Hanya Cemburu

Rasa sayang yang berlebihan mampu membuat cemburu yang berlebihan pula. Sengaja baca tulisan dia, puluhan tulisan singkat yang dia tulis di note blackberry-nya. Memang sebagian tulisan itu tentang aku, tapi sebagian lainnya benar-benar membuatku sakit hati. Akhirnya aku tau bagaimana rasanya cemburu yang berlebihan. Bukan hal yang biasa menulis tentang mantan pacar dan mantan gebetan disaat kamu sedang bersama gebetan baru. Harusnya memori itu tidak perlu lagi ditulis, harusnya disimpan rapat-rapat dalam ingatan, atau bahkan dibuang dari pikiran. Ini sudah pernah kubahas dengannya.

Kalau anti mantan, kenapa ditulis? Kalau bukan apa-apa, kenapa ditulis? Terinspirasi dari tulisanku? Iya aku memang salah punya tulisan tentang mantan pacar dan mantan gebetan di blog ini. Tapi itu saat aku memang bersama mereka. Bukan seperti kamu yang saat bersamaku. Ingin membuatku cemburu? Hebat, aku akui cara itu memang ampuh. Tapi tidak dengan berhubungan baik dengan mereka juga. Pandangan terhadap ‘anti mantan’ ku berbeda dengan pandangan kamu. Mantan terakhir benar-benar mantan yang benar-benar ingin aku jauhi. Aku benar-benar menjaga jarak dengannya, tidak berkomunikasi, tidak bertegur sapa, dan tidak segalanya. Kemudian si cinta terbesarku sebelum kamu, si dia. Aku masih buta karena dia walau aku sudah punya gebetan baru waktu itu. Tidak mudah memang menghilangkan rasa itu, apalagi ketika kami satu kelas. Aku juga berusaha jaga jarak dengannya, dengan tidak menghubunginya lewat pesan singkat. Tidak berteman dengannya di BBM, sampai akhirnya si Muja yang diam-diam bajak BB aku invite dia di BBM. Bahkan sampai sekarang tidak berteman di Path dan Instagram. Harapanku adalah tidak lagi bertemu dengannya, itu hanya akan membuatku ingat betapa bodohnya aku dulu. Untungnya ada kamu yang bisa menggantikan dia. Benar-benar tergantikan.

Aku yang betapa bangganya mengenalkan kamu dalam kehidupanku, teman sekolahku, teman kuliahku, keluargaku, bahkan tetangga pun mulai kenal dengan kamu. Tidak sedikit dari mereka yang mengganggap kamu adalah pacar aku. Bagaimana denganmu? Apakah temanmu mengenalku? Sebagai hanya sebagai teman kuliah? Sebagai kakak tingkat yang hanya membantuk adik tingkatnya?

Mungkin karena muda, kamu masih punya hasrat untuk bermain cinta. Aku yang tergolong tua sudah tidak bisa lagi. Sudah belajar dari pengalaman sendiri, jangan sia kan kesempatan yang ada. Pada hubungan terakhirku, aku masih mempermainkan perasaanku sendiri sehingga berdampak pada retaknya komunikasi.

Aku benar-benar cemburu, apalagi akhir-akhir ini kamu mulai menutup-tutupi chat maupun sms. Sekarang mulai tertutup. Aku tidak pernah tau kenapa kamu mulai seperti ini. Saat hubungan kita masih baik-baik saja, aku tidak khawatir.

Untuk sementara aku hanya ingin mengurangi rasa cemburuku. Jangan sampai masalah ini jadi masalah utama dalam hidupku. Masih ada masalah yang harus lebih diutakamkan, skripsi!

Pikiranku pun mulai aneh akhir-akhir ini. Teringat saat kamu dulu pernah ngajak taruhan untuk berlomba cari gebetan baru. Dan yang ada dipikarannku saat ini, geebetan baru kamu nanti itu adalah orang yang masih berhubungan baik dengan kamu. Atau ada saatnya nanti kita bertengkar hebat, dan kamu dan aku akan berjalan sendiri. Kemudian kepada mereka kamu akan berpaling, mereka yang masih mengharapkanmu karena masih berhubungan dengan kamu. Pikiranku benar-benar kacau.

Aku masih bisa meredam rasa cemburuku untuk mantan gebetanmu maupun mantan pacarmu, tapi tidak untuk si pramuka. Perlahan aku mulai tau beberapa mengenai dia. Ternyata dia si mantan terakhirmu. Dia orang yang ulang tahunnya kamu rayakan. Dia yang ada di foto itu. Betapa manisnya kamu di foto itu, sayangnya kamu bersama dia. Aku mulai membandingkan diriku dengannya, dan aku tidak menemukan apa lebihnya aku dari dia. Si anak camat itu bahkan bisa membawamu keliling Banjarmasin atau mengantarmu pulang ke Rantau dengan mobilnya nan mewah itu, aku bisa apa? Kamu adalah orang yang patuh dengan orang tua. Hampir semua yang dikatakan orang tua pasti kamu turutin, bahkan yang kamu tidak tau kebenarannya. Mungkin saja nanti kamu dijodohkan dengan si anak camat itu karena orang tua kamu yang ketua rt, dan kamu pun akan patuh. Sementara aku? Bahkan perkataanku bahwa ‘jalan menuju Kotabaru itu pasti melewati Pelaihari’ saja tidak dipercaya oleh orang tua kamu. Aku bisa apa? Bahkan banyak lagi kelebihannya yang tidak mampu aku saingi. Beruntungnya aku punya kamu, dan dia tidak (untuk saat ini).

Aku mulai mencoba mengurangi rasa cemburuku. Mengurangi rasa sayang pula. Aku berharap rasa cemburuku benar-benar bisa berkurang. Sehingga saat hal yang tidak diinginkan itu benar-benar terjadi, aku tidak terlalu sakit hati. Aku memang penyabar, tapi kesabaranku ada batasnya juga. Sama seperti manusia lainnya. Maafkan aku, aku hanya cemburu :’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s