Selama Masih Bisa Kulakukan, Pasti Akan Kulakukan

Sudah lama rasanya. Banyak moment yang terlewatkan. Namun aku akan bebicara tentang beberapa hari terakhir saja, mumpung masih ingat.

Jumat.
Pagi itu berangkat dari Pelaihari, padahal baru Kamis malam sampai di Pelaihari. Siang ini ada rapat pemantapan LDK Hima. Dan parahnya ini adalah rapat kedua yang kuikuti setelah rapat pembentukan panitia LDK. Yang aku tau, untuk LDK kami cuma rapat tiga kali. Pembentukan panitia, penentuan tema (saat itu tidak bisa hadir karena tabrakan dengan jam kuliah), dan pemantapan. Mungkin dilain tiga rapat yang aku ketahui, ada rapat internal. Atau juga kesalahan koordinator ku yang lupa menyerbarkan sms rapat, entahlah. Jujur, aku pribadi kecewa. Aku tidak tau sama sekali tema kegiatan, acara kegiatan, tempat kegiatan. Sebenarnya aku ingin masuk ke divisi acara, namun sepertinya sudah banyak anggota divisi acara yang ahli di bidangnya dan sepertinya aku bakalan diabaikan. Daripada seperti itu, akhirnya aku memilih divisi keamanan supaya bisa tidak bekerja sama sekali. Beberapa jam sebelum T echnical Meeting, acara ditetapkan hanya disekitar kampus karena masalah perizinan dari ketua prodi. Padahal peserta LDK taunya acara akan dilaksanakan di pantai Takisung. Rapat masih jalan, dan tiba-tiba ketua pelaksana datang ke ruang rapat dengan membawa berita yang entah ini berita bagus atau berita buruk, katanya mendadak diizinkan melaksanakan acara di Pantai Takisung. Bagi ketua pelaksana ini adalah berita bagus, terlihat dari mimik wajahnya yang sangat senang. Namun bagi sebagian besar panitia, ini adalah berita buruk. Untuk divisi acara yang harus merombak lagi susunan acara yang sebelumnya sudah fix. Untuk divisi perlengkapan yang harus mencari alat transportasi, serta perlengkapan lainnya. Dan untuk divisi lain yang tak kalah pusing dibuatnya. Untungnya aku hanya divisi keamanaan yang tidak mau ribet dengan adanya perubahan dadakan ini. Oya, sepertinya aku salah pilih baju pada Jumat itu. Aku pakai baju bertuliskan “Me Is Playboy”. Sempat dibully teman panitia lain dan harus selalu menghindar. Technical Meeting berjalan lancar. Sementara peserta sedang Technical Meeting, beberapa panitia rapat lagi untuk menanggulangi perubahan dadakan ini, rapat dipimpin langsung oleh ketua Hima. Dan ternyata aku ditugaskan mencari alat transportasi bersama Basil dan Muja yang merupakan divisi perlengkapan. Dan kenapa harus aku!? Padahal aku sangat malas untuk turut bekerja dalam acara ini. Namun inilah aku, selama masih bisa kulakukan, pasti akan kulakukan. Malam itu aku dan Basil nyari truck sebagai alat transportasi peserta. Muja hanya tidur, mungkin. Awalnya aku bertanya kepada orang yang lagi ngecat truck nya, ternyata dia gak bisa, coba tanyakan ke truck seberang, rumah pemiliknya gak jauh dari truck. Aku dan Basil nyebrang, tanya kepada orang yang lagi nongkrong didekat truck, mereka menunjukkan rumah pemilik. Berbincang sedikit, dan kira-kira bianyanya 700 ribu rupiah. Aku dan Basil pamit pulang. Basil memberikan usul lagi untuk coba mencari truck yang lagi ngantri di pom. Kami berangkat ke pom terdekat, disana kami menemukan sekumpulan supir truck yang lagi santai. Aku bertanya, dan biayanya hampir dua juta untuk dua hari. Basil tetap tidak menyerah walau aku sudah pengen pulang, kami menemukan sekumpulan supir truck lainnya. Ternyata sama, hampir dua juta juga. Akhirnya kami memutusakan untuk memakai truck awal. Sebelum pulang, ternyata Basil lapar (aku juga), akhirnya memutuskan makan malam bersama di Warung Alan. Dan sepertinya Basil berhasil memeras dompetku.

Sabtu.
Hari ini jadwal ujian Kewirusahaan. Juga jadwal acara LDK indoor yang dimulai jam setengah dua. Pagi itu ada briefing dadakan untuk acara outdoor, disuruh jam sembilan untuk briefing, sementara ujian dimulai jam sebelas. Aku datang jam sepuluh, saat itu aku ke kampus sama Uya, padahal Uya sama sekali tidak tau kalau ada briefing pagi itu, dan ternyata banyak yang tidak tau juga. Yasudahlah. Ujian Kewirausahaan hampir ditunda atau ditiadakan sama sekali karena dosen yang lupa hari itu adalah ujian Kewirausahaan yang tertunda karena hari Selasa tidak bisa. Ujian ngaret setengah jam. Registrasi panitia LDK jam dua belas. Setelah itu, beberapa orang dikelas rapat internal masalah liburan yang akan dilaksanakan pada Rabu mendatang. Aku sengaja tidak ikut karena tujuannya adalah kota ku lagi, Pantai Batakan, jadi malas ikut. Acara LDK indoor dilaksanakan jam setengah dua siang, berisikan tentang materi kepemimpinan dan organisasi. Sebenarnya jam dua ada rapat BLM, tapi dibatalkan secara sepihak entah karena apa. Masalah truck, aku lepas tangan. Kuserahkan kepada yang berwenang, yaitu Basil dan Muja. Aku malas untuk ikut campur lagi. Malam hari. Aku masih bingung apakah ke Pantai Takisung pakai kendaraan atau ikut mobil!? Kalau pakai kendaraan, sebaiknya sekarang aku menuju Pelaihari, sekalian pulkam dan bawa barang. Tapi ketua Hima menyuruh untuk tetap di Banjarmasin sampai besok untuk ngurus keberangkatan. Dan ketua BLM ngajak ketemu hari Senin, aku tidak bisa dan dia nyuruh ke kampus hari Selasa. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut mobil karena akan kembali lagi ke Banjarmasin. Kalau bawa kendaraan, lumayan capek. Malam itu juga, teman sekelas waktu SMA ngajak ngumpul. Katanya mau bakar jagung, atau apa kek. Tapi mau bagaimana lagi, kalau aku pulang sekarang juga jauh malam baru tiba di Pelaihari. Entahlah mereka jadi ngumpul atau tidak, aku malas menanyakan hal itu karena akan membuatku sakit hati. Malam itu ada perombakan masalah penjaga pos pada acara LDK, karena beberapa panitia mengundurkan diri. Pos 2, tempatku berjaga juga kena imbasnya karena Nazar gak bisa ikut ke Takisung. Akhirnya digantikan oleh Novia. Sebenarnya aku sudah sangat memohon kepada Serli supaya digantikan oleh Radith aja, tapi dia tidak mengizinkan. Yasudahlah.

Minggu.
Pagi itu aku packing. Sementara para peserta juga packing dari kemarin malam. Ada yang membuat ID Card, ada yang nyari teka-teki, masih ada juga yang sms aku dan bertanya jawaban teka-teki. Tapi maaf, aku pelit. Pagi itu aku ngajak makan siang sama Uya, walau akhirnya makan siang sama Radith, jam sebelas. Karena sudah janji mau makan sama Uya tapi batal, akhirnya bungkusin nasi untuk Uya. Lagi-lagi dompet makin kempes, traktir Radith, juga Uya. Jam dua lewat banyak, kami berangkat. Hampir jam lima kami sampai. Sesampainya, para panitia survey lapangan sementara peserta dibiarkan santai keliling pantai. Rute perjalanan cukup jauh. Acaranya dilakukan tepat jam dua belas malam, pasti sangat gelap. Senja tiba, semuanya ngumpul di penginapan. Makan malam. Setelah itu acara ramah tamah, semacam perkenalan panitia dan peserta. Setelah acara berakhir, para peserta dibiarkan istirahat, dan para panitia briefing lagi. Saat itu dipimpin langsung oleh perwakilan dosen, ka Fajri. Beliau tidak mengizinkan rute yang terlalu jauh. Akhirnya kami merombak rute lagi. Malam itu juga, kami survey dadakan. Semua panitia melakukan persiapan, mungkin semuanya tidak tidur malam itu. Beberapa panitia cewek juga sempat bikin kopi, tidak terkecuali Radith. Sebenarnya ingin berkata kepadanya, “minta kopinya dong..”. Namun apa daya mulut tidak bisa mengeluarkan kata simpel itu. Sampai akhirnya si Fenny yang memberi setengah cangkir kopinya untukku. Jam setengah dua belas, semua peserta dibangunkan mendadak. Divisi keamanan bekerja, mungkin cuma aku yang tidak. Saat itu perutku mendadak sakit. Padahal waktu itu adalah divisi keamanan pertama kalinya beraksi. Saat ramah tamah, kami memutusakan untuk jutek. Memperkenalkan nama singkat, kemudian turun tanpa basa-basi seperti yang lain. Saat ini adalah pemberian sanksi yang pertama kepada mereka yang salah membawa teka-teki, terlambat bangun, dan sebagainya. Arif, Dendi, Wanto, Puji, dan Mutiva marah-marah. Cuma aku yang megangin perut terus. Sampai akhirnya divisi konsumsi nanya, “kenapa har!?”, “ini perutku sakit”, “kebelakang dulu sanaa”, “bukan begituu, mungkin masuk angina atau sebagainya”, “kalau begitu aku ambilkan air hangat dulu”. Setelah minum air hangat, Ayu memberi minyak angin.

Senin.
Jam dua belas malam, LDK dimulai. Aku ke pos 2 bersama Serli dan Novia. Dikawal seorang fotografer, Fikri. Santai di pos 2, bosan karena peserta belum datang. Aku liat video David Archuleta. Baru sadar kalau Serli itu teman Qiqi, dan Qiqi nge-fans sama Archuleta. Akhirnya dapat “ciyyeee” dari Serli yang juga tau aku sempat pacaran sama Qiqi. Arghh, sial. Mp3 player dibawa Dendi. Puji di pos 1, aku di pos 2, divisi keamanan lainnya di pos 4. Pos 1, Puji bertindak sebagai keamanan. Pos 2, aku bertindak layak ketua pos, yang sebenarnya pos 2 dipimpin oleh Serli. Aku gak bisa marah saat itu. Pos 2 bertindak sebagai pos yang baik dan suka menolong. Bahkan disana aku jadi gaje, alay, dan lebay. Ngelawak dan cuma bikin peserta ketawa. Kami mengingatkan cara lapor yang benar, bahkan beberapa rahasia mungkin bocor. Tapi ada satu kelompok yang tegar, kelompok phi yang diketuai oleh Azmi. Mereka tetap tidak memberi tahu kalau ada pesan dari pos pelepasan, padalah kami tidak meminta, kami cuma ingin memberi tau. Snack yang ada pos diberikan kepada peserta oleh Serli. Aku kira itu adalah snack Serli, ternyata snack untuk penjaga pos. Arghh. Oya, Novia juga sempat memberi tugas untuk peserta, mengirimkan pesan untuk Uya yang ada di pos bayangan antara pos 2 dan pos 3. Sial, Novia bikin aku ngiri saja. Ada dua kelompok yang dikirimi pesan. Satu “I love you” dan satunya “I miss you”. Aku mau ngirim pesan, tapi orangnya ada di pos pelepasan, sebelum pos aku. Kalaupun dia selesai di pos pelepasan, aku juga gak tau dia mau kemana. Setelah selesai di pos 2, aku menuju pos 4 tempat keamanan berada. Tapi aku mampir dulu di pos 5, pos relaksasi. Disana ketemu peserta yang selesai melaksanakan LDK, terlihat lusuh dan menyedihkan. Santai di pos 5, curhat sebentar. Lalu disuruh Fuad ngantar peserta yang kebelet pipis ke penginapan, lalu kembali lagi ke pos 5 dekat musholla. Di penginapan ketemu divisi konsumsi, juga ketemu Radith. Aku lupa kejadian waktu itu. Kalau gak salah Radith ngajak makan bareng, atau divisi konsumsi yang ngomporin kami yang sama-sama lapar untuk makan. Sepertinya pilihan kedua yang benar. Aku nolak karena harus kembali ke pos 5 lagi. Setelah ngantar peserta aku ke pos 4. Saat itu sudah hampir jam empat. Aku datang, kelompok lima yang sedang dimarahi habis-habisan. Awalnya aku cuma melolotin doang, sampai akhirnya Fikri ngomporin terus, “masa keamana gitu!?”. Akhirnya mulai tegas gak jelas gitu. Marah gak jelas. Datang kelompok enam, mulai nyaman dengan profesi keamanan walau sebenarnya tidak tega. Aku cuma teriak aja, gak ada nyuruh push up, atau guling di pantai gitu. Gak tega. Pada kelompok enam, Dendi iseng nitip pesan, “kalau sampai pos 5, teriak KA HARIS KADA WANI NEMBAK KA ATUL!! kalau kada kedangaran sampai sini, kena sanksi coba!!”, “KA HARIS KADA WANI NEMBAK KA ATUL!!”, “LAGI!!”, “KA HARIS KADA WANI NEMBAK KA ATUL!!”. Aku pun ikut “NYARINGI!!”, “KA HARIS KADA WANI NEMBAK KA ATUL!!”, aku teriak disamping telinga ketua kelompok “LAKIAN KAH BINIAN!?”. Sudah sudah, mulai gaje. Kelompok terakhir, kelompok tujuh. Semua keamanan tidak terkecuali aku habis-habisan disini. Ini yang terakhir, yang paling lama. Aku gak mau ngerincikan bagaimana mereka dimarahi. Pada kelompok ini, Dendi titip pesan, “cari ka Atul dan bilang, AKU SAYANG KAMU, DARI KA HARIS!!” Itu dari Dendi, sumpah. Namun aku yakin gak bakal sampai juga kok. Santai. Ahh, lupakan, gaje. Saat semua selesai, lanjut ke pos 5. Ternyata ada yang kerasukan, nangis gak ada hentinya. Akhirnya semua kembali ke penginapan. Aku ngantuk, akhirnya ke ruang panitia untuk tidur. Saat itu sangat ngantuk, dingin pula. Kebetulan ada jaket Radith, aku minjam tanpa permisi. Tutupin bagian atas, bagian kaki masih kedinginan. Jaketnya wangi banget euy, jadi betah. Belum pernah aku rasakan sedekat ini. Kenapa aku tau itu parfum dia!? Sementara aku belum pernah sedekat itu dengannya. Itu karena suatu waktu aku pernah pakai motornya beberapa kali, sampai pernah nginap di rumahku hampir seminggu saat motorku di Pelaihari. Nah, di bagian stang motornya mungkin diberi seliter parfum, makanya gak bakal hilang cepat saat bawa motornya. Entahlah, aku suka nyiumin tangan kalau habis bawa motornya, haa. LDK habis sekitar jam lima. Aku tidur setelah shubuh. Itupun cuma tutup mata karena telinga masih mendengar raungan tangis peserta yang kesurupan. Saat itu yang tepar di kasur adalah aku, Dendi, Arif, dan Wanto. Wanto pakai sarungnya Eka, aku pakai jaket Radith, yang lainnya anti dingin. Aku masih belum bisa tidur, hanya memejamkan mata. Sampai akhirnya kami disuruh keluar karena ada panitia cewek yang mau ganti pakaian. Kami tiduran di kasur luar dan tambah dingin. Aku tetap nyaman dengan jaket Radith menutupi seluruh kepala serta bagian badanku. Masalah kerasukan sudah selesai. Pagi itu, kamar mandi masih antri, bahkan saat air belum jalan. Jam tujuh lewat, aku mandi. Oya, kemarin sore mandi sama Basil, aihh. Saat mau mandi, kamar masih dipenuhi panitia cewek, jadi jaket Radith aku letakkan diluar, di atas tas aku. Waktu aku bangun, Dendi Arif Wanto masih tidur, dan Puji yang menggantikan posisiku. Usai mandi, sarapan sudah siap. Divisi keamanan yang sarapan cuma aku dan Mutiva, yang lain tertidur lelap. Ternyata tadi para peserta melakukan bakti sosial sekitar pantai. Setelah selesai makan dan istirahat sejenak, kami liat Uya dan Novia yang asik di pesisir pantai, namun sepertinya lagi marahan. Uya berdiri disamping Novia dan mata tertuju padanya, sementara Novia duduk dan menatap lurus ke pantai. Beberapa lama, Uya kembali ke penginapan tanpa Novia. Novia tetap duduk manis di pesisir pantai. Akhirnya aku dan Dendi coba membujuk Novia agar kembali ke penginapan. Dia mau balik, tapi langsung ke ruang panitia dan langsung tiduran. Setelah itu aku mendekati para peserta yang asik main game bareng divisi acara di pesisir pantai. Beberapa saat, aku mulai bosan karena melihat pentas seni para peserta yang gitu-gitu aja. Inginnya sih mendekat ke samping Radith dan berkata “jalan di pesisir yuk”. Tapi aku batalkan karena takut dia bilang “gak mau”. Mungkin dia hanya bercanda, namun itu kelewatan. Ada waktunya untuk bercanda. Yasudah, intinya aku tidak berani untuk mengucapkan kata simple itu. Karena bosan, aku sama Muja kembali ke penginapan. Saat ke ruang, Novia masih tertidur lelap. Diluar kamar, masih ada beberapa divisi keamanan yang nyenyak. Aku sama Muja tiduran di samping Novia. Oya, saat itu jaket Radith udah gak ada, mungkin sudah diambil. Beberapa saat setelah tiduran, ada bunyi gelas pecah diluar ruangan, aku keluar sementara Muja sudah ngorok aja. Saat keluar, ternyata seorang divisi keamanan gak sengaja memecahkannya dalam keadaan masih tidur. Saat itu tidak ada niat kembali keruangan lagi. Aku melihat keadaan peserta lagi. Masih saja pentas seni gak jelas. Masih ada juga Radith yang tahan nongkrong disana, gak ngantuk yaa!? Sekali lagi, aku ingin berkata “jalan yuk”. Dan sama seperti alasan sebelumnya. Aku belum gentle. Akhirnya jalan sendirian, dan berharap dia ngikut walau mustahil, haa. Yasudah. Saat kembali ke keramaian peserta, udah game aja. Hukumannya coret lipstick seperti pos aku tadi malam. Setelah peserta selesai, sekarang panitia disuruh game. Walau masih tanpa divisi keamanan. Panitia seadanya. Dan aku salah satu orang yang kena lipstick waktu itu, arghh. Usai game, kembali ke penginapan untuk penutupan. Saat itu minta tisu sama Radith untuk menghapus lipstick. Sumpah, ekspresinya datar. Gak seperti saat berinteraksi dengan yang lain, bisa tersenyum bahkan tertawa lepas. Inginku sih sekalian dihapusin, tapi lagi-lagi itu pasti mustahil. Dalam keadaan yang belepotan, Ayu yang mau ngapusin lipstick dari mukaku. Setelah itu, peserta dan panitia salam-salaman. Cuma Radith yang tidak bersalaman denganku. Mulutku ingin bicara “I hate you”, walau sebenarnya hati berkata “I love you”. Namun kenyataannya yang keluar dari mulut adalah “ayolaaah” sambil menyodorkan tangan kepadanya dan dia tetap tidak mau. Akhirnya lewatkan saja daripada membuat acara salaman nya jadi macet. Usai penutupan, semua ke rumah Fuad untuk makan siang. Saat mau pulang, barulah sempat nanya ke Radith, “jaket udah diambil!?” setelah ngumpulin beribu nyawa untuk berkata sesimpel ini. Dia jawab, “iyaa” dengan nada judes. Aku ingin melanjutkan “makasih yaa, blab la bla”. Namun nyawa ku sudah hilang, dan takutnya dia tetap respon judes. Sepanjang perjalanan pulang, baru bisa terlelap tidur. Di jalan hujan. Kasihan para peserta yang kehujanan di truck. Bahkan banyak yang muntah katanya. Sampai di kampus, beberapa panitia termasuk aku bertanggung jawab sampai semua peserta dijemput pulang. Hampir maghrib aku pulang kerumah, da nada Madan dan Faisal yang sudah nunggu dirumah dan langsung ngajakin jalan. Madan minta temenin beli hp. Kami berangkat setelah aku mandi. Saat masih pilih-pilih hp, Radith bersedia untuk dibawakan makan ke kost. Aku pamit duluan sama Faisal dan Madan. Saat dijalan, Radith membatakan inginnya. Akhirnya aku langsung pulang kerumah, sementara Faisal dan Madan melanjutkan ke pasar Tungging.

Selasa.
Pagi ini Edwin minta temenin ke polres mau bikin SIM. Aku masih nyaman dalam selimut. Jam sebelas lewat aku ke kampus untuk ketemu ketua BLM. Aku ketemu Basil dan Muja yang entah ngapain di kampus. Dan sempat-sempatnya ibu Nurdiana marahin aku. Oya, ketemu ketua BLM bayar baju. Dompet diperas lagi. Setelah itu langsung kerumah Edwin. Berangkat ke polres, dan ternyata pelayanan SIM sudah tutup. Menuju jalan pulang, kami mampir di suatu warung mie ayam. Sesampainya dirumah Edwin, aku istirahat. Pengennya tidur, tapi gak mau tidur. Oya, Edwin juga memberi tau kalau pacarnya, Icha gak bisa ikut piknik dan digantikan olehku. Dia pun masih galau mau tetap ikut atau batal. Icha bisanya Kamis, dan Edwin gak asik kalau berangkat tanpa Icha. Saat santai tiduran dirumah Edwin, tetap tidak bisa tidur. Saat itu ramai di chat BBM. Awalnya ramai karena foto Tiyo beredar. Tiyo yang dulunya sangat pendiam dan sangat misterius, sekarang foto mesranya tersebar, mesra banget malah. Aku nya ngiri. Sampai akhirnya ngebahas rencana buka puasa bersama. Keputusan sementara, acara dilaksanakan pada bulan Agustus, tanggal belasan. Tempat masih ngambang. Mungkin di rumah Yesi, atau diluar. Dana, kami sudah mendapatkan sponsor resmi, yaitu Sheren dengan total sumbangan 500 ribu rupiah. Sisanya akan ditutupi oleh uang pendaftaran peserta. Hidup Alchemist! Bicara sedikit tentang Alchemist, itu adalah nama lain selain Spada, Sebelas iPA DuA, kelas kami. Mungkin Alchemist bisa disebut identitas. Kebetulan wali kelas kami saat itu adalah guru kimia. Dan saat kami ke kelas dua belas ipa dua, kami tidak merubah nya menjadi Biologist, karena Alchemist sudah merekat sejak dulu, sampai sekarang. Nama kelasnya adalah Vespa Dulu, twelVE iPA DUa LUcu. Walau gak nyambung, yang penting disambung-sambungin aja. Edwin masih belum memutuskan mau ikut atau tidak. Sore itu Muja datang kerumah Edwin minjam gitar Edwin buat dibawa ke Batakan besok. Oya, kebetulan aku ada rapat bersama Sahabat Peterpan Kalimantan Selatan tentang acara baksos pada bulan Ramadhan nanti, hari Jumat. Jadi gak sia-sia ikut piknik. Aku pamit pulang walau Edwin masih galau. Malam hari diputuskan Edwin tidak ikut. Malam itu juga aku nginap di kost Uya. Malam itu juga aku terbangun tiap saat karena hewan kecil yang bikin gatal, kami biasanya menyebutnya pampijit. Gatalnya luar biasa.

Rabu
Pagi itu aku masih tidak bisa tidur nyenyak. Jam setengah lima bangun. Jam enam aku dan Uya sarapan bubur di Bunda. Dan aku lagi yang bayar, makin kempes aja ini. Jam setengah delapan kami berangkat. Banyak kursi kosong, berbeda dengan rencana awal yang bakal banyak yang tidak dapat tempat duduk. Dan pada akhirnya aku duduk sendiri, Radith juga duduk sendiri. Banyak yang nyuruh untuk duduk berdua aja. Tapi tau sendiri aku masih belum gentle, harus ngumpulin nyawa yang banyak dulu sebelum bertindak. Saat nyawa sedikit terkumpul, aku dengar seseorang ngomong ke Radith “duduk sama Haris sanaa..”, dia malah jawab, “gak mau ahh..”. Seketika nyawa yang aku kumpulin mendadak hilang. Yasudah. Akhirnya memutuskan untuk coba tidur di dalam bis, walau tidak bisa juga karena sangat ribut. Sesampainya di Pantai Batakan, kami makan siang. Berharap Radith yang berada disamping saat makan, atau setidaknya dia yang mengambilkan sekotak nasi untukku, lagi-lagi berharap hal yang musatahil. Namun ternyata Novia lah yang bertindak untuk mengambilkannya. Duduk disebelah Novia yang asik dengan Uya dan juga duduk sebelah Amel cs. Makasih untuk Fenty atas nasinya, makasih juga untuk Maida atas ayamnya. Saat yang lainnya asik mandi pantai atau main bola di pesisir, aku memilih untuk mencari tempat tenang. Aku dapat sebuah tempat di pesisir pantai dan ketika aku lihat lurus ke laut tidak ada manusia disana. Aku tiduran di tempat itu. Namun masih banyak suara manusia, tapi aku samarkan dengan nyanyian yang keluar dari headset. Inginku bisa tenang dari rasa yang berkecamuh. Namun ketika itu juga Tika ngirim sms tentang nilai prokep, padahal sebelumnya gak ada pesan mau minta liatkan nilai. Sedikit tenang malah tambah galau lagi. Kembali ke tempat semula kami ngumpul, makan semangka. Saat Tina minta tolong motong semangka, mendadak Radith datang. Entahlah, dia mau minta semangka atau apa. Tapi yang pasti dia tidak berkata apapun. Saat itu sedang ngumpulin nyawa buat nanya “kenapa gak ikut mandi di pantai!?”, lalu kemudian basa-basi sampai akhirnya “jalan yuk..”. Nahh, kebetulan Isur nanya duluan sebelum aku sempat bertanya, sumpah ini kebetulan banget. Dia juga nanya, “kenapa gak ikut mandi di pantai!?”. Padahal kan masih banyak pertanyaan lain seperti “rumah kamu dimana!?”, “golongan darah kamu apa!?”, jadi aku bisa bertanya “kenapa gak ikut mandi di pantai!?” dan kemudian basa-basi. Oya, terimakasih buat yang sudah perhatian seperti Haifa, Amel, Maida, Novia, Anas, dan lainnya (walau sebenarnya ingin diperhatikan Radit walau mustahil lagi), serius aku gak kenapa-kenapa. Aku gak mabok perjalanan, aku gak sakit, cuma pengen tidur aja tapi gak bisa. Saat berpapasan sama Radith entah di bis atau di pantai, jangan kan untuk bertanya “kenapa har!?” bahkan senyummu pun tak terlihat. Dasar kau muka tebal. Dalam perjalanan pulang, aku sangat ingin tidur. Saat hampir terlelap, ada bunyi cemilan dan mendadak bangun. Beberapa kali seperti itu. Makasih cemilannya buat Amel cs. Akhirnya bisa tertidur pulas sekitar 30 km sebelum Banjarmasin. Sesampainya di kost Uya, semua motor yang nitip disana ban nya bocor. Ini ulah manusia, gak mungkin bocor bareng tidak sengaja. Sebelumnya dikira kemps doang. Bahkan motor Basil dan Muja terlalu banyak lubang sehingga tidak bisa ditambal lagi. Mungkin anak kost atau ibu kost marah karena banyak motor tidak dikenal parkir tanpa permisi. Korbannya adalah aku, Basil, Muja, Aji, Isur, Erik. Aku, Basil, Isur, Mirza memutuskan shalat di masjid kampus sementara Dendi nyari ban buat Basil karena di tukang tambal gak ada, sementara Muja dan Erik di tempat tambal ban yang berbeda. Sesampainya dirumah, ternyata ada Madan yang aku kira pulang ke Pelaihari. Malam itu kita jalan.

Kamis.
Tidak ada rencana yang jelas. Edwin cs ngajakin nonton, tapi masih belum jelas. Yuni juga ngajak jalan. Yuni pernah pacaran sama aku juga dulu, entah mantan yang keberapa. Dia hari ini ke Banjarmasin sama ayahnya. Dan ayahnya ke Banjarmasin ada rapat, nah sementara itu dia ngemall, yang ini juga masih gak jelas. Dan aku juga lagi ngumpulin nyawa buat ngajak Radith jalan, sebelumnya cuma mincing kalau-kalau dia paham. Sampai akhirnya nyawa sudah terkumpul dan ternyata dia sudah jalan sama Rina. Hujan lokal menggambarkan perasaanku, saat disana bisa bahagia, disini hanya bisa bersedih. Akhirnya memutuskan untuk mencuci pakaian kotor yang menumpuk. Itupun baru dicuci untuk sesi yang pertama, masih banyak yang belum. Malam hari Madan ngajak jalan, tapi aku masih nunggu sepupu kandung yang mau kerumah, katanya sih mau minjam duit. Sesampainya dirumah, dia beneran minjam duit. Katanya mau minjam 30 ribu rupiah. Dan ternyata aku ada nya 50 ribuan, gak cukup untuk 30 ribu, yasudahlah aku beri saja. Masa sama sepupu masih saja perhitungan!? Sementara teman saja bisa ditraktir makan. Sumpah, pengeluaran minggu ini membludak. Duit yang sengaja diselipkan ditempat tersulit dalam dompet pun semuanya terbongkar dan bersisa 100 ribuan lebih. Setelah sepupu selesai, jalan sama Madan dan akhirnya mampir di warung Alan. Sesudah makan, keliling sebentar dan pulang. Oya, sempat mampir di minimarket beli peralatan begadang semacam cemilan. Rencananya mau nonton Jerman malam ini. Tamat

Kesimpulannya dari kejadian beberapa ini, sepertinya aku masih dicampakkan. Percuma saja apa yang kuperbuat. Kesempatan memang datang berulang kali, namun tidak satupun yang bisa ku manfaatkan. Saat makan bareng, tak ada sedikitpun pembicaraan yang menyangkut tentang hal melurusakn hubungan kita yang sudah sangat rumit. Saat di pantai, tak ada sedikit pun kata yang bisa terucap. Dulu dia memang sempat perhatian padaku, “sudah makan!?”, “sudah shalat!?”. Sempat membuatku sedikit berguna, “har, tukarkan makan pang..”, “har, antarkan aku pang..”.

Beberapa hari terakhir aku memang sedikit mecoba memperhatikannya, “sudah makan!?” dibalas “belum” Sebenarnya aku ingin basa-basi dulu dengan membalas, “makan sanaa” dan berharap dia balas, “tukarkan pang..”. Tapi karena dia tak mungkin membalas seperti itu, maka aku langsung nanya ke intinya, “mau makan diluar atau dibawakan makan ke kost aja!?”. Walau ujung-ujungnya dia nolak juga.

Masih banyak harapan maupun rencana yang masih belum terwujud.

Seandainya kamu bisa jujur. Itu pasti akan membuatku lebih tenang. Mungkin tidak ada lagi keraguanku untuk berbuat ini itu. Tak ada lagi istilah ngumpulin nyawa. Dengan kejujuranmu itu, aku bisa berbuat ini itu atau tidak sama sekali.

Selama masih bisa kulakukan, pasti akan kulakukan

Random banget nulis ginian. Awalnya mau nulis tentang pantai, malah curhat gak jelas ini. Bisa jadi ini adalah tulisan terpanjang yang pernah kubuat. Tercatat lebih dari 4000 kata yang dimuat dalam tulisan ini. Delapan halaman untuk ukuran font 10 dan spasi 1. Kalau saja ini adalah proposal PKM, mungkin akan sedikit lebih tenang. Andai membuat proposal bisa semudah curhat.

LOVE IS YOU. I YOU YOU. #KODE. #CAPSLOCKDAY#

LOVE IS X. I X YOU. #MASIHCAPSLOCKDAY

RASA SESAL TAK AKAN BISA MERUBAH SEMUANYA, MAKA DARI ITU AKU TERUS BERUSAHA.

I WAS REALLY SURE YOU ARE MY FLANK.

One thought on “Selama Masih Bisa Kulakukan, Pasti Akan Kulakukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s