Apa Kabar?

Apa kabar? Kenapa tidak ada kabar?

Tiba-tiba terjadi suatu perbincangan dengan David. David berkata, “Aku benci ketika dia sibuk, tapi tetap berusaha untuk berkomunikasi. Pernah suatu ketika dia sedang ada kegiatan di oranisasi. Dia masih bisa berhubungan denganku lewat sms, tapi balasnya lamaaaa. Iya, niatnya baik hanya saja komunikasi kami jadi tidak menyenangkan. Dia tidak menyudahi komunikasi itu. Kalau sibuk, yasudah, aku juga paham kok. Tapi dia tetap ingin berkomunikasi. Akhirnya aku memutuskan hubungan itu dengan mematikan ponselku.”

Dari pembicaraan dengan David itu, ternyata bukan cuma aku yang benci pada situasi seperti itu. Aku dan David tergolong egois, mungkin lelaki lain akan merasakannya juga. Apalagi ketika aku merasakan hal secamam teraibaikan. Ketika aku tau dia sedang sibuk, aku memakluminya kalau dia tidak sempat menghubungiku. Aku selalu berusaha tidak mengganggu kesibukannya, tapi terkadang aku tidak tahan kemudian menghubunginya dan ternyata dia merasa tidak terganggu. Yang tidak bisa aku maklumi adalah ternyata saat sibuk masih sempat ganti status BBM, dan tidak menghubungiku. Itu terjadi kemarin sore. Saat dia sedang ada acara, lalu sempat saja ganti status BBM, akhirnya aku chat. Kemudian chat kuakhiri karena takut mengganggu kesibukannya. Aku menunggu. Terus menunggu sampai dia selesai dan kemudian memberi kabar. Lalu apa yang terjadi? Dia ganti status BBM yang isinya menyampaikan bahwa dia dalam perjalanan pulang. Tidak sempat memberi kabar, tapi sempat ganti status? Aku merasa terabaikan. Malam juga tak ada kabar, aku pikir dia langsung istirahat karena capek setelah seharian acara. Pagi hari bangun tidur masih nggak ada kabar. Sekitar jam sembilan dia ganti DP dan ganti status, “adik kerja, cari uang”. Mungkin dia sedang bantu mama. Aku masih sabar untuk tidak mengganggu kesibukannya. Mungkin ada waktunya dia sedang tidak sibuk, kemudian berkomunikasi denganku. Aku sabar menunggu. Karena aku yang tidak ada kerjaan sekarang, kerjaanku hanya menunggu dia saat tidak sibuk. Sore hari baru dia chat aku. Aku pikir dia sudah selesai dengan kesibukannya. Ternyata dia cuma bilang seharian tidur karena semalaman begadang. Jadi status pagi tadi maksudnya kerja itu tidur? Lalu chat itu tiba-tiba terputus ketika dia bilang mau kerja lagi. Selalu begini. Dia selalu seratus persen untuk organisasi. Semalaman untuk organisasi, tak ada kabar. Memberi kabar hanya beberapa detik. Apa susahnya bilang, “aku sudah selesai, aku mau pulang” secara pribadi, bukan melalui status. Apa susahnya bilang “aku malam ini mau ke sekolah, ada acara”. Itu akan lebih membuatku menjadi lebih berharga.

Mungkin aku terlalu posesif. Kamu pernah bilang, kita bukan anak-anak lagi. Tidak perlu pacaran kayak anak-anak lagi. Tidak perlu harus selalu aku memberi kabar setiap saat. Tapi aku khawatir, aku selalu khawatir. Aku hanya bisa memantau cara berteman kamu melalui chat, melalui sms. Dan jarang caramu itu menyakitiku. Mengabaikan sakitnya perasaanku. Dendamkah aku? Haruskah aku membalas dengan melakukan seperti yang kamu lakukan? Tidak, tidak pernah terpikir sedikitpun untuk membalas sakitnya perasaanku. Karena itu hanya akan memperkeruh suasana, bukan memperbaikinya. Berulang kali aku tegaskan, jangan begini lagi, jangan begitu lagi. Aku hanya bisa memantau cara berteman kamu melalui chat maupun sms, tapi aku tidak bisa melihat kamu saat berteman secara langsung. Itu yang aku khawatirkan. Apa yang bisa aku lakukan? Cara berteman kamu melalui chat maupun sms saja seringkali membuatku sakit hati, apalagi berteman kamu secara langsung. Aku bisa apa? Kamu hebat dalam membuat alibi. Semoga alibi kamu benar.

David juga bilang kalau dia tidak suka saat pacarnya tidur di sekre ataupun di tempat kegiatan. Apa susahnya pulang dan istirahat dirumah? Aku tau David pasti khawatir kalau ada apa-apa. Aku sependapat.

Kamu selalu seratus persen buat organisasi. Kemarin kamu seharian acara di Banjarbaru, itu pasti melelahkan. Kemudian kamu masih bisa semalaman berkemah di Rantau. Tapi tidak sempat memberi kabar. Kalau bersamaku? Beberapa jam jalan-jalan, lalu kemudian kamu capek dan minta diantar pulang untuk istirahat. Kadang saat aku kangen setelah seminggu tidak bertemu, lalu bertemu, beberapa saat kita kangen-kangenan, kemudian kangen kamu hilang, dan berganti kemarahan tiba-tiba. Aku jadi serba salah, ingin menenangkan kamu, tapi semua yang aku lakukan dianggap salah dan membuat kamu tambah marah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s