemprograman, diajarkan untuk berbahasa aneh atau biasanya disebut bahasa pemprograman. Sore hari bersama dosen yang sama dengan mata kuliah Statistika Matematika, bapa Hidayah. Sore hari bersama mata kuliah Geometri Lukis, sebuah mata kuliah pilihan yang isinya full dengan lukisan semata. Aku adalah mahasiswa matematika, bukan mahasiswa seni. Jadi, jangan coba membayangkan bagaimana lukisanku. Pada mata kuliah ini, aku disuruh melukis Geometri dalam beberapa proyeksi. Sumpah, aku bukan mahasiswa fisika!! Namun Senin itu telah berakhir seiring berjalannya waktu, tsahh.Senin itu bukan seperti Senin biasanya, karena harusnya hari itu menjadi awal libur seminggu sebelum ujian. Mahasiswa menyebutnya minggu tegang tenang. Tapi karena ada suatu hal, aku ngampus pada Senin itu. Siang hari sudah pulang kerumah, hari ini mau pulang kampung ke Pelaihari. Tapi masih terlalu panas untuk berangkat saat itu. Kebetulan saat itu ada Madan, teman serumahku yang katanya mau ke kampus ngumpul tugas. Saat itu Faisal masih kuliah di kampus. Nyinggung dikit, �Hari ini aku mau ke Pelaihari, tapi masih panas, ntar sore aja deh..�. Maksud aku sih supaya Madan ngajak aku ke kampus. �Bete nih nunggu sampai sore, gak ada kerjaan. Ke mall bisa kali yaa, cari teman dulu ahh..�. Dia masih tidak sadar kalau sebenarnya aku minta diajakin ke kampus, fuck u mamen. Akhirnya dia ninggalin aku ke kampus. Kemudian Faisal datang. Dia terlihat capek dan langsung tidur di kamar. Aku gak tega ngajak dia jalan. Akhirnya aku juga tidur di kamarku. Oya, sebelum tidur aku sempat ngajak Tika jalan. Kemudian aku dibangunkan oleh sms Tika yang isinya tidak bisa jalan saat itu. Ternyata sebelum sms Tika masuk, ada sms dari Madan yang isinya �Har, jadi ke mall!? Ikut dong..�. Oke, akhirnya ini sebuah awal dari hilangnya bete di Senin itu. Sepulang Madan dari kampus, aku dan Madan yang satu kampus packing buat pulang kampung sore itu, sebelum pulang kita rencananya nge-mall dulu. Faisal yang beda kampus katanya gak ada minggu tenang untuk kali ini. Dan Faisal juga gak mau diajak nge-mall. Oya, saat itu cukup lapar, aku beri dua opsi pada Madan, makan di depan komplek atau di mall!? Madan memilih makan di mall, deal.

Akhirnya kami berangkat dengan setumpuk barang di dalam tas. Berangkat sekitar jam lima. Tentunya tas dengan isi segunung itu tidak kami bawa ke mall, dititipkan ke penitipan barang. Oya, kali ini aku keliling mall pakai sepatu. Aneh aja gitu. Biasanya sih enggak. Jadi aneh aja liat diri sendiri. Sumpah, canggung. Yasudah, gak penting. Abaikan. Kemudian lupakan. Tujuan utama kami adalah KFC, sudah sangat lapar. Terakhir makan siang tadi di kampus. Oya, saat makan siang, sekalian ada hiburan teman yang lagi di hipnotis. Saat di KFC, ada notif Facebook. Status aku dikomentari oleh seorang teman Facebook bernama Adink Ghaneeya Azkael. Oke, gak penting. Abaikan. Kemudian lupakan. Saat itu ada rencana buat nonton. Dan hal itu kami batalkan sepihak karena teringat pesan penjaga penitipan barang sore tadi �Barang cuma bisa dititpkan sampai jam 8..�. Kemudian kami cukup lama di Gramedia. Saat itu aku nemu dan baca buku Pandji yang berjudul �Merdeka dalam Bercanda�. Sebuah buku yang khusus didedikasikan buat StandUp Comedy Indonesia. Buku tentang perjalanan StandUp Comedy di Indonesia, from Tiny to Funny. Saat itu Madan baca buku tentang agama gitu. Aku masih fokus dengan buku Pandji, Madan sudah beralih ke buku tentang makanan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pelaihari, aku sempat beli semacam roti dengan isi pisang dan juga roti full cokelat dari Bread Master. Semacam oleh-oleh untuk orang rumah.

Dalam perjalanan pulang, aku lihat bulan sudah bersinar terang meski belum jauh malam. Walau bukan purnama, bulan tetaplah indah. Saat itu, ada sedikit robekan kecil pada bulan. Ini kali pertama aku melihat bulan dengan bentuk seperti ini. Bukan seperti biasanya. Aneh. Namun, semakin malam bulan nya malah jadi penuh, purnama. Tak disangka, bulan itu mengingatkanku pada kejadian masa lalu. Entahlah, mungkin rindu yang membara. Dahulu, bahkan aku lupa beberapa tahun lalu, aku sempat makan malam dibawah bulan purnama bersama seorang perempuan. Kami tak berniat mencari malam TEPAT saat purnama muncul untuk makan malam, itu tidak direncanakan. Inilah perempuan pertama makan malam dibawah bulan purnama bersamaku. Saat itu masih seperti biasa. Kalau kita berduaan, diam-diaman doang. Hanya ada beberapa patah kata yang sangat tidak penting. Kita datang ke sebuah tempat makan terbuka daerah Banjarmasin Tengah. Kemudian makan. Lebih sering memandang bulan daripada berpandangan mata. Bukannya ngomong beberapa patah kata, malah pada saat itu aku ngomong ke teman aku yang lagi bete dirumah, �Aku lagi makan sama cewek dibawah bulan purnama, romantis loo..�. Tak ada percakapan penting yang terjadi malam itu, akunya malah smsan. Usai makan, kami pulang. Baru perempuan ini yang diam ketika bersamaku. Aneh. Masa masih ada cewek yang diam ketika bersama pria dengan paham idealisme ini!? Iyaa, IDEALISME. Oke, aku tegaskan sekali lagi, IDEAL.IS.ME.

AIHH..

Biasanya sih yang lain cerewet, sampai enek dibuatnya. Kadang ada baiknya dia diam agar berbeda dengan cewek pada umumnya. Agar terlihat lebih misterius. Agar bisa menarik perhatianku. Tapi disisi lain, aku menyangkal hal itu. Entahlah, tak ada respon positif darinya. Seakan usahaku tak ada artinya, nol. Pupus. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Dan aku mulai letih akan semuanya. Tapi saat aku mulai menjauh, kenapa mulai memberi harapan!? Aihh, kenapa malah curhat!? Abaikan. Kemudian lupakan. Dalam perjalanan pulang, bahan bakar motorku hampir kosong, untungnya masih ada pom yang buka pada malam itu. Sempat makan pentol yang nangkring di pom itu. Aku dan Madan berpisah di pertigaan Pelaihari. Sesampainya dirumah, papa dan mama makan roti yang aku bawa. Ternyata dua orang adik sudah tertidur lelap. Dan orang tua pun lahap.

Inilah Seninku. Senin, awal ketenanganku. Bagaimana dengan Seninmu!?

NB: Harusnya terbit tiga hari lalu, namun baru sekarang ada niat nulis. Saat asik nulis, mendadak perut ngajak ke toilet. Tanpa basa-basi, langsung masuk toilet, buka ini itu, kemudian jongkok. Tak lama jongkok, ada yang bergerak di sudut pintu toilet, aku ragu kalau sekarang percikan air berubah warna menjadi hitam. Sesaat kemudian aku sadar kalau ternyata itu adalah tikus yang gelisah karena terperangkap bersamaku. BAYANGKAN!! Terperangkap bersama tikus, berdua doang!! Oya, bertiga deh. Aku, tikus, juga burung. Tanpa pikir panjang, aku langsung teriak �MAA!! ADA TIKUS!!�. Kemudian aku berdiri, buka pintu toilet, lalu langsung lompat keluar dan lari ke pangkuan mama. Untungnya saat berdiri aku masih ingat untuk pasang ini itu. Kemudian mama ngusir tikusnya, lalu aku lanjutkan bersimedi. Selesai. Lanjut nulis. Setengah tulisan, sakit perut lagi. Untuk yang kedua, yang keluar adalah �cooor�. Aihh. Papa dan mama ngasih saran buat minum obat, tapi aku mengabaikannya dan kembali ke depan laptop lalu lanjut nulis hingga selesai. Fuihh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s