Bertahan

Kucoba tuk bertahan..
Dalam kisah ini..

Kuliah itu pendewasaan. Perjuangan terbesar saat hidup mungkin dari sana. Ketika aku memutuskan untuk masuk dunia kampus, suka atau tidak suka, nyaman tidak nyaman, aku harus menjalaninya. Gampang saja jika aku mau keluar, aku cuma akan mengundurkan diri secara tidak hormat. Yang susah adalah bagaimana untuk bertahan. Banyak rintangan yang telah aku lewati bertahun lamanya. Pembelajaran, cinta, keuangan, gadget, bahan bakar, sampai gaya rambut turut andil memusingkan hari-hariku. Organisasi maupun komunitas juga turut hadir di kehidupan kampus.

Awal perkuliahan, ketika dihadapkan dengan pilihan masuk organisasi atau kuliah, aku lebih memilih kuliah seperti tujuan awalku untuk yang disekolahkan ke luar kota. Organisasi kampus yang tidak beruntung itu adalah bernama PIK-Ma Unlam dan LPM-Kindai Unlam. Ternyata aku salah, saat itu aku tidak melihat dampak positif apa yang akan terjadi kedepannya. Kemudian pada tahun berikutnya mencoba peruntungan di organisasi lingkup Prodi dan organisasi lain lingkup Fakultas. Himaptika FKIP Unlam dan BLM FKIP Unlam. Di Himaptika lebih dihargai, gampang untuk bertahan. Tapi di BLM antara ada dan tiada. Bukan aku yang bermasalah dengan BLM, tapi BLM nya lah yang bermasalah dengan dirinya sendiri. BLM semacam organisasi semu. Bahkan usulah “base camp” BLM belum di”iya”kan pihak Fakultas hingga sekarang. BEM jauh lebih dihargai di masyarakat sekitar Fakultas. Dampak aktif di Himaptika pun sudah terasa, bisa kenal bahkan akrab dengan sebagian besar senior kampus. Juga lumayan dikenal junior (walau hanya saat ospek). Namun dampak negatif juga tak ketinggalan, dunia belajar mulai terabaikan. Kesalahan adalah ketika meninggalkan teman sekelas demi organisasi kampus. Teman sekelas adalah aset penting untuk nilai bagus. Sering masuk telat, boring karena waktu kuliah yang terlalu lama, dan dosen dengan kriteria tertentu ternyata juga jadi hambatan yang paling bersar selain organisasi. Aku sudah terlanjur masuk dalam Himaptika dan BLM, suka atau tidak suka, nyaman tidak nyaman, aku harus menjalaninya. Dan akhirnya aku juga mampu bertahan.

Selain dalam kampus, aku juga mencari peruntungan lian diluar kampus. Dengan keberanian diluar batas kemampuanku. Aku bergabung dengan Sahabat Peterpan (saat itu). Aku hadir bersama beberapa teman angkatan pertama waktu itu. Aku bergabung atas kemauanku sendiri. Aku dihargai. Dan aku nyaman untuk bertahan disana. Turut serta menjadi panitia pada beberapa acara yang diselenggarakan Sahabat Peterpan. Aku juga dinobatkan sebagai pengurus. Walau struktur kepengurusan masih tidak jelas waktu itu. Semakin hari semakin bertambah banyak anggota Sahabat Peterpan yang sekarang sudah berganti jadi Sahabat Noah. Bukannya semakin dewasa, permasalahan dalam komunitas malah menjadi masalah yang selalu diabaikan tanpa ada penyelesaian. Kebanyakan adalah masalah pribadi antar anggota. Aku juga seringkali mendengar berbagai curhatan, yang kulakukan hanya diam. Aku tidak mau ikut campur, biarkan permasalahan itu hilang tanpa penyelesaian. Selain di Sahabat Noah, aku juga punya komunitas genre sosial yang bernama Earth Hour. Entah apa yang mendasari aku bergabung disini. Aku hanya bergabung. Ternyata tidak ada kecocokan, tidak nyaman, dan merasa terabaikan. Aku gagal bertahan disini. Hanya sempat sekali ikut berkampanye di SMA Negeri 7 Banjarmasin. Setelahnya aku tidak ada komunikasi mendalam. Aku gagal bersama Earth Hour. Aku mengundurkan diri dengan tidak hormat.

Pada BLM aku keluar dengan hormat karena masa kepengurusan sudah habis. Aku tidak melanjutkan kepengurusan karena aku yakin tahun berikutnya BLM masih sama. Daripada aku membuang waktuku. Niat keluar dari BLM pun sepertinya tidak didukung di Himaptika. Bukannya menjabat sebagai pengurus satu tahun lagi, aku malah jadi Dewan Penasehat yang secara tidak langsung dibuang dari organisasi. Hanya beberapa orang yang masih menganggapku ada, beberapa orang masih menghormatiku. Namun nyatanya aku jadi nol besar di organisasi kampus. Aku keluar dengan hormat di BLM maupun Himaptika.

Namun tidak dengan komunitas diluar kampus. Keluar dari Earth Hour, malah membuatku semakin nyaman di Sahabat Noah Kalimantan Selatan yang kemudian disebut Sahabat Kalimantan Selatan atau Sahabat Kalsel. Setelah dua tahun kepengurusan, makan kepengurusan baru dibentuk. Aku sangat dihargai, terlebih dinobatkan sebagai Wakil Ketua Umum Sahabat Kalsel. Misi utama kepengurusan baru adalah menjadikan Sahabat Kalsel menjadi komunitas yang berkualitas. Masalah kuantitas, jangan diragukan lagi, aku yakin Sahabat Kalsel merupakan komunitas musik dengan jumlah anggota terbanyak. Namun apa yang diperoleh? Terdaftar sebagai member resmi, dengan ID Card hanya disimpan. Lalu apa? Yang penting sekarang adalah bagaimana untuk bertahan. Bertahan di Sahabat Kalsel maupun di dunia perkuliahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s