Impian Kecil

Penduduk Afrika yang kekurangan air, impian mereka hanyalah air bersih ada di setiap rumah mereka. Sepele bagi kita yang berlebihan air, namun begitu berarti bagi mereka. Atau penduduk terpencil yang ingin pendidikan sewajarnya, sepele bagi kita yang tinggal di kota.

Impian kecil seseorang mungkin tidak berarti bagi orang lain. Atau mungkin impian kecilmu jadi impian besar bagi orang lain. Siapa yang peduli?

Liburan adalah suatu hari dimana kita bisa keluar dari kehidupan sehari-hari kita. Kehidupan normal yang biasanya dilakukan berulang-ulang setiap hari. Bagi seorang siswa atau mahasiswa, mereka akan dapat libur panjang di akhir semester . Bagi pekerja kantor, jangan harapkan itu ada. Untuk mereka para pekerja kantor, tidak ada libur semester, yang ada hanya libur sambil bekerja.

Semasa sekolah, kami selalu berencana liburan keluar daerah. Saat itu salah satu rencana tujuannya adalah Gua Batu Hapu, Tapin. Walau akhirnya tujuan kami adalah Pagat, Barabai. Itu adalah satu-satunya rencana yang terealisasi. Semasa kuliah, hampir setiap semester saya dapat liburan. Pantai, Gunung, Sungai, bahkan Pulau sudah dipakai untuk liburan. Sangat berbeda dengan saat saya menjadi siswa dahulu. Mungkin faktor budget mahasiswa yang sudah memadai untuk liburan, juga pengetahuan yang lebih luas saat jadi mahasiswa. Tapi tetap saja, kali itu Gua belum sempat dijajaki.

Liburan ke Gua Batu Hapu hanya salah satu impian kecil, siapa yang peduli?

Saya terlalu sering pergi Barabai sendirian, jadi skill untuk kegiatan pulang pergi ke Barabai jangan diragukan lagi. Namun saya paling anti untuk liburan sendirian. Siapa juga yang mau liburan sendirian? Ada yang mau? Saat ke Barabai, selalu melewati Tapin, selalu. Apadaya saya benar-benar malas untuk ke Gua sendirian. Saya ke Barabai juga sering untuk liburan, bersama sepupu menjelajah wisata Barabai, atau bahkan menjelajah wisata Kandangan. Bersama kawan, menjelajah Amuntai, bahkan menjelajah Tanjung.

Saat masih pacaran dengan dia, saya juga sering ngajak dia ke Gua. Itu juga karena dia memang asli manusia asal Tapin. Dan apadaya dia selalu menolak pemintaan yang itu. Alasannya adalah karena Gua lumayan jauh dari rumahnya, dan Gua disana biasa saja, katanya.

Impian kecil ke Gua seringkali terlupakan, toh hanya impian kecil. Sampai akhirnya ada kakak perempuan yang suka bertualang posting foto saat dia di Gua, kakak yang saya kenal saat ospek kampus ini memang suka bertualang setelah lulus dan selalu posting di Instagram. Akhirnya teringat lagi akan impian Gua, dan menggebu lagi. Saat itu masih sering ngajak doi untuk ke Gua, tapi jawabannya ya tetap sama, ditolak.

Suatu hari, saya harus menghadiri resepsi pernikahan kawan sekolah. Resepsinya di Amuntai. Untungnya saat itu saya sudah lulus kuliah, dan masih kerja serabutan. Alhasil saya bisa menghadiri resepsi sekalian liburan. Selain ke Amuntai untuk resepsi, saya juga berangkat ke Tanjung. Sepulang dari resepsi menuju Pelaihari, saya ngajak kawan yang lain untuk mampir di Gua, untungnya mereka serentak bilang “IYA”. Ternyata Gua yang ini lebih besar dari Gua yang pertama saya lihat di Pagat, Barabai. Setelah puas, akhirnya kami pulang. Iya, begitu saja. Kadang apa yang direncanakan berbeda dengan yang Tuhan inginkan. Tetap bersyukur karena akhirnya sampai ke tujuan.

Bukan tentang tujuan, tapi tentang proses. Penduduk yang kekurangan air, pada akhirnya mereka dapat asupan air bersih tiap hari, dan masalah air menjadi biasanya saja. Bagaimana prosesnya? Mungkin mereka harus bersusah payah membuat sumur yang sangat dalam. Atau seorang anak desa yang akhirnya dapat pendidikan layak di kota. Bagaimana prosesnya? Mungkin dia belajar giat sampai akhirnya dapat beasiswa untuk sekolah di kota.

Saya punya tujuan untuk jadi manusia yang lebih baik. Bagaimana prosesnya? Saya punya tujuan untuk jadi manusia yang bertanggung jawab. Bagaimana prosesnya? Pada akhirnya semua tujuan tergantung pada prosesnya. Dan sekarang saya sedang berusaha untuk prosesnya. Ambil hikmahnya dan belajarlah dari setiap pengalaman.

Impian kecil tentang Gua sudah selesai, namun impian kecil lainnya masih berjejer untuk diselesaikan.

Salah satu impian kecil, yaitu Kalibiru Jogja. Saya berencana ketika cuti tahunan nanti, satu teman dijadikan partner untuk ngegembel di Jogja. Yap, itu rencana saya, entah apa yang Tuhan inginkan. Lalu bagaimana prosesnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s