Puasa Tanpa Niat

Sudah hampir seharian aku puasa tanpa disengaja, tanpa niat. Egoku sekarang lebih besar daripada lemak ditubuhku. Dehidrasi, cuaca panas, lapar dan sakit kepala teraduk jadi satu. Egoku menang, tidak akan kemana-mana dulu jika tidak dijemput.

 

Kekecewaan sudah dimulai sejak kemarin sore. Saat dia kuliah, dan saat itu pula aku dirumah Edwin. Ditawarin makan sama Edwin, tapi aku ingat kamu. Kemungkinan kamu juga lapar, nanti makan sama kamu aja. Baru sekitar lima belas menit dirumah Edwin, disuruh jemput. Satu pertandingan PES pun belum selesai. Akhirnya bergegas berangkat, takut dia nunggu lama karena rumah Edwin lumayan jauh dari kampus. Aku jemput, kemudian aku sama dia ke kost untuk ngmabil motor aku yang hampir seharian dibawa Dendi yang lagi malas bawa motornya.

Sesampainya di kost, mereka masih belum menampakkan motorku, masih dibawa. Aku pun ngantar dia ke kost, berharap dia bersiap lalu kita berdua makan ke KFC. Dengan alasan yang tidak jelas, batal ke KFC. Niatku mau menggantinya dengan makan pentol kuah dulu, lalu malam makan nasi. Ternyata ditolak juga, aku pun mulai kecewa. Aku pulang bawa motor dia. Dendi bilang motorku dibawanya kerumah. Aku bingung. Tidak bisa barter, karena aku sedang memakai motor Desy. Motor Dendi ada di kost, tapi kunci motor ada dirumah Dendi. Iya, Dendi bikin ribet. Ditambah senja itu hujan gerimis mulai turun. Kemungkinan dia sedang lapar, akhirnya menerpa gerimis yang dinginnya menusuk kulit hanya untuk mencari makan buat dia dan aku juga. Duit di dompet sisa 30ribu. Memang sudah berniat pulang hari ini, tapi tertunda hingga Dendi menculik motorku. Sekitar sejam setelah makan, baru Dendi datang kerumahku. Akhirnya kami ngantar motor Desy, kemudian ngambil motor Dendi ke kost. Dari kost, rencananya aku mau langsung menuju Pelaihari. Tapi kepala makin sakit, dan mata mulai ngantuk. Memang sedari siang tadi mulai sakit kepala, mungkin karena begadang. Akhirnya batal pulkam. Bensin tiba-tiba berkurang banyak, padahal kemarin sidah ngisi full buat pulkam hari ini. Rupanya Dendi keliling Banjarmasin sama Saddam. Di dopmpet juga tersisa 10ribu. Batal pulkam. Dari kost mau pulang kerumah, baru sadar air galon dirumah sedang kosong. Berniat minta air minum beberapa botol dari Desy. Saat dalam perjalanan sambil nelpon Desy, tapi tidak diangkat juga. Mungkin dia sudah tidur. Akupun langsung pulang kerumah. Sampai rumah, eh dia ngirim sms, ‘Kenapa nelpon?’. Aku jelaskan saja mau minta air. Terus dia bilang, datang aja ke kost. Tapi aku sudah rebahan, kedinginan pula. Sudah siap tidur. Pada sms selanjutnya, dia jelaskan kenapa dia tidak ngangkat telpon. Karena dia sedang telponan sama Fau. Alasan yang mengecewakan. Saat, itu kekecewaan sudah memuncak.

 

Bukan pertama kalinya aku diabaikan. Kenapa disaat yang tidak tepat? Disaat aku memerlukannya, dia tidak ada. Iya, memang sejak awal kenal, kami memang hampir tiap hari ketemu. Tapi kenapa saat aku memerlukan sesuatu, kenapa tidak bisa ketemu? Dihari ulang tahunnya, seharian dihabiskan bersama teman-temannya. Aku yang sudah siap dengan segala sesuatu yang spesial, terabaikan. Jam 10 malam baru ada waktu buat aku, hal yang tadinya spesial tidak lagi spesial. Hampir sejam penuh hanya melihat dia menangis meratapi kekecewaan mengabaikanku. Berjuta maaf tidak akan bisa membuat hari yang spesial itu benar-benar spesial. Kemudian hari dimana aku sedang menggebu untuk meresmikan hubungan kami, hari itu juga batal karena tidak bisa ketemu. Kemudian hari ulang tahunku, yang memang tidak ada kejutan karena kami berada pada kota yang berbeda saat itu. Yang itu bisa kumaklumi. Yang masih jadi misteri, kenapa tidak ada kado sampai sekarang? Sebegitu tidak pentingnya kah aku? Aku pernah lihat kamu yang sedang merayakan ulang tahun pacarmu dulu, yang sekarang jadi mantanmu. Betapa bahagianya dia. Bisa bersama orang spesial di hari spesial, dapat kue, pasti dapat kado juga. Aku? Ulang tahun bukanlah hari yang spesial, tidak ada kue spesial, tidak ada kado spesial juga. Miris.

 

Akhirnya malam itu terlelap bersama sakit kepala dan kekecewaan. Terbangun di pagi hari dengan sakit kepala yang berkurang dan kecewa yang hampir terlupakan seperti biasanya. Jam 10an sakit kepala mulai lagi. Saat itu juga ada kabar Desy ngajakin makan. Akhirnya aku mandi. Aku minta jemput, dia tak mau jemput. Kali ini egoku memuncak, mungkin karena kepala yang sedang sakit yang membuatku berpikir pendek. Tak ada kabar sampai siang, dan aku nonton film selagi nunggu. Dan ternyata ada kabar dia sudah makan. Ini kampret banget. Aku semakin kecewa. Inikah balasannya aku berlapar-lapar kemarin sore? Aku abaikan makan gratis dirumah Edwin supaya bisa makan bareng kamu, karena aku peduli. Egoku membludak, aku tidak mau makan jika tidak dijemput atau dibungkuskan makan. Membunuh diriku sendiri, tapi egoku menang. Otakku tidak bepikir seperti biasanya, karena sakit mungkin. Aku akan puasa sampai malam tiba. Kecuali jika dijemput atau dibungkuskan makan.

 

Break, aku ingin tenang sejenak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s