Berat

Berat badan kadang jadi masalah besar bagi beberapa orang. Sebagian besar yang mempermasalahkannya adalah yang kelebihan dan yang kekurangan. Walau tergolong yang kekurangan, aku berusaha untuk tegar dan tetap melupakannya.Bukan berarti aku sepenuhnya mengabaikannya. Aku selalu berusaha mencoba agar bisa lumayan berisi, namun apa daya takdir berkata lain.

Aku bukanlah orang kurus sejak lahir. Aku juga mengalami masa kejayaan, mungkin sekitar 10 atau 15 tahun lalu. Kulihat pada foto diri jaman 90an yang terpampang di dinding rumah. Foto jaya saat aku digendong mesra oleh mama.Lalu foto jaya dengan pisang di tangan kanan pada sebuah studio photo daerah Pelaihari.

Saat SMP, mata pelajaran Matematika, bahasan peluang, semua murid ditimbang berat badannya. Saat itu berat badan masih kepala 3. Cukup malu sih saat kebanyakan sudah kepala 4, aku masih mentok di 3. Saat bikin SIM, tes kesehatan, nimbang berat badan, 48 kg. Sempat khawatir sih, takutnya tidak lulus pada tes kesehatan karena berat badan.

Bukan hanya mengalami masalah berat badan, ternyata dulu aku juga mengalami masalah tinggi badan. Sampai kelas 1 SMA, tinggi badan ku masih terbilang dibawah rata-rata. Tapi kelas 2 sudah mengalami perubahan, sampai kelas 3 mengalami perubahan drastis. Sengaja atau tidak, ternyata dengan meminum susu rutin ternyata menjadi salah satu faktor pertumbuhan badanku. Bukan berarti aku sengaja meminum susu rutin untuk memperpenjang tingi badan, itu diluar dugaan. Saat itu dipaksa mama untuk minum susu rutin. Mungkin salah satu faktor lainnya adalah saat itu sedang gemar berenang. Ditambah ada pembelajaran renang pada mata pelajaran olahraga kala itu. Sedikit berbicara tentang renang, aku sama sekali tidak mendapatkan pelajaran berharga saat itu. Kenapa begitu!? Ternyata orang yang sudah pandai berenang seperti aku, sangat diabaikan saat itu. Saat yang lain sedang belajar untuk menyelam, belajar untuk mengambang, hingga belajar berenang, orang sepertiku datang ke kolam renang hanya berniat untuk mengisi absen, lalu nggak tau arah dan tujuan. Tes akhirnya adalah seberapa jauh berenang. Jangan ditanya, aku bahkan bisa bolak-balik sepanjang kolam renang tanpa henti. Ternyata ada hikmahnya pernah tinggal di kampung, padahal jaman SD dulu aku sangat benci kolam renang. Saat semester awal kuliah, Qiqi sering ke kolam renang pada akhir pekan. Saat itu, adik kelasku ini sedang duduk di kelas 2 SMA. Sepertinya sih belajar renang.

Pada nyatanya, aku berada di keluarga yang memang kekurangan berat badan. Selain papa dan mama, adik perempuanku si Aidha sudah kehabisan masa jaya nya. Dulu si Aidha juga sempat montok. Mungkin siklus perkembangan berat badan anak papa dan mama memang begitu, lihat saja adik laki yang sedang mengalami masa jaya. Iya kurus, bukan berarti aku sepenuhnya mengabaikannya. Aku juga makan teratur seperti lainnya. Bahkan dalam keluarga kecil, mungkin aku adalah orang yang makannya paling banyak dirumah. Mama juga pernah beli obat cacing, namun tidak memberi efek sedikitpun pada berat badan. Aku juga pernah beli sendiri semacam vitamin, nafsu makan emang nambah tapi berat badan tak kunjung bertambah. Bahkan aku juga pernah beberapa hari nahan poop. Niatnya supaya bisa menuhin badan dengan segala yang dimakan tanpa terbuang sedikitpun. Ehh malah dikatain mama, “Bukan nya gendut malah ta* nya yang numpuk diperut!”. Dan akhirnya sekarang aku berhenti melakukan hal semacam itu. Walau sesekali aku masih nahan poop buat bahan becandaan sama mama.Daripada memikirkan untuk menambah berat badan, sekarang aku malah lebih memilih memikirkan untuk bagaimana caranya bisa gratis internetan. Niat untuk nambah berat badan, sekarang cuma pikiran lewat saja. Kadang kepikiran, walau lebih banyak mengabaikannya.

Perubahan berat badan anak Alchemist juga terlihat saat buka puasa bersama sekaligus reuni kecil 17 Agustus lalu. Orang pertama yang kulihat gendutan adalah Kukuh. Karena kebetulan yang mengurus acara adalah aku dan Kukuh. Aku pun berkata, “Subur Kuh!!” dan dia malah jawab, “Alhamdulillah”. Kemudian Novi. Sore itu saat beberapa orang perempuan termasuk aku menyiapkan takjil dirumah Ayu, mereka bertanya, “Har, siapa yang paling gendut!?”. Aku nya reflek berkata, “Novi!!”. Padahal semuanya terlihat kurang lebih dengan pakaian longgarnya. Kebetulan menuju rumah makan aku sama Novi pakai motor dia. Dengan sedikit guyonan, “Vi, kok motornya berat sih!?”. Dan akhirnya Novi terbukti nambah gendut saat memberi tahu berat badannya. Selanjutnya adalah Lisa. Dia sendiri yang dengan PD mengaku bahwa dia jadi montok sekarang.

Lebaran pun jadi masalah yang lumayan berarti bagi mereka yang kelebihan. Sebagian besar menjalani lebaran seperti biasanya, namun kemudian diet mati-matian dengan alasan puasa Syawal. Salah seorang yang mengalami perubahan drastis usai lebaran adalah pengamen kafe kampus.

Dan ternyata berat badanku sekarang adalah 53 kg, baru tadi siang nimbang diri saat nggak ada kerjaan di ruang dosen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s